Inara melihat gawainya yang berlayar hitam, menimbulkan kerutan dikeningnya juga wajah yang menggelap sangat tertekan. Tidak sampai sana, dia langsung bisa menebak dan melihat si Pelaku yang ikut masuk ke dalam apartemennya.
"Ada apa?" tanyanya seolah tak tahu jika kesalahannya sudah terungkap, belum lagi dia masih begitu santai menegak minumannya dan tersenyum tenang menghadapi Inara.
Menghembuskan napasnya, Inara mencoba tidak peduli dan memilih melakukan hal yang paling penting untuk menghubungi suaminya karena bisa dilihatnya begitu banyak notif panggilan dari Ravin setelah dia menyalakan daya gawainya.
Namun, yang tidak disangka terdengar bunyi gawai Ravin dari kamar tidur mereka, setengah berlari Inara segera menghampiri sumber suara dan menghela napas ketika melihat barang itu tergeletak di atas ranjang di kamar tanpa ada si Pemiliknya. "Kalau begitu Mas Ravin pergi ke mana?"
"Jadi, ada apa?" Elvan berdiri di depan pintu kamar, tidak ingin masuk lebih jauh lagi karena, tidak menyenangkan sama sekali jika memikirkannya. Di mana tempat orang yang kamu sukai tinggal bersama orang lain.
Inara mendelik, menampakan wajah sebal. "Apa hanya itu yang bisa kamu tanyakan?"
"Lalu, apa yang harus aku tanyakan?" balas Elvan polos.
"Ini!" Inara menujuk gawainya. "Tanyakan kenapa aku tidak dihubungi suamiku sendiri?!"
"Kenapa aku harus menanyakannya Memangnya itu hal penting bagiku, " jawab Elvan sambil berbalik kembali ke ruang santai.
Inara berjalan mengejarnya dengan tampang marah. "Kamu jangan pura-pura, yah, aku tahu kamu yang matiin daya handphone-ku."
"Ngga!" .... 'ngga salah lagi.' jawab Elvan dalam hati.
"Kamu bohong lagi."
"Untuk apa aku bohong," tukas Elvan masih kukuh dengan ucapannya.
Inara sangat kesal tapi, dia bisa apa kalau Elvan tidak mau mengaku salahnya sendiri saat di rumah sakit bisa-bisanya percaya pada Elvan dengan menyuruhnya menghubungi Mas Ravin. 'Sekarang gimana? Apa Masa Ravin, nyari-nyari aku, ya? Sampai handphone nya tertinggal di kamar segala,' ujar Inara dalam bertanya-tanya.
"Inara, kamu baru pulang dari rumah sakit belum lagi keadaan kamu yang sekarang." Elvan tidak ingin menyebut dengan jelas tentang kehamilan Inara. "Lebih baik kamu jangan berpikir terlalu banyak dan istirahatlah. Nanti, biar aku yang siapian makan malam."
"Memangnya kamu bisa masak apa?" tanya Inara sarkas dengan bola mata berputar.
"Kamu nggak percaya sama aku."
"Enggak aku nggak percaya sama kamu, tadi saja kamu sudah berbohong untuk apalagi aku percaya."
"Terserah," sahut Elvan sambil menghabiskan diri di sofa.
"Kalau begitu, ngapain kamu di sini cepat pulang sana."
"Gak mau. Aku lapar kalau aku enggak bisa masak gimana kalau kamu saja yang masak."
Saking sebalnya Inara melempar bantal sofa ke arah Elvan sekuat tenaga. "Rasain!,"
"Ouch!" Pekik Elvan tidak sakit hanya begitu terkejut, terus aja dia dilempar dengan bantal oleh Inara yang bahkan, sebelumnya tidak pernah berani melakukan hal itu padanya selama mereka bersama dulu. "Inara!"
"Kamu pergi sana!"
"Kenapa, kamu jadi ngusir aku?"
"Ya, karena kamu gak dibutuhin di sini. Jadi, lebih baik pulang sana."
"Gak mau, aku bakal di sini sampai Mas Ravin balik dan kita bakal tahu, apa dia bakal pulang?"
Wajah Inara mengerut tidak senang dengan ucapan Elvan. "Tentu saja mas Ravin akan pulang Memangnya dia mau pulang kemana lagi. Ini, kan rumahnya."
Elvan memilih untuk tidak menyebutkan apa-apa lagi untuk saat ini. Inara mungkin tidak akan percaya dengan apa yang dia utarakan nanti jadi, lebih baik dia diam dan berpura-pura tidak tahu.
"Elvan, kenapa diam saja. Cepat pulang."
"Aku gak mau sebelum bisa makan malam di sini," tukas Elvan Kukuh dengan ucapannya Inara akhirnya menghela napas dan menybarkan diri darpada terus bertengkar dengan Elvan dan berbalik ke dapur untuk memasak sesuatu. Dirinya pun sendiri sebenarnya sedang lapar setelah beberapa jam lalu dari terakhir dirinya makan.
Inara tidak menemukan apa yang ingin dia makan jadi ya kembali ke ruang santai duduk berseberangan dengan Elvan.
"Kenapa masih di sini? Bukannya tadi sedang ingin memasak."
"Aku jadi males masak , lebih baik kita pesan saja."
"Kenapa berubah-ubah padahal aku sudah rindu dengan rasa masakanmu."
"Aku tidak! Dan, oh, ya... gara-gara kamu aku jadi, melupakannya tadi." Inara segera beranjak bajgun dan mengambil gawainya lagi dan menghubungi, siapa yang harus dihubungi?.
"Halo, Ma."
Selama beberapa menit Inara berbicara melalui telepon Evan hanya diam menunggu dan mengamati dan tentu saja dia tidak lupa untuk memesan makanan bagi mereka berdua.
"Terimakasih, Ma... jika, Mas Ravin datang ke sana tolong hubungi Inara ya, Ma."
"Sudah jadi bagaimana apa mas arifin datang ke rumah orang tuamu?"
"Kenapa kamu mau tahu?" Balas inara dengan pertanyaan lagi. Tetapi meskipun begitu akhirnya Inara menjawab dengan jawaban yang benar. "Mas Ravin enggak ke sana. Apa dia tidak mencariku, ya?"
Elvan tidak menjawab dan malah berpura-pura memalingkan wajah tetapi dengan senyum menyeringai di bibirnya seolah mengetahui sesuatu dan hal itu bisa dilihat oleh Inara.
Inara yang akan membuka mulutnya lagi untuk bertanya apa maksud dari senyuman Elvan, berakhir gagal pernah di interupsi oleh suara bel yang berbunyi. Elvan dan Inara saling berpandangan tanpa sengaja.
"Tidak mungkin pesanan makanannya sudah sampai, itu terlalu cepat. Mungkin itu orang lain yang datang untuk berkunjung apa aku yang harus melihat?" tanya Elvan
"Tidak perlu," sahut Inara beranjak bangun, karena dia tidak mungkin mengganggu Elvan, apalagi dengan menyuruhnya yang jelas-jelas adalah tamu sekaligus hanya adik iparnya. "Tapi siapa yang datang? Tidak mungkin Mas Ravin, dia tidak perlu membunyikan bel."
Dan, sebuah kejutan.
"Nadira!" Indera tidak menyangka jika Nadira akan menyusul datang kemari.
"Kejutan! Lihat apa yang kubawa."
"Jangan repot-repot tapi, terimakasih karena sudah datang kemari."
"Tentu saja." Nadira merangkul Inara senang. "Aku bahagia banget maka jadi auntie. Jadi, anda tidak sabar aku langsung kemari setelah menyelesaikan pekerjaan. Apa yang tadi dikatakan oleh Dokter?"
Melihat dan merasakan suasana antusias dari Nadira, Inara pun tidak kalah semangat dan bahagia serta antusias terhadap kehamilannya.
"Beruntungnya janinnya sangat sehat. Ah, bagaimana bisa selama ini aku gak tahu, aku hamil, Nad. Kalau terjadi sesuatu sebelum aku tahu bagaimana rasanya masih sangat menyedihkan."
"Tetapi, akhirnya tidak bukan."
Inara mengangguk mengiyakan. "Elvan? Kenapa kamu yang ada di sini?"
"Jangan bicara, tentu saja aku di sini. Bukankah sejak tadi aku juga yang menemani Inara."
"Lalu ke mana Mas Ravin?" tanya Nadira dengan suara sedikit berbisik sambil menoleh ke sana-kemari seolah mencari seseorang.
"Mas Ravin belum pulang? Entah pergi ke ma--na." Tiba-tiba saja Inara teringat sesuatu yang seharusnya tidak boleh ia lupakan tentang keluhannya pada Ravin. Dan, gara-gara siapa pagi ini dia merasakan perasaan frustrasi hingga kelelahan dan berakhir pingsan meskipun, karena itu juga dia akhirnya tahu tentang kondisi kehamilannya.
"Inara, kenapa malah diam?" Nadira menyentuh pundak Inara dan sedikit menggoyangkannya karena tiba-tiba dirinya malah berdiri tertegun seolah memikirkan hal lain.
"Ah, maaf. Aku teringat sesuatu dan jadi malah melamun?"
"Gak papa, kan?"
"Ngga, gak papa."
"Ingat, Inara. Kamu sedang hamil. Jangan berpikiran berat katanya itu bisa berpengaruh pada janin."
Inara mengangguk setuju, "Aku tahu. Aku juga pernah mendengarnya."
"Lalu, sudah siapa saja yang tahu tentang kabar gembira ini?"
"Belum, hanya kalian berdua," ucapnya melihat Nadira dan Elvan bergantian. Dan, dalam hati dia sedikit menyesal karena bukan Ravin yang pertama kali mengetahui tentang kehamilannya. 'Sungguh sangat disayangkan. Harusnya itu kamu, Mas,' batinya berucap dengan rasa bahagia dan kecewa.
Sepertinya yang diam-diam kecewa bukan hanya Inara tetapi, juga Elvan meskipun alasan mereka kecewa berbeda. Sungguh sangat disayangkan mereka pun tidak bisa mengatakannya secara langsung dan hanya diam-diam menyimpannya dalam hati.
Kruyukkk
Terdengar suara perut berbunyi Semua orang melihat ke arah asal suara. Inara tersenyum malu karena diperhatika kedua temannya, yang kini juga sama-sama tengah melihat perutnya. "Haha, sepertinya aku benar-benar lapar sekarang," ucap Inara sambil mengusap perutnya
Elvan dan Nadira pun ikut tertawa. Terutama Nadira, yang langsung ikut mengusap perutnya.
Inara menatap perutnya dengan kagum kali ini sebelumnya sungguh dia pikir perutnya yang membulat itu adalah gumpalan lemak, namun ternyata bukan malah tidak disangkanya ada jabang bayi di sana. Sebuah kehidupan yang berharga dari ikatan cintanya dan Ravin.
Ini Inara merasa merindukan Alvin meskipun dia masih merasa marah tetapi semua itu dikalahkan dengan kehadiran buah cinta mereka. 'Tidak apa-apa mulai sekarang Mas Ravin pasti akan lebih memperhatikan dirinya dan lupa dengan wanita itu setelah mengetahui kehamilannya ini. Mereka akan jadi keluarga yang berbahagia lagi,' ucap Inara penuh dengan percaya diri di dalam hati.
Sementara itu, orang yang sedang ditunggu-tunggu oleh Inara tampak masih menyibukkan diri di dalam kantornya seolah tidak mengenal waktu lagi, Ravin bekerja dengan sangat tekun kali ini dan hampir melupakan semuanya. Masih berjam-jam selanjutnya Ravin tetap tidak menyadari waktu yang sudah berlalu. Bahkan termasuk makan malamnya, dirinya pun tidak merasakan rasa lapar Padahal, dia pun melewatkan makan siangnya juga.
Hanya ketika semua itu terlambat Ravin sadar dengan apa yang terjadi pada dirinya setelah tiba-tiba pandanganya mulai berkunang-kunang dengan tangan yang tidak bisa lagi memegang pena karena bergetar hebat. Tubuhnya melemas untuk mengangkat satu jarinya pun rasanya dirinya tak mampu.
"Aakh, aku lemas sekali," lirihnya dan akhirnya hanya bisa menjatuhkan kepalanya di atas meja di mana lembaran kertas- itu bersebaran. 'Sudah sangat malam, siapa yang bisa menolongku.' Kali ini Ravin tidak bisa lagi bicara hanya mampu bergumam dalam hati.
Dalam masa keheningan itu, Ravin sangat ingin melihat Inara dia sangat merasa bersalah, belum meminta maaf dan membujuknya kembali bahkan, karena marahnya tadi. Dia tidak memcoba mencarinya, sungguh egois dirinya. Setetes air mata jatuh dari sudut mata Ravin, berpikir dia bisa mati lemas seperti ini. Begitu menyedihkan dan tidak berdaya, dia masih ingin bertemu Inara dan hidup bahagia bersamanya dan anak-anak mereka.
Dalam bayangan samar entah itu penglihatan maupun pendengaran Ravin yang berselimut kelelahan mendengar suara anak kecil, penuh rengekan manja. sekaligus penglihatan samar bergoyang di depan matanya dan terus memanggilnya. 'Papi, papi! Ayo, bangun! Kita bermain. Papi!'
Ravin mencoba untuk menggerakkan jari-jemarinya ingin menyentuh bayangan yang berbentuk samar tersebut dan malah sangat membuatnya bahagia ini.