Martha mungkin adalah Gadis cantik dimata sebagian orang namun tidak bagi Weren. Weren sangat tidak.menyukai Martha karena dia tidak bisa mengambil semua keputusannya sendiri. Bahkan dia suka.mengadu domba orang lain, Weren mengenal Martha sejak kecil karena mereka dulunya bertetangga.
Bertemu dengan Martha bagi Weren bukan bernostalgia mereka akan dijodohkan. Weren hari ini bersiap untuk memulai hari dengan meeting.
"Nak,sarapan sudah siap,"ujar Mama Weren tersenyum kepada weren.
"Baik,ma. Weren akan kesana," ujar Weren merapihkan Jasnya.
"Ma, Aku tidak terlalu menyukai Martha sebenarnya,"keluh Weren pada Mamanya berharao perjodohan ini dibatalkan.
"Mama juga tidak terlalu mengharapkan Martha sebagai menantu mama. Papahmu nampaknya sangat antusias terlebih dia juga berteman dengan Pak Berto, papah Martha."Seloroh mama Weren kepada Weren.
"Aku Tahu, akh. Aku sangat pusing dengan perjodohan ini."ujar Weren dengan patah semangat.
"Semua sudah terlanjur,nak. Coba sajah dulu apabila ternyata bukan jodoh pasti Tuhan akan memisahkan kalian,"ujara Mama Weren penuh perhatian sambil mengegam tangan Weren.
"Jika itu keinginan mama aku akan menurutinya namun perasaanku tidak bisa dipaksa."ujar Weren dan dia memeluk mamanya.
"Sudah, malam. Jangan lupa istieahat,nak. kesehatan lebih penting dibandingkan pekerjaan. Kita juga sudah memiliki semuanya. Mama tidak ingin kamu sakit, mama tahu kinerjamu sangat baik dan profesional namun kesehatan tetap yang utama."ujar mama weren dan menutup pintu ruang kerja Weren.
Setelah kepergian mamanya Weren termenung akan setiap perkataan.mamanya. Dia memang tidak.menyukai Martha sejak awal perkenalan beberapa hari lalu saat dia tanpa sengaja memakai kacamata dan berpenampilan cupu mencoba mengecoh calon tunangannya. Hasilnya sangat tidak bisa diprediksi Martha bahkan mengatainya dihadapan semua orang,mengatakan dia adalah penguntit. padahal tidak sengaja menabrak tubuh Martha ketika berjalan.bersama.
Weren tentu tidak suka dengan kelakuan Martha seperti itu.
Weren kemudian berusaha untuk fokus kembali pada pekerjaannya dikarenakan ingin melanjutkan tidurnya. Dia memounyai sebuah ide kemudian menelepon Namira.
"Selamat Malam, Namira. Apa kautidak terlalu sibuk?" kata Weren dengan suara beratnya.
"Tidak,ada apa bapak menelepon,saya? apakah ada yang bisa saya bantu?"kata Namira dengan nada lembut.
"Tidak, saya hanya meminta tolong menenmani,saya menemui seseorang. Orang itu sangat penting. Apakah kau bisa datang setelah jam pulang kantor 17.30?"ujar Weren lagi dengan penuh penekanan.
"Baiklah, tapi tidak perlu memakai Dress codekan,kakak?"ujar Namira dengan penuh penekanan juga.
"Kita hanya bertemu di Cafe dengannya tidak usah Khawatir. Semua tidak perlu berpakaian formal."ujar Weren dengan sedikit mengulas senyum diujung teleponnya.
"Baiklah, owh Cafe,saya kira restoran. Saya kira sekelas bapak tidak suka dengan Cafe."kata Namira nampak sedikit bingung.
"Saya hanya alergi pada orang selalu bertanya dan berbohong pada,saya." Kata Weren dengan sedikit kesal.
"Tidak, baiklah,saya tidak akan bertanya lagi."ujar Namira dan memutuskan teleponnya takut terlalu menyinggung bosnya.
Namira mempersiapkan diri dan Weren memakai kemeja dan jasnnya.
Weren nampak seperti pangeran berkuda putih. Dia masuk setelah Sebastian asisten rumah tangganya memberikan kunci setelah memarkir mobilnya didepan.
Weren membelah langit Jakarta dengan penuh perhatian.
Weren mengetik sebuah pesan menyuruh Namira bersiap-siap.
To:Namira
Jadilah Bintang untuk malam ini. Jangan kecewakan aku. Ingat bertemu dengan Martha yang Notabenenya Stylish. Pakai pakian terbaikmu,harus gaun yah.
From:Weren
Setelah mengetik pesan itu setelah menepikan mobilnya. Weren kembali mengemudi membelah jalanan sambil bersenandung lagu westlife dari mobilnyapun berbunyi.
An empty street,an empty house
A hole inside my heart
I'm all alone,the rooms are getting smaller
i wonder how,i wonder why
i wonder where they are
the days we had,the songs we sang together,oh yeah.
And oh my love,I'm holding on forever
Reaching for the love that seems so far.
Mengalun indah di ikuti dengan iringan suara Weren. Lagu kesukaannya mengalun indah. Weren cukup terkejut dengan rumah Namira dibilang kecil tidak kecil. Dibilang besar juga tidak terlalu. Dengan tampilan minimalis dan banyak sekali tanaman bunga,menandakan bahwa Ibu dari Namira adalah pecinta bunga sejati.
Weren turun dari mobilnya, Weren mengetuk pintu rumah itu.
"Halo,kamu siapa?"kata Michael cukup terkejut pada saat membuka pintu rumahnya.
"Halo,aku datang menjemput Namira. Kami ada janji."kata Weren to the point.
"Sebentar,kak ini orangnya sudah datang."kata Michael dengan setengah berteriak.
"Tunggu sebentar,Aku sedang merapihkan sisiranku."kata Namira menyahut dari dalam rumah.
"Duduk dulu saja,silahkan masuk."kata Michael lagi menyuruh Weren masuk.
Michael membingbing Weren keruang tamu mereka. Weren merasa heran dengan perabotan Namira miliki dirumahnya. Bukan barang kelas abal-abal dan rata-rata bermerek. Weren curiga Namira bukan gadis biasa.
Tidak lama Namira muncul dengan gaun yang indah dengan potongan kaki memanjang,berwarna dusty pink. Make up menghiasi wajahnya tampak alami.
"Michael,kamu sudah bilang bi ijah ambilkan minum untuk tamu."kata Namira sedikit kesal.
Michaelpun segera menyuruh bi ijah menyiapakan minuman didapur segelas teh dihidangkan.
"Maaf non dan tuan muda,bi ijah tadi sibuk sehingga tidak melihat,jika ada tamu."kata Bi ijah dengan sopan.
"Tidak apa-apa,bi. Inikan salah Michael karena dia sendiri tidak menguguhkan apa-apa."dengan tatapan tajamnya Namira melirik adiknya sendiri.
"Tapi kakak yang dandanya lama,memnyalahkan orang lain tidak menyambut tamu."kata Michael kesal.
"Akh, tidak apa-apa. Kita harus segera berangkat. Jika tidak ingin telat."kata Weren dengan nada tenang.
"Maaf,pak. jadi harus melihat adegan seperti ini."kata Namira merasa bersalah.
"Akh, tidak apa-apa."kata Weren datar.
"Aku pergi dulu,jaga rumah benar. Mama dan papa akan pulang sebentar lagi."kata Namira mengingatkan.
"Kamu perginya lama tidak,kak?"kata Michael lagi.
"Tidak,cuman sebentar.Aku akan menelepon jika memang urgent."kata Namira bernjanji pada adiknya.
Stelah itu mereka berdua pergi dari rumah Namira. Weren merasa penasaran mengenai latar belakang keluarga Namira sebenarnya seperti apa.
Martha sudah sampai dengan dandan ciamik dan sedikkt cetar. Martha menjadi pusat perhatian duduk dengan gaya elegannya.Martha melihat Weren berjalan ke arahnya dimeja nomor 4 dekat jendela restaurant.
"Hai,Weren Whats app?"kata Martha senang.
"Bagaimana kabar bibi karmelia?"kata Martha lagi.
"Mama cukup baik,aku kesini karena bujukkannya. Oh,iya. Mau memberikan sebuah hadiah untukmu. Ini titipan dari mama."kata Weren dan memberikan hadiah itu kepada Martha.
"Terimakasih,mau pesan dulu?"kata Martha lagi.
"Boleh,owh yah ada seseorang ingin aku kenalkan. Bersikap yang sopan."kata Weren mengingatkan Martha.
"Owh,siapa?temanmu atau pacar barumu,membuatku penasaran. Baiklah."kata Martha meremehkan.
Lalu Namira datang ke meja Weren. Weren menarik tangan namira dan menyuruhnya duduk di sebelahnya. Suasana makin canggung ketika Weren mengenalkan Namira sebagai kekasihnya.
Tiba-tiba pelayan datang dengan menu sehingga Martha hanya bisa menatap Namira dari balik buku Menu.
*******
Namira sedikit canggung karena Weren menjemputnya dengan mobil cukup mewah.
Namira bukan tidak terbiasa,namun lebih terkesima melihat sikap Weren kepada dirinya dengan tatapan penuh perhatian.
"Ehm,maaf apakah acnya bisa sedikit dikecilkan?"kata Namira kepada Weren.
"Ooh,apakah kamu kedingan maaf yah."kata Weren menyetel ac kepada dirinya serta menaikkan suhunya.
"Maaf,pak. Jika bapak tidak nyaman dengan saya."kata Namira.
"Akh,tidak justru kamu hari ini tampil sempurna."kata Weren terkesan malu-malu.
"Sebenarnya apa yang bapak butuhkan dari saya?"kata Namira lagi dengan nada setengah tidak percaya.
"Well, if you know what. I have a descusion."kata Weren setengah yakin dan tidak.
"How about?"kata Namira dengan bahasa inggris sedikit tidak pasif.
"My mother,menjodohkan saya dengan seorang wanita. Tapi jelas saya tidak menyukainya."kata Weren pada akhirnya.
"Why you don't like she?"kata Namira penasaran.
"Because she is not good for me.Okay. My problem i don't love she. But my mother pushed me to her. I reall don't like that."kata Weren kembali.
"It's a big trouble. Right?"kata Namira lagi.
"Yes,i hope you can help me about my problem. You can tell my mother,you are my girlfriend and I always pay inyour contracrt."kata Weren lagi dengan percaya diri.
"The Realitionship is not Juke,dude."kata Namira dengan tegas menolak.
"Yes,i know but Sometimes i need your help. I can pay you,promise me you don't talking about my contract,just you and me know about this."kata Weren setengah kesal dengan ucapan Namira tadi.
"How much?you talk me to pay my,right?"kata Namira setengah menantang Weren.
"How about 500,000,000 million? You're definitely interested in it every month."kata Weren menawarkan harga cukup fantasitis.
"For how many years? Not for too long. I don't want to get married late."kata Namira menawar.
"It's only for 2 years, and the marriage contract lasts for 5 years. After that, you're free."kata Weren menaikkan Alisnya.
"Okay,Deal."kata Namira mengangguk setuju.
"Besok,kamu bisa tandatangan kontraknya dikantorku.It's a secret."kata Weren menekankan pada Namira lagi.
"Iya,aku juga tidak berharap lebih."kata Namira dengan anggukan kecil.
Kemudian mereka berdua sampai di restuarant yang mereka tahu ada seorang Martha.
Namira ketoilet dulu karena ingin buang air kecil.
"Pak,saya ketoilet dulu. Tadi kebelet nanti bapak w* saja,berada dimana."kata Namira dengan sopan memberitahu.
"Yahsudah,jangan lama-lama."kata Weren memerintah.
"Yah,semoga bukan buang air besae."seloroh Namira dan berlalu meninggalkan Weren.
Namira melihat pantulan dirinya di cerrmin dengan hati hang dag dig dug. Karena dia harus menghadapi Martha. Namira berusaha tampak anggun.
Namira keluar dari bilik toilet dan mencuci tangannya. Lalu menghampiri meja di sebelah sudut jendela nomor 4.
Namira cukup terkejut tangannya di tarik oleh Weren. Hanya tersenyum,Weren mengenalkan Namira pada Martha. Martha menatapnya tajam seakan akan membelahnya. Untungnya pelayan datang tepat waktu.
"Selamat malam,mau pesan apa bapak dan ibu sekalian?"kata Pelayan itu ramah.
"Hem,Saya ingin pesan steak dengan tingkat kematangan medium rare dan dengan daging tendrolin serta anggur merah keluaran morce 99."kata Weren dengan nada tegas.
"Kalau saya Sup asparagus dengan steak trandelion matang sempurna.Serta lemon tea."kata Martha dengan tetap tenang.
"Kalau aku sup asparagus dan sphagetti bologonise.serta tea china."kata Namira dengan anggun.
"Saya ulangi pesannya 2 tendraloin dengan 1 medium rare dan 1matang sempurna.2 sup asparagus,1 anggur morce 99,1 lemo tea dan 1 teh china serta 1 sphagetti bolgonise. Apakah ada pesanan lain bapak dan ibu sekalian?"kata Pelayan itu ramah.
"Tidak itu saja,dulu. Jangan lama-lama."kata Weren setengah memerintah.
"Baik,terimakasih. Saya permisi."kata pelayan itu dengan sopan.
Sepeninggal pelayan itu mereka bertiga hanya berdiam-diaman seolah hangut dengan pikiran masing-masing. Terutama Martha menahan rasa kesalnya. Weren sungguh keterlaluan katanya dalam hati.