Pikir Belakangan

1133 Kata

Aku oleng, ternyata Presdir paham lagu yang baru saja aku nyanyikan. Tatapannya marah, mati ngeri. Aku menelan ludah. Gemetar. Aku sudah membangunkan singa tidur. Sepertinya selama ini aku terlena karena Presdir bersikap baik padaku. Lupa bahwa dia bisa membunuh orang dengan gampang. Dua pengawal yang berada di bawah panggung tak berani menyaksikan ini. Sementara orang-orang terus bersorak supaya Presdir menyanyi. Sepertinya penonton sudah lupa diri, mereka pikir aku bisa mengendalikan Presdir. Sekali lagi aku menelan ludah. Takut. "Jangan marah di sini, ya? Aku janji bakal nurutin keinginan, Mas. Please, ini pesta orang tuaku. Jangan buat heboh di sini, ntar orang tuaku jadi bahan ghibahan tetangga dan netizen." Aku berbisik padanya. Berharap dia mau mengabulkan, separah apapun hu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN