Kabar gembira; Hamil

1546 Kata
Elvan kembali ke ruangan Inara, menungguinya yang sedang tertidur bahkan, sebelum itu dia dengan sengaja mengambil gawainya yang disimpan dalam tas untuk memamatikan dayanya agar Ravin tidak bisa menghubunginya. Dia akan memberi pelajaran pada kakaknya itu karena sudah berani berselingkuh dan berbohong pada Inara pastinya. Puas dengan apa yang dilakukannya Elvan tersenyum lebar dan berbalik duduk di sofa dengan nyaman. Setengah jam kemudian seorang perawat mengetuk pintu, Elvan segera Beranjak bangun dan menghampiri perawat tersebut sambil bertanya, "Suster apa sudah ada kabar?" "Sudah, Mas. Tapi tenang saja nanti dokter yang akan kemari dan menjelaskan semuanya. Saya kemari cuman ingin melihat apa pasien membutuhkan bantuan yang lain?" Elvan menoleh melihat Nadira yang masih tertidur lalu kembali menghadapi perawat tersebut. " sepertinya tidak, Sus. Bisa lihat sendiri Inara masih tertidur dengan lelap." Si perawat tersenyum mengangguk mengerti. "Ya sepertinya Bu Inara masih tertidur," ucapnya setelah melihat ke ranjang pasien mana Inara tertidur. Tidak sampai sana perawat pun menghampiri Inara dan memeriksa aliran infusnya memastikannya baik-baik saja. "Kapan Dokternya datang, Sus?" tanya Elvan. "Sebentar lagi tidak akan lama tapi, jika Bu Inara masih tertidur lebih baik kita undur." Elvan setuju, rasanya dia juga tidak tega membangunkan Inara. Suster pun sepertinya tidak keberatan. " kalau begitu Saya pergi dulu saya akan bicara dengan Dokter Dea,ya- untuk mengubah waktu pertemuan." "Baik, Sus." Satu jam kemudian Inara sudah terbangun, tubuhnya terasa lebih baik dari sebelumnya dan dia mulai lapar kembali sekaligus ingin langsung pulang Tetapi Elvan tidak memikirkannya sebelum Dia memanggil dokter terlebih dahulu untuk memeriksanya dan memberitahunya tentang hasil pemeriksaan sebelumnya. "Tunggu dulu, aku panggil Dokternya." "Aku baik-baik saja sepertinya tidak perlu dokter lagi untuk memeriksaku." belum tiba setelah dokternya Ya bicara baru kita pulang." " Jangan seperti itu pokoknya Tunggu dulu sampai Dokternya datang dan mengatakan hasil dari pemeriksaannya." Inara tidak bisa melawan kata-kata Elvan ya karena tentu itu untuk kebahagiaan kebaikan dirinya sendiri lagipula tidak ada bedanya pulang sekarang ataupun setelah mendengar hasil pemeriksaan, namun yang paling membuatnya kecewa sampai saat ini ini Ravin yang belum juga datang menemuinya. "Apa Mas Ravin tidak tahu aku di sini? Elvan, kamu sudah menghubungi Mas Ravin,kan?" "Sudah," jawab Elvan cepat. Meskipun hatinya merasa bersalah tetapi, Elvan masih saja memilih untuk berbohong tidak peduli apa Ravin baginya tidak cocok untuk Inara. Wajah Inara seketika menjadi masam, Bagaimana bisa suaminya tidak datang ke rumah sakit ketika istrinya sendiri sedang dirawat. "Apa yang dikatakannya?" Elvan berusaha berpikir dengan cepat. " dia sibuk dengan pekerjaannya Jadi mungkin... katanya dia bisa saja terlambat atau tidak datang dan menyuruhku untuk menjagamu." Inara tidak percaya tetapi, juga tidak ingin menyanggahnya merasa percuma Elvan mungkin berbohong lebih baik dia yang mencari tahu sendiri nanti setelah kembali ke apartemen. Mereka tidak menunggu lama sampai akhirnya Dokter datang dengan Seorang perawat tadi. Dokter yang bername tag Dea itu tersenyum lebar menatap keduanya. "Hasil pemeriksaan sudah ada ada di tangan saya ini dan sesuai apa yang saya duga Sebelumnya saya harus mengucapkan selamat untuk kalian berdua. kalian berdua akan menjadi seorang ayah dan ibu," ucap dokter tersebut dengan senyum begitu juga perawat di sampingnya. "Tentu saja mana mungkin saya bisa berbohong apalagi mengada-ngada. Di tangan saya pun masih ada hasil pemeriksaannya Anda bisa memeriksanya sendiri tetapi sebelum itu saya harus mengucapkan selamat untuk kalian berdua juga merupakan. "Tidak, Dokter. Bukan seperti itu tetapi, aku saya benar-benar terkejut sebelumnya tidak pernah terlihat jika saya sedang hamil." "Tanda-tanda itu pasti ada Bu, tapi sepertinya Anda tidak menyadarinya Sampai diri Anda pingsan." Inara sepertinya baru menyadarinya dan benar apa yang dikatakan dokter "Sepertinya begitu, aku tidak menyadarinya tepat waktu," jawab Inara sambil menunduk seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri tetapi sebenarnya Inara sedang menatap perutnya. Maksudnya lembut suku tidak bisa dipercaya dirinya mengabaikan tanda-tanda kehamilannya, diantara haru dan bahagia setetes air mata jatuh dari pipi Inara. "Terima kasih Dokter Saya tidak akan melupakan hari ini." Di samping itu Elvann berdiri mematung, mengepalkan tangan membuat catatan untuk hari ini. Dokter itu cukup banyak berbicara banyak dan pada cara membuat Raffi sendiri tersebut perbedaan setelah mematikan akan sesuatu Yang dibuat terkejut kali ini bukan hanya Elvan tetapi juga Inara yang benar-benar tidak menyangka jika dirinya tengah hamil Bagaimana bisa dia tidak tahu tentang keadaan tubuhnya sendiri. Terima kasih atas perhatiannya Mulai sekarang saya pasti akan lebih menjaga diri untuk menjaga kandungan saya," ucapnya serius. Wajah Inara berubah menjadi cerah lebih baik dari sebelumnya. "Aku hamil, sungguh tidak bisa," ucap Inara yang tampak masih tidak percaya. Senyumnya terpatri apik di sana bersiap mengabarkan dunia tentang kabar baik hari ini. Sedangkan dari awal sampai akhir Elvan, dia tidak mengatakan apapun. Tetapi, meski begitu dia jelas dengan artinya merasakan sakit berkali-kali lipat melihat Pujaan Hati kini, bahagia mengandung cinta pria lain meskipun itu milik kakaknya sendiri dia masih tidak tahat untuk tidak terluka. Inara menyadari itu setelah cukup lama Elvan sama sekali tidak mengatakan apapun, Padahal dia ingin sekali mendengar ucapan selamat dari orang-orang terdekatnya tentang kehamilannya. "Elvan, kamu tidak mau mengucapkan selamat untuk kakak iparmu ini?" tanya Inara dengan sengaja, dia tidak mau Elvan menaruh harapan padanya dan memperjelas situasi mereka yang sekarang hanya bisa menjadi ipar saja. "Apa Kamu pikir aku masih bisa bahagia?" Jawab Elvan menyedihkan, kepalan tangannya bergetar, raut wajahnya penuh kesedihan. "Beri aku waktu beberapa menit aku harus segera mencerna semua ini? Tetapi, selamat atas kehamilannya." Ucapannya yang terakhir adalah yang paling tulus diucapkan Elvan semenjak berakhirnya hubungan mereka. Dan, untuk pertanyaan yang pertama Inara yang sedang bahagia itu memberikan keleluasaan waktu untuk Alfa yang memilih melangkah pergi dari kamar rawat ini. Dengan langkah kakinya Elvan pergi keluar mencari udara segar dari balkon rumah sakit. "Van, ini bukan akhirnya. Aku harus lebih kuat menerima jika Inara mungkin memang bukan jodohku lagi," ucapnya menepuk d**a sendiri menghilangkan denyut jantung hati. Kembali ke ruang perawatan Inara, Elvan menemukan jika wanita cantik itu selesai dengan perawatannya dan mungkin bersiap untuk pergi. "Kamu tidak berpikir akan pergi sendiri kan?" tanya Elvan. Inara tertawa memdengar pertanyaan Inara yang tampak, seperti orang yang sedang merajuk. "Tentu saja tidak. Kamu, kan harus mengantarku pulang. Aku tidak bisa pulang sendiri dengan kehamilan seperti ini belum lagi harus memesan taksi. Lebih aman denganmu, uncle dari jabang bayi ini." Inara dengan bangga menepuk sayang pada perutnya yang ternyata benar-benar sedikit membuncit. Tadi, saat dokter memintanya memeriksa dengan di USG Inara menolaknya lain kali dia ingin datang bersama Ravin. Berbeda dengan Inara yang tengah berbahagia Ravin yang datang apartemen dan tidak menemukan Inara jangan berwajah masam. Apalagi dengan telepon yang tidak bisa dihubungi dirinya merasa sangat sangat marah. Dan memutuskan dengan pikirannya sendiri untuk kembali ke kantor mengurus urusan pekerjaannya yang belum selesai. Rudi yang saat itu sudah bersiap pulang dan sedang berjalan dikoridoruntuk dikejutkan dengan kedatangan bosnya lagi. "Pak Ravin, Anda kembali?" tanyanya setengah tidak percaya. "Hm," gumam Ravin sebagai jawaban. Rudi menggaruk rambutnya tidak gatal, memasang wajah bingung sebelum akhirnya dengan langkah gontai dia berbalik mengikuti Ravin sampai ke dalam kantornya. Rudi menelan salivanya gugup karena tampang bosnya, Ravin tampak kurang baik. "Pak Ravin, kenapa kembali lagi?" tanyanya memberanikan diri. "Kalau kamu ingin pulang pulang saja tapi sebelum itu Serahkan semua pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini," ujarnya tanpa peduli dengan pertanyaan Rudi sebelumnya. "Oh, baiklah!" ujar Rudi yang berpikir terlebih dulu sebelum akhirnya sadar apa yang harus dilakukan. "Saya akan mempersiapkan semuanya Anda tunggu sebentar," ucapnya lalu berlari ke sana kemari dan yang pertama kali dia meletakkan kembali berkas-berkas yang sudah dirapihkannya kembali tersedia di atas meja lalu, pergi keluar tepatnya ruangannya mengambil sisa-sisa berkas lain. Sedangkan yang dilakukan amin saat ini adalah terus mencoba menghubungi Inara dari gawainya dan masih seperti sebelumnya. Gawai Inara mati, berpikir jika Inara belum ingin bertemu lagi dengannya termasuk sekdar berbicara dan hal itu membuat frustrasi. Ravin pun cukup segan menghubungi mertuanya padahal belum lama ini, dia baru saja menjemput Inara dari sana. "Ah, sialan! Bagaimana ini? Benar-benar marah besar. Dia memang tidak bisa dimaafkan. Belum lagi, hari ini dia masih pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Jovanka yang sedang koma." Ravin merasa tidak bisa mengabaikan keadaan seseorang disaat seperti itu. "Pak Ravin, inj pekerjaan yang tersisa." Rudi segera menumpuk berkas-berkas yang ada di atas meja. Tersenyum puas dengan pekerjaannya itu dan jujur sangat lega dengan kebijaksanaan Bos nya hari ini padahal, sebelumnya dia berpikir entah berapa lama lagi Bos Ravin bisa menyelesaikan tugasnya hari ini. Ravin melirik, sedikit menghela nafas setelah melihatnya pekerjaannya yang sungguh berantakan bagaimana dia bisa menyisakan begitu banyak pekerjaan. Mungkin seharusnya dia tidak memilih pekerjaan ini lagi atau hanya akan merusak citra perusahaan juga dirinya sendiri kalau sampai dia tidak becus kerja. "Apa harus sebanyak ini?" "Ini mwmang terlalu banyak tapi, Pak Ravin bisa mengerjakannya dengan perlahan saja." "Kamu bercanda saja. Bukannya berkas-berkas ini perlu diselesaikan segera." Rudi tidak berani menjawab tidak karena memang benar adanya. "Eum, bisa selesai setengahnya pun untuk hari ini sepertinya itu sudah lebih bagus. Pak Ravin bissa menyelesaikannya di lain waktu. Ravin memutar bola matanya, meletakkan gawainya di sisi lain meja dan mulai menarik berkas yang paling dekat dengannya. "Kamu bisa pulang sekarang, aku bisa sendiri," ujar Ravin menatap Rudi yang masih berdiri mematung di sana. "B-betul, kah?" tanyanya yang benar-benar serius bertanya Sebenarnya dia ingin segera melarikan diri untuk segera sampai ke rumahnya menemui keluarganya dan beristirahat dengan tenang. "Tentu saja, pergilah! Besok kamu tidak terlambat." "B-baik," jawabnya gugup dan akhirnya benar-benar berbalik pergi menyisakan Ravin pekerjaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN