Di Rumah Sakit

1544 Kata
"Ada apa dengan Inara?" Setelah melihat apa yang terjadi, Elvan segera mengangkat Inara dalam satu kali rengkuhan, diikuti Nadira dari belakang seorang pelayan ingin membatu mereka dengan memberikan ruang untuk Inara berbaring sampai akhirnya dia sadarkan diri. "Inara, Inara!" Elvan berusaha membuat Inara tersadar dengan terus memanggil namanya serta menepuk pelan sisi kedua pipinya. "Eum...." "Nara, kamu sudah sadar?" Nadira segera mengambil alih tempat yang lebih dekat Inara sambil memegang gelas berisi teh hangat yang diberikan pelayan restoran. "Aku kenapa?" tanya Inara setelah dia benar-benar membuka mata dan melihat Nadira dan Elvan menatapnya khawatir belum lagi beberapa pelayan cafe, yang bisa dia lihat dari pakaian mereka. "Kamu baru aja pingsan," jawab Elvan dengan wajah lega. "Jadi lebih baik kita ke rumah sakit. Kamu perlu dokter untuk memeriksakan diri." "Bagaimana, Inara?" Kali ini Nadira yang bertanya, "Apa kamu merasa sakit disuatu tempat?" Inara diam sesaat, merasakan apa yang nyeri dari tubuhnya. Sayang, tak ada yg terasa. "Tidak ada, hanya kepalaku sedikit sakit." "Kita pergi saja ke rumah sakit." Putus Elvan, Nadira mengangguk setuju. Mereka pun akhirnya, segera membawa Inara ke rumah sakit. "Kalian tidak perlu repot-repot. Aku gak papa, kok, mungkin hanya terlalu lelah." "Jangan asal bicara kalo cuman mungkin. Ayo, pergi ke rumah sakit!" Paksa Elvan tidak peduli yang dikatakan Inara, sekali lagi dia langsung mengangkat Inara layaknya tuan putri. "Yah! Elvan, jangan begini aku bisa jalan sendiri." "Udah jangan bawel, kamu lagi sakit dan baru aja pingsan, gak mungkin bisa jalan," cerocos Elvan, tak lupa dia juga menoleh pada Nadira. "Ayo, cepat pergi! Ikuti aku dari belakang." Seperkian detik Nadira yang sudah berdiri, tertegun sejenak entah kenapa dia merasa kesal dengan ucapan Elvan barusan. "Elvan, jangan sok memerintah,ya?! Turunkan Inara aku yang bakal menggendongnya." Elvan tidak mengindahkan seruan Nadira, malah berjalan begitu saja sambil berseru pada Nadira mempercepat langkahnya. "Cepat, Nad. Jangan waktu!" Meskipun, Nadira berwajah masam dirinya pun tidak menunda waktu dan segera mengikuti Elvan dibelakangnya. Di rumah sakit. Inara langsung diperiksa dan karena permintaan Elvan, dia pun diberikan ruangan untuk beristirahat sambil menunggu hasil pemeriksaan yang sedang dilakukan meskipun, tampak dokter yang memeriksa pertama kali sudah bisa menebak apa yang terjadi tetapi, karena pasiennya sendiri tampak tidak memyadari kondisinya. Sang Dokter hanya bisa diam-diam menunggu dan akan bicara setelah memastikannya dengan hasil pemeriksaan yang menyeluruh. "Kamu apa-apaan sih,Van?! Kenapa harus pesan kamar segala aku kan bisa pulang,"Keluh Inara sambil melihat tangannya yang sedang diinfus. "Kamu sakit dan butuh perawatan. Tadi dokternya juga bilang begitu, lebih baik dirawat dulu. Ini hanya satu, dua jam tidak sampai seharian." "Iya, Inara. Lagipula ada aku di sini. Tenang aku bakal disamping kamu." Belum lama nadira mengatakan itu tiba-tiba gawainya berdering dan tertera nama Tika salah satu pegawainya di butik. "Halo?" Nadira dan tiga berbincang hanya beberapa menit seolah tengah membicarakan hal penting nadira pun melirik inara yang sedang terbaring dan menatapnya juga. "Ok, baiklah aku ke sana." "Ada apa?" "Kita kedatangan pelanggan dari luar kota dan mereka tidak bisa menunda bertemu." "Kalau begitu aku yang pergi ke sana," usul Inara tiba-tiba dan siap menebak selimutnya. Nadira tentu saja pendiri terkejut menghalangi niatan Inara. "Kamu apa-apaan kamu sedang sakit jadi berisi rata di sini. Soal pelanggan itu biar aku yang urus." "T-tapi." "Sudah nggak usah pakai tapi-tapi istirahat saja disini sampai hasilnya keluar dan berkonsultasilah pada dokter setelahnya."Nadira menoleh dan melihat Elvan. "Jaga Inara dengan baik dan jangan macam-macam." "Aku tahu memangnya apa yang bisa kulakukan pada Inara," sahut Elvan sebal. Nadira tidak menjawabnya lagi dan memilih berlalu pergi, tidak peduli apa dia masih percaya pada Elvan kalau dia tidak akan melakukan suatu hal yang merugikan dirinya sendiri ataupun Inara. Setelah kepergian Nadira, Inara maupun Elvan tidak banyak bicara lagi. Keduanya tampak canggung setelahnya di ditinggalkan berdua, Inara yang berbaring mulai membuat dan mengantuk rupanya berkali-kali terpejam tetapi dilaksanakannya kembali untuk terbuka dan Elvan sendiri yang duduk di sofa berpura-pura sibuk dengan gawai nya. "Aku sangat mengantuk," lirih Inara "Kalau begitu tidurlah," sahut Elvan yang berdiri menghampiri dan bahkan menyelimuti Inara dengan rapi. "Tidur! Saat nanti aku akan membangun kamu juga dokter sudah di sini." Inara mengganggu dan bersiap memejamkan mata untuk tidur sebelum ingatan itu datang. "Aakh, Mas Ravin. Gimana bisa aku sampai lupa buat menghubunginya." "Jangan khawatir!" Elvan segera menahan tubuh Inara. "Aku yang akan menghubungi Mas Ravin, sekarang kamu tidur dan istirahat." "Kamu serius yang akan menghubungi Mas Ravin?" "Tentu saja, sekalian saja aku bakal menyuruhnya kesini buat jemput kamu." Setelah mendengar janji itu Inara mengangguk puas khawatir lagi dan mulai memejamkan mata untuk kembali tidur terlebih dulu. Elvan menarik napas puas setelah memastikan Inara tidur. Elvan berdiri diluar kamar, memegang ponsel pintarnya masih berpikir apa dia harus menghubungi kakaknya? Karena menurutnya suami Inara itu bukanlah sosok yang penting. "Aku benci melihatnya tapi, dia juga akan mengajarku 3 sampai Hai aku tidak memberitahunya kabar tentang kesehatan Inara. Akhirnya mau tidak mau dia memencet nomor Ravin. Beberapa kali, dering gawainya terdengar. Elvan melirik nomor yang sudah tertera dan itu benar. Apa Ravin sengaja memgabaikan nomornya jika, begitu dia akan merasa bersyukur. Tidak masalah jika akhirnya hubungan nya bersama Inara jadi, tidak harmonis akibat kesalahannya sendiri. "Semoga nanti kamu nggak nyesel ya, Mas," ujar Elvan menyudahi panggilannya. Langkahnya menjadi ringan, Elvan sedikit senang akan pergi ke kantin untuk membeli minuman tetapi, baru saja dia baru saja akan berbelok di koridor dia melihat seluit orang yang dikenalnya dan rasanya tidak mungkin salah. Telepon segera menghubungi lagi nomor Ravin untuk memastikannya. Dan benar saja itu dia. "Ngapain Mas Ravin di rumah sakit? Dan, kurang ajar sekali sama sekali. Dia tidak menerima pangggilanku dan malah asyik berjalan-jalan di rumah sakit. Tapi, Apa mungkin dia sudah tahu jika Inara dirawat di sini?" Elvan mendesah memikirkan hal tersebut. Dia berbalik akhirnya untuk mengejar Ravin, berpikir tidak perlu lagi menyembunyikannya tetapi yang pertama dia ingin menghajar kakaknya karena sudah mengabaikannya saat ditelepon. Langkah Elvan cukup lambat untuk bisa mengejar Ravin tetapi, dia masih bisa mengikuti kemana arah kakaknya pergi. Sayangnya, dia terlalu bodoh saat menyadari jika Ravin tidak pergi kearah dimana Inara dirawat lalu tidak mungkin salah dia mengenali orang yang juga dia kenal. "Apa mas Ravin masih menemui Mbak Jovanka? Bukannya mereka sudah tidak berhubungan lagi setelah ditegur Mommy. Lalu, Kenapa disini sekarang?" Mengerti akan situasinya Alfan tiba-tiba