Ruby menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya masih terguncang. Suara langkah Greyson yang menjauh di koridor apartemen seperti gema yang tak mau padam di telinganya. Bahkan setelah pintu terkunci rapat, bayangan pria itu masih terasa hadir, seakan-akan ia tetap mengawasi dari balik dinding. “Tarik nafas, Ruby… tarik nafas,” gumamnya pada diri sendiri, meski dadanya tetap sesak. Ia bangkit, berjalan limbung menuju dapur, menuang segelas air, lalu meneguknya terburu-buru. Tenggorokannya terasa kering, lidahnya kelu. Pikiran Ruby berputar cepat, mencoba menimbang-nimbang langkah selanjutnya. Satu hal yang jelas ia tidak bisa terus-terusan seperti ini. Diam berarti membiarkan Greyson semakin mengendalikan hidupnya. Tapi melawan—tanpa rencana matang—sama saja bunuh diri. Ruby meraih

