Ruby menarik napas panjang, memaksa dirinya tetap tegak berdiri. Suara pidato wali kota bergema di aula, namun telinganya hanya menangkap detak jantungnya sendiri. Anthony masih menatapnya khawatir, tapi Ruby pura-pura sibuk menuliskan kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut sang wali kota. Tangan Ruby gemetar saat pena bergerak di atas kertas. Pandangannya sesekali kabur, lalu fokus kembali. Ia tahu, kalau ia terus menunjukkan kegugupan, Anthony akan semakin curiga. Jadi, dengan segala kekuatan yang tersisa, Ruby memoles wajahnya dengan senyum tipis dan sorot mata penuh pura-pura. Pidato akhirnya berakhir, tepuk tangan bergema memenuhi ruangan. Ruby ikut bertepuk tangan pelan, meski pikirannya berteriak ingin segera keluar. Tapi langkah Greyson—atau mungkin hanya bayangan keberadaan

