Lelucon yang membuat mual

1558 Kata
Nadira kembali pada Inara dengan wajah sembab masih ada bulir-bulir air mata yang sesekali turun meski Nadia sudah mencoba untuk menghapusnya berkali-kali tetapi, air matanya tetap saja turun. Inara yang melihat hal tersebut segera keluar dari mobil dan menghampiri Nadira, langsung memeluknya dan segera membimbingnya untuk masuk mobil. Di dalam sana keduanya tidak sama sekali mengatakan apapun sampai di tempat tujuan. Inara baru saja menyelesaikan pesanannya. Di atas meja sudah tersedia sesuai pesanannya, di depan miliknya adalah coklat panas sedangkan Nadira cappuccino, tidak lupa dua piring cake tiramiisu dan carot. "Wajahmu sangat sembab dan itu jelek sekali," ujar Inara sedikit bergurau. "Oh,ya, pasti jelek banget, ya," sahut Nadira sambil mengusap-usap kelopak matanya memastikan bahwa tidak ada lagi air mata, sekarang dirinya sudah bisa mengontrol diri sekaligus. "Iya tapi, sekarang lebih baik. Ayo, kita kumpulkan lagi tenaga kita yang baru saja terkuras." "Aku masih gak tahu kenapa apa Bagas bisa dengan cepat berubah, " tutur Nadira tiba-tiba. Inara menatapnya,mencoba memahami diri Nadira lalu tersenyum menenangkan sambil memegang tangan Nadira menguatkannya. "Si Bagas masih seorang manusia Jadi, jangan terlalu kaget jika, dia bisa berubah kapan saja. Tanpa bisa ditebak." "Ya, tapi begitu cepat, Nara." "Sepertinya kamu mulai bergantung pada sosoknya. Entah, aku ini harus menangis atau tertawa aku melihat kamu yang sekarang." "Apa begitu buruk, ya? Aku yang kayak gini." "Nggak buruk juga. Oh ini mungkin tahap kedewasaan kita yang tidak selamanya hsnya bisa bersenang-senang. Sesekali kita akhirnya akan mendapatkan rasa sedih, marah, kecewa sebagai bumbu kehidupan manusia." "Sepertinya begitu, " ujar Nadira setuju. Keduanya terdiam lagi tampak sibuk dengan pikiran masing-masing. Saat itu juga Nadira berusaha menyelesaikan perasaannya. "Nara," panggilnya. "Apa?" "Aku pengen cari jodohku," ucap Nadira tiba-tiba yang mengejutkan Inara sampai dalam hati dia bertanya-tanys . 'Ada apa dengan anak ini?' "Memangnya aku pernah melarang kamu?" Nadira mencebikkan bibirnya sedikit sebal baru saja api semangat cintanya berkobar. Membuat tekad baru untuk menemukan pasangan baru yang di yang pantas dicintai dan berbahagia kedepannya sampai, masuk jenjang pernikahan. Mimpi setiap wanita. "Aku ingin segera berumah tangga memiliki seorang pria yang bisa dijadikan sandaran hidup atau setidaknya kami bisa beriringan melangkah bersama untuk membangun kehidupan bahagia." Inara menarik tangan Nadira menggenggamnya tersenyum di depannya. "Aku harap kamu bisa mewujudkannya menikah dengan orang yang kamu cintai." "Terima kasih, Nara. Aku tidak sangat iri. Kamu akhirnya mendapatkan orang yang baik meski, awalnya tidak saling mencintai." Perubahan wajah Inara sekejap saja dan langsung membuat Nadira mengetahui jika ada sesuatu. "Kenapa? Apa Sesuatu terjadi?" Inara mengangguk, bertampang sedih. "Mas ravin membuatku kecewa lagi. Aku sedang marah padanya. Jadi berumah tangga pun belum tentu berjalan lancar selalu itu yang harus kamu ingat, Nad." Nadira sedikit tertawa. "Apa kamu tidak ingat aku dilahirkan dalam rumah tangga seperti apa. Ayahku yang pemabuk dan penjudi serta ibu yang jadi tidak peduli dan mulai berselingkuh karena kecewa tiap hari." "Maaf, Nadira. Kamu jadi harus mengingat masa lalumu itu." "Tidak masalah. Bukankah itu gunanya masa lalu hanya untuk diingat dan dikenang." "Apakah aku juga hanya bagian dari ingatan dan kenangan kalian?" Tiba-tiba terdengar suara itu titik Nadira dan Inara segera menoleh dan melihat Alfan berdiri di