Hari beranjak siang Inara tidak bisa tidur atau sekadar memejamkan mata, pikirannya berantakan meski sudah berkali-kali mencoba mengalihkan perhatiannya dengan membaca buku juga bermain smartphone-nya tetapi, lagi-lagi pernyataan Ravin terus menggema dibenaknya mengusik ketenangannya. Rasa bosan pun menyerang membuatnya menyerah akhirnya dan beranjak bangun untuk bersiap pergi Meski Harus mengabaikan peringatan Ravin.
Inara mengendarai mobilnya, pikirannya tidak sepenuhnya ingin pergi ke butik, Percuma saja bekerja Dia benar-benar tidak sedang dan mungkin hanya akan menghasilkan pekerjaan yang lain jadi lebih baik dia pergi entah kemana asal bisa menenangkan diri. Tetapi dering telepon berbunyi, nama Nadira tersemat di sana. Dijawabnya tanpa ragu, "Halo."
"Inara," sahut Nadira dari panggilan diseberang sana.
"Ada apa?" tanya Inara yang langsung khawatir ketika mendengar suara sengau Nadira.
"Kamu di mana?"
"Aku di jalan, tidak pergi ke butik."
"Sepertinya aku juga tidak bisa pergi ke butik." Nadira terdiam cukup lama, Lara menunggunya sampai bicara. "Aku melihat Bagas, Haruskah Kuikuti?"
"Nad, Apakah kamu pernah benar-benar serius dengan seorang pria?" Pertanyaan mendadak dari Inara karena baru kali ini, dia bisa melihat dan mendengar keseriusan sahabatnya Nadira ketika berhubungan dengan seorang pria.
"Apa baru kali ini, ya? Aku seperti ini?"
"Iya, baru kali ini kamu sering kali menyebut-nyebut nama Bagas. Sepertinya kamu udah jatuh cinta sama dia."
Diseberang sana Nadira tersenyum kecut, meremas tangannya yang berada disetir. "Tapi sepertinya batas terlalu lama menungguku dan akhirnya tidak setia."
"Apa yang kamu bilang?"
"Dia tidak seperti kemarin dulu. Dia berubah jadi cuek dan seakan tak peduli setiap aku menghubunginya."
"Kamu pengen cari tahu tentang dia?"
"Inara, aku butuh kepastian."
" Kalau begitu kamu dimana? Aku akan menjemputmu lalu, mari kita mencarinya."
"Tapi aku juga bawa mobil?"
"Lupakan saja mobilmu, cari sewa tempat parkir saja nanti, kita kembali ke sana. Sekarang kamu di mana?"
Nadira menyebutkan sederet alamat, Inara segera menghampirinya kurang dari satu jam. Wajahnya benar-benar tampak kusut tidak jauh berbeda dengan Inara.
"Ada apa dengan penampilanmu?"
"Entahlah, Pagi ini aku dibuat stress sama pria itu, b******k sekali," umpat Nadira tiba-tiba.
Inara mengangguk, "Oke, kalau dia memang tidak baik untukmu, untuk apa?! Lupakan saja pria seperti itu, padahal sebelumnya aku pikir dia pria yang sedikit berbeda hanya karena terlihat sangat menyukaimu."
"Kupikir juga begitu."
"Sebenarnya apa yang terjadi, sih, Nad? Kamu masih belum membalas cintanya,ya, sampai dia melarikan diri?"
Nadira menggigit bibirnya, sedikit mengangguk mengakui Jika dia belum secara langsung menerima cinta Bagas. "Tapi harusnya Bagas mengerti aku juga tidak menolak kehadirannya tidak seperti pria lain yang langsung aku usir."
"Kalau Bagas sudah seperti ini Apa kamu tidak mau mempertimbangkan Elvan?"
"Dia cintanya sama kamu, Nara, jawab Nadira cepat." Aku tidak yakin dia benar-benar akan serius denganku."
"Jadi kalau dia serius denganmu Kamu pasti mau?"
Nadira tidak menjawab malah menyandarkan punggungnya sambil melihat keluar jendela mobil. Saat ini dia tidak mau dipusingkan dengan orang bernama Elvan, lebih baik ya fokus dengan Bagas sekarang. Inara yang tidak mendengar jawaban Nadira tidak lagi repot meneruskan perkataannya, semua pilihan berada di diri masing-masing. Satu sama lain akan merasa bahagia jika, yang lain pun bahagia. Itu cukup bagi persahabatan mereka berdua.
"Di sini! Di sini!" teriak Nadira menyuruh Inara untuk berhenti, mereka Akhirnya sampai di tempat kost Bagas. Setelah pergi ke tempat kerjanya mereka tidak mendapati Bagas dan mama mendengar kabar jika pria itu telah keluar dari pekerjaannya.
Mereka diam menunggu terlebih dulu di pinggir jalan, melihat motor Bagas terparkir di depan kosnya Nadira sedikit lega, yang berarti kemungkinan besar Bagas berada di sana.
"Haruskah aku juga ikut ke dalam?" tanya Inara tidak yakin karena ternyata bukan hanya motor Bagas saja yang terparkir di sana tetapi, masih ada beberapa yang lain. Perasaanya tidak enak jika, keduanya masuk kedalam tetapi, juga tidak ingin Nadira pergi ke dalam sendirian.
"Aku pergi sendiri. Tidak akan lama jika dalam 15 menit atau 20 menit dia tidak kembali kamu bisa menyuruh seseorang untuk memanggilku ke dalam." Yah, Perasaan Nadira pun tidak enak kak karena apa yang motor-motor yang dilihatnya bukan motor pengguna biasa saja.
Inara setuju, lebih baik diam menunggu di mobil. "Ingat juga, berteriaklah yang keras bila terjadi sesuatu."
"Oke!"
Nadira langsung berjalan ke arah kos-an Bagas yang sederhana. Yang tanpa sadar sudah berdiri di depan pintu saking terlalu banyaknya Nadira berpikir dan tidak disangka apa yang dilihatnya sungguh membuatnya terkejut. Bukan hanya dirinya tetapi, sepertinya Bagas pun yang melihat Nadira berdiri di depan pintu kosannya sama terkejutnya bahkan, refleks pria itu berdiri.
"Nad," panggilnya lembut tampak bahagia lalu, seketika kemudian wajahnya menjadi gelap. Hal seperti itu beubah-ubah dalam beberapa detik namun akhirnya Bagas memilih wajah lembutnya dengan bibir penuh senyuman memandang Nadira yang malah membuat bulu kuduk Nadira meremang. "Ada perlu apa ke sini?"
Nadira mengepalkan tangannya rasanya hatinya Tengah diremas-remas hingga hancur. Baru saja yang dilihat Nadira Bagas tengah merangkul seorang wanita, bukan hanya itu di meja kecilnya tersebar minuman alkohol, rokok juga makanan ringan yang kotor. "Kamu serius bertanya kayak gitu?" Jawab Nadira dengan wajah yang mengeras. Jelas, dia bukan wanita lemah yang melihat kekasihnya merangkul wanita lain memilih akan menangis. "Jadi, kamu, tuh, kayak gini? Hah, bodoh banget. Harusnya Aku nggak pernah khawatir sama kamu. Kalau begitu permisi.Aku bakal pergi."
Bagas tidak ingin membiarkannya setelah setengah berlari dia cepat mengejar dan menarik tangan Nadira menahannya supaya tidak pergi titik Lalu menoleh ke belakang kepada teman-temannya. "Kalian semua pergi dulu dari sini," ujarnya sambil mengibaskan tangannya menyuruh teman-temannya untuk segera keluar rumah dan menarik Nadira ke dalamnya sambil menutup pintunya. Hanya mereka berdua dan Bagas tidak tahan tidak memeluknya awalnya Nadira menolak terus mendorong Bagas untuk menjauh, sayang Bagas selalu kuat kali ini dia tidak menyerah untuk membiarkan dirinya memeluk Nadira.
'Dira, gue kangen banget sama lo,' bisik hati Bagas.
"Cukup, Gas." Nadira merasa pengap dengan pelukannya yang terasa malah semakin erat. "Pengan, lu mau bikin gue mati?" Akhirnya bahasa keras Nadira kembali terucap.
Bagas pun melepas pelukannya menatap wajah Nadira sambil menyeringai, ingin mencium bibirnya tetapi, belum sampai dia lakukan Nadira sudah mendorong wajahnya menjauh penuh emosi. "Apa yang lo mau lakuin?"
Bagas tidak marah malah menarik senyum jahatnya. "Lalu, kenapa kamu ke sini? Kamu merindukan aku juga, bukan?"
"Merindukan bodohmu." Kesal Nadira. "Aku hanya memastikan Apakah kamu masih hidup atau mati."
"Apa urusannya aku hidup atau mati?" tanya Bagas penuh emosi, teringat gara-gara laki-laki sialan itu dia tidak bisa mendekati lagi Nadira.
"Tentu saja ...." Nadira tidak meneruskan perkataannya menjadi sedikit bingung dan malu karena baru pertama kali ini dia mengejar balik seorang pria. Teringat dengan wanita tadi di Nadira pun menghela napas. " jadi kamu sudah sama wanita tadi? Oke, take care. Semoga bahagia," ucapnya seraya berbalik.
Tetapi Bagas tidak membiarkannya dia memeluk Nadira dari belakang Lalu, menariknya untuk berbalik ke hadapannya dan menciumnya tanpa berkata-kata lagi.
Bola mata Nadira membulat tidak percaya apa yang dilakukan Bagas pria ini berani menciumnya bahkan melumat bibirnya tidak membiarkannya lepas dan hampir membuatnya sesak napas. Hanya geraman keras yang dilakukan Adira Sambil mencoba untuk mendorong tubuh Bagas agar menjauh dan melepas ciumannya.
Akhirnya, Bagas melepaskannya setelah puas kedua bibir mereka diikat benang Saliva. Sebelumnya, dia tidak berani melakukan hal ini pada Nadira tetapi, hari pengecualian.
Seluruh wajah Nadira ditutupi warna merah, entah itu karena sesak napas atau karena malu. Matanya pun tidak kalah berkaca-kaca dia kecewa dengan perbuatan Bagas kali ini. Cuman ini diluar persetujuannya. "Kamu berengsek," ucap Nadira sambil mengusap bibirnya, mencoba menghapus rasa ciuman itu.
"Dari awal aku memang b******k tapi, aku benar-benar cinta sama kamu."
Nadira menatapnya, seolah bertanya dengan matanya 'lalu, apa sekarang?' karena apa yang dia rasakan pria ini akan menyerah padanya.
"Sayangnya kan kamu nggak pernah cinta sama aku jadi, aku nyerah."
Senteng itu Bagas mengatakannya yang Malah semakin membuat hati Nadira tersiksa sakit hati. Bukankah awalnya Bagas bersedia menunggunya Lalu kenapa dengan cepat sekali berubah. "Kalau kamu sudah nyerah, ngapain kamu cium aku?"
"Itu hadiah perpisahan," jawabnya enteng.
Saat ini Nadira benar-benar ingin menangis. Dia berbalik membuka pintu dan pergi kali ini Bagas tidak menghalanginya lagi.