“Ruby, kau baik-baik saja?” Ruby terdiam seribu bahasa. Suara Elijah seakan hanya lewat begitu saja di telinganya. Ia menunduk semakin dalam, jemarinya menggenggam cangkir kopi kosong yang baru saja disodorkan oleh pelayan padanya. Nafasnya tampak tidak beraturan, tapi ia berusaha keras untuk menyembunyikannya. “Aku… aku baik-baik saja,” jawabnya pelan, pun suaranya nyaris tak terdengar. Elijah menyipitkan mata, memperhatikan gerak-gerik puan itu. “Kau tidak terlihat baik-baik saja sekarang. Ruby, katakan padaku—” Ruby cepat-cepat memotong dengan senyum hambar. “Tidak ada apa-apa, Elijah. Aku benar-benar baik-baik saja. Aku hanya… sedikit stres dengan pekerjaanku. Rekanku, Anthony, kadang dia bisa sangat menyebalkan jika sedang kerja. Dia suka sekali mendebatku terus, padahal jelas ak