samping mereka. "Ya, bisa dibilang begitu," jawab keduanya serempak membuat wajah Elvan ditekuk sebal tetapi, tidak tanpa rasa malu dia mengambil tempat duduk disamping Nadira. Beberapa waktu yang lalu dia mendengar kabar jika, Nadira pergi ketempat Bagas dan mereka berbicara berdua katanya sempat terlihat jika Nadira menangis. Lalu apa yang dilihatnya memang benar tampak terlihat dari wajah Nadira sekarang yang sembab merah dan bermata Panda. "Nadira apa amu baru saja menangis?" Tanya elfan tanpa memandang wajahnya. Nadira menggumam, mengiyakan bagai jawaban. "Kenapa kamu tiba-tiba ada di sini?" "Hanya ke sini ini dan tanpa sengaja melihat kalian berdua, " jawab Elvan. "Sudahlah tapi aku tidak percaya, " celetuk Inara dengan tawa sedikit mengejek Elvan. "Kenapa kamu tidak percaya?" "Karena aku nggak mau percaya," tukasnya enteng. Elvan menarik nafas lemas terserah saja ucapnya dalam hati sambil melirik keduanya. "Kalian di sini sedang sesi bersantai atau sedang curhat? Sepertinya tidak ada wajah-wajah bahagia di sini." "Iya, malah tampak kamulah yang bahagia melihat kami seperti ini." "Inara, Kenapa kamu terlihat begitu kejam apa aku seperti itu?" Tawa Inara terdengar, disusul Nadira. Lalu, dalam sekejap penampilan Inara malah dengan cepat berubah. " Tidak seharusnya aku bertemu kamu terlebih dulu karena melihatmu saat ini, kekesalanku malah makin bertambah." Tidak ada lagi wajah lembut tetapi, mika keras. Elvan mengusap belakang lehernya merasa bulu kuduknya meremang setelah melihat tatapan Inara yang begitu tajam jelas terlihat jika, dia benar-benar kesal. "Nara, kamu nggak apa-apa? " tanya Nadira yang juga ikut prihatin melihat perubahan suasana hati Inara. Inara menarik napasnya, mulai memejamkan matanya dan berpikir ulang jika, tidak ada hubungannya dengan Elvan pada sikap yang diambil Ravin saat ini. Elvan dan Nadira sedikit saling melirik seolah saling menanyakan 'Apa yang terjadi pada Inara?'. Dan Nadir Allah yang tidak tahan untuk tidak bertanya. "Nara, apa kamu baik-baik saja? Kamu ingin Elvan pergi? Baik aku usir dia sekarang?" "Yah, kalian berdua benar-benar menganggapku seperti seorang pengganggu. Apa kalian pikir itu tidak menyakitkan? Aku juga bisa kecewa dengan kalian berdua." Tidak bisa tidak senyum terukir di bibir Inara, dia membuka matanya melihat Elvan yang bermuka masam. Tidak kalah lebih baik Nadira malah sedang terkikik geli. "Jangan terlalu sensitif. Aku hanya bercanda, mana mungkin kamu juga mau pergi meski, aku usir. Orang yang tidak tahu malu, sepertimu terkadang pantas diacungi jempol." Evan memutar bola matanya malas. "Dari kata-katamu tidak ada yang bagus sama sekali." "Memang," sahut Nadira menyebalkan "Kamu sudah bertemu Si Bagas itu," celetuknya yang seolah sedang bertanya. "Kamu tahu juga? Dari mana?" Bibir Elvan kali ini tertutup rapat, mengambil gelas minum Nadira tanpa segan dan menyesapnya beberapa kali tanpa melirik Nadira sendiri dan malah menatap ke depan. "Apa kalian sekarang sudah putuskan buat pacaran?" Inara tiba-tiba saja bertanya seperti itu dengan tangan yang menopang dagu tersenyum melihat Elvan dan Nadira seperti pasangan yang cocok. "Ada apa? Kenapa kamu mengatakan hal itu?" Nadira sangat terkejut mendengar penuturan jujur Inara sedikit tidak habis pikir dengan kata-kata tersebut. Bagaimana bisa mereka terlihat cocok malah beberapa waktu ini keduanya hanya diisi dengan pertengkaran. "Memangnya kenapa? Aku akan turut bahagia jika, kalian juga bahagia." "Nara!" Elvan menarik napas panjang beralih tempat duduk di samping Inara membuat Inara semdiri mengerutkan kening. "Jangan mengatakan hal yang bisa buat kamu rugi sendiri." "Rugi apa?" balas Nadira cukup ke sikap Elvan, dia masih tampak tidak berubah dan mengerti apa yang harus dilakukan. "Yang bicara omong kosong pergi sana." Usirnya agar Elvan pergi ke tempat duduknya semula. Elvan tidak beranjak dari tempatnya dia masih menatap Inara dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Dia sangat keras kepala, Elvan sendiri mengerti akan dirinya. "Inara, aku, kan masih cinta sama kamu meskipun aku juga sayang dengan Nadira." Seperti baru saja ada bom atom yang meledak, kedua wanita yang mendengar hal-hal tersebut langsung berwajah gelap bukan, merah merona karena malu dan bahagia mereka merasa marah mendengar ucapan tersebut. Elvan sendiri, seolah tidak mengerti dengan tanggapan keduanya masih berani berucap dengan percaya diri. "Elvan apa kamu mau mati?" Nadira bertanya dengan nada marah dan tampak sedikit mengancam. Begitu juga Inara yang langsung mendengus saat mendengarnya. "Inget, Van. Aku itu udah jadi kakak ipar kamu. Aku pikir sebelumnya kamu sudah bisa menerima semua ini. Lalu sekarang, kenapa harus mengatakan hal bodoh lagi." "Maaf." Tiba-tiba Elvan menyadari kesalahannya. "Aku tidak seserius itu. Maafkan, aku. Aku hanya berusaha jujur dan malah bersikap bodoh tetapi tidak bermaksud untuk merusak hubungan kita semua." "Syukurlah, kamu masih bisa waras." Lega Nadira saat mengatakannya. Inara memastikannya dengan menatap Elvan berusaha melihat pada kedalaman matanya dan perubahan wajahnya Namun sayang Apa yang dia lihat malah bayang-bayang wajah Ravin suaminya. Akhirnya malah membuat perasaannya makin kacau dan kesal saat mengingat orang itu. 'Mas Ravin, mengingatnya membuat kesal sampai aku mual,' ucap Inara dalam benaknya tetapi, kali ini dia benar-benar merasa mual. Tubuhnya dengan cepat berdiri dan melesat pergi ke kamar mandi dengan tangan yang menutup mulutnya. Elvan dan Nadira masih duduk di sana, diam terkejut melihat Inara pergi menjauh. "Aku bakal menyusul!" Nadira pun dengan cepat berdiri dan menyusul Inara. Disana dia sudah melihat Inara yang membungkuk di depan wastafel. "Kamu gak papa, Nara?" Inara mengusap bibirnya, hanya sedikit mual tetapi tidak ada yang bisa dimuntahkannya. "Aku gak papa, cuman tiba-tiba aja mual dan pengen muntah tapi ...." tidak melanjutkan kata-katanya karena dirinya sendiri pun bingung, perutnya sambil mengusap-ngusapnya. "Tapi apa?" "Tidak ada, tapi mungkin aku mual dan ingin muntah karena mendengar ucapan Elvan." Terdengar di antara mereka setelah Inara mengucapkan kata-kata tersebut. Bahkan Nadira sampai terbungkuk-bungkuk merasa sangat lucu meskipun Awalnya dia juga marah, mendengar hal tersebut keluar dari kata-kata Elvan. "Bagus sekali, Nara. kamu luar biasa sampai ingin muntah hanya dengan mendengar kata-katanya." Inara pun tidak tahan untuk tidak tertawa lagi tetapi, tidak seperti Nadira yang tertawa geli yang seakan terlalu berlebihan. "Udah nah ayo kita balik lagi sebelum Elvan menyusul dan mendengar tawa kita." "Aku sudah mendengarnya!" Terdengar suara dari balik pintu toilet dengan nada yang sedikit menggeram marah dan membuat kedua wanita yang di dalam toilet tubuh mereka menegang terkejut. "Kalian sudah selesai cepat keluar!" "Oke," jawab kedua wanita itu serempak sambil saling memandang lalu, kemudian tertawa kembali. Nadira berbalik terlebih dulu lalu, belum beberapa langkah yang tidak disangka tubuh Inara hampir limbung. "Inara!" teriak Nadira terkejut membuat Elvan yang hendak berjalan pergi kembali berbalik dan menerobos masuk tanpa peduli jika, yang dia masuki adalah toilet wanita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN