Sorot mata Ravin beradu dengan Okis, tak ada yang mau mengalah. Semua pelayan yang melihat kedatangan tuan besarnya segera berbaris, wajah mereka menunduk dan saling melirik. Tak berani melihat persaingan sengit antara kakak beradik tersebut. Hawa panas di sore hari terasa kembali, padahal matahari sudah hampir hilang sepenuhnya. Ravin melingkarkan tangannya di pinggang Rimay, mempererat tubuh mereka yang menempel. "Apapun yang terjadi dengan istriku, itu urusanku bukan adik iparnya. Jadi bersikaplah sewajarnya adik." Ravin menekan kata 'adik' dua kali, berusaha menegaskan posisinya dan posisi Okis. Memberi tahu kepada adiknya itu untuk wajar dalam bersikap. "Seorang adik melindungi kakaknya, itu wajar, 'kan?" sahut Okis. Mereka dari satu darah yang sama, yakni tak pernah mau men

