Pukul 8 pagi, Anindya tersenyum kecil mendapati dirinya berada dalam dekapan Adyatma. Menenangkan Adyatma lebih menguras tenaga ternyata, lebih tepatnya dia harus menahan kupu-kupu yang menggelitik saat Adyatma tidak membiarkan dirinya jauh hingga tanpa sadar keduanya tertidur pulas di sofa ruang tamu. Anindya menaikkan pandangan, memandang wajah tampan dan tegas Adyatma dengan lekat. Dia, benar-benar takut semalam. Pikir Anindya, pelan-pelan menurunkan lengan Adyatma dari pinggang nya dan perlahan bangun tidak lupa menyelimuti Adyatma sebelum dia beranjak. Anindya ke wastafel membasuh muka setelah itu meraih ponsel guna menghubungi tuan Dante. Ia menjauh sedikit dari Adyatma setelah panggilannya terhubung. ‘Halo kakek, bagaimana keadaan Asrani dan mas Bian.’ ‘Alhamdulillah nak, Ran

