“Ada apa, kak?” tanya Kanya setelah putrinya menyimpan handphone-nya di samping tubuhnya. Aila menghembuskan napas lelah. Loka yang tidak memahami apa yang sedang terjadi hanya mampu menjadi pengamat. “Tadi Rena yang telepon, ma. Dia nangis karena rindu suasana di Surabaya. Ia juga merindukan Angga katanya,” jelas Aila. “Rindu kamu juga?” Aila mengangguk. “Biarkan Rena dengan keluarganya, kak. Jangan pernah ikut campur urusan mereka. Sudah! Berhenti merasa bahwa kamu harus ikut andil dalam keluarga mereka. Ingat! Kamu bukan siapa-siapa di keluarga mereka. Mereka hanya menganggap kamu sebagai sahabat Angga,” tegas Kanya. Aila mengangguk lagi. “Sudah cukup Rena merengek saat perjalanan kita kembali ke Surabaya setelah kamu dari rumah bulek. Jangan biarkan ia bergantung penuh ke k