menjadi merasa marah untuk Inara. Meskipun tidak sepenuhnya percaya jika Ravin berani berselingkuh tetapi, dengan keadaan ini kakaknya tetap saja dia anggap tidak bertanggung jawab karena lebih mementingkan wanita lain dibanding istrinya. "Mas Ravin harusnya sudah tahu. Siapa yang harus diprioritaskan, semoga kali ini bukan gilirannya yang akan menyesal." Elvan berbalik pergi ke tujuan awalnya, dia tidak akan menemui Ravin saat ini, biarkan saja laki-laki itu menyesal nanti. "Aku merasa melihat seseorang?" tanya Ravin pada dirinya sendiri, setelah maria lebih dahulu memasuki ruang perawatan di mana Jovanka masih terbaring koma. Wanita itu kali ini tidak langsung cepat bangun seperti biasanya setelah penyakitnya kambuh kembali. "Sedang apa dia disini?" Berapa lama maria kembali ke luar menemuinya. "Nak Ravin sekarang bisa masuk masuk," hujannya dengan senyum lelah tetapi, juga lega melihat Ravin bisa datang ke sini menemui Jovanka." "Ah,ya," jawab Ravin dengan sedikit terkejut karena baru saja dia melamun memikirkan sesuatu. Ravin mulai mengambil langkahnya dan memasuki ruangan di mana Jovanka berada. Satu jam lebih yang lalu, Maria berkali-kali menghubunginya meskipun telah diabaikan memohon mohon untuknya datang dan menemui putrinya yang mungkin tidak lagi memiliki waktu. Bagian memberi tahunnya jika jovanka sudah mengalami koma dan dokter belum bisa membuatnya tersadar. Wangi bau disampaikan begitu menyengat di ruangan ini, kawannya ia tidak ingin datang lagi tetapi, rasanya sulit jika harus mengabaikannya di hari terakhirnya. Di hatinya itu saja tidak memiliki perasaan lagi untuk Jovanka namun, begitu kisah masa lalu mereka yang tidak sebentar seakan terpatri dan tidak seperti Jovanka yang pergi darinya dan membuat dirinya sendiri menyesal Ravin ingin mengakhirinya dengan lebih baik. "Halo, Jo," sapa Ravin tepat di samping Jovanka dan memegang tangannya yang sudah pucat putih dan kering seperti hanya tinggal tulang berbalut kulit. Ravin menarik pandangannya keatas wajah Jovanka, yang makin membuatnya tidak berdaya. Jovanka pasti benar-benar sakit menahan penderitaan. Matanya tertutup tidak lagi terbuka, tampak cekung. Tidak ada kata-kata yang bisa diucapkan Ravin, setelah melihatnya seperti ini. Lama sudah dia memandangnya, kemudian dirinya hanya mampu mendesah lagi tidak ada yang bisa dia dilakukan semua sudah menjadi ketentuan Tuhan. Dia tidak bisa berlama-lama di sini jadi Ravin keluar kembali. Maria sudah bersiap di sana, berdiri ketika melihatnya dengan senyum getir yang dipaksakannya. "Terima kasih," ucap Maria setelah melihat Ravin keluar dari kamar ruang rawat putrinya. "Tante, tidak perlu menyebutkan hal itu." "Tapi Tante sudah cukup keterlaluan dan terlalu merepotkan dengan memaksamu datang kemari." Ravin tidak bisa membahas hal ini terlalu jauh sudah jelas keluarganya apalagi Inara tidak ingin membiarkannya untuk datang dan itu cukup memberatkan nya jika, harus menemui Jovanka kembali. Namun sayang sekali lagi di harus mengecewakan Inara dengan datang ke tempat ini. "Terima kasih, Tante semoga Jovanka akan segera pulih dan bisa membuka matanya lagi. Maaf, Tante untuk hari ini aku tidak bisa tinggal lebih lama lagi banyak hal yang harus aku urus." Ravin tentu saja tidak melupakan Inara. Dia ingat istrinya masihlah marah dan diam di apartemen di hari segera pulang tidak bisa terlambat lagi. Maria tidak bisa menahan Ravin untuk tinggal lebih lama dengan hanya kedatangannya walau sebentar itu merupakan hal yang cukup bagi Jovanka yang terbaring koma.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN