Aila memandang handphone-nya tanpa henti. Ia merutuki tangannya yang dengan ceroboh menekan tulisan follow pada akun i********: Loka. Hendak membatalkan pun ia takut jika notifikasinya sudah terlanjur masuk ke handphone Loka. Ia juga bodoh karena mengetuk dua kali pada gambar Loka yang sedang memandang laut lepas di suatu senja—membelakangi kamera. Salahnya karena ia terlalu kepo dengan Loka karena sudah satu minggu ini ia tidak melihat Loka menemuinya. Mereka tidak saling bertukar nomor handphone sehingga Aila tidak mengetahui kabar Loka. Aila mengetuk-ketuk kepalanya pelan dengan jari telunjuknya. Ia menjadi tidak fokus dalam mengerjakan artikel karena terus merutuki kecerobohannya. Aila pun memutuskan mengembalikan handphone-nya pada menu utama. Ia memilih ke pantry untuk membuat

