Mulai Diawasi?

1341 Kata
Sorakan di depan hotel makin riuh ketika sebuah mobil sport hitam berkilau berhenti tepat di ujung karpet merah. Blitz kamera seketika menyala bertubi-tubi. “Itu dia! Itu mobil Greyson!” seru salah seorang wartawan dengan suara melengking. Ruby spontan menegakkan tubuh, meski lututnya terasa lemas. Inilah momen yang ditunggu semua orang. Dan di saat bersamaan, ia merasa seluruh udara di sekelilingnya mendadak lenyap. Pintu mobil terbuka perlahan. Seorang pria jangkung dengan setelan jas hitam Armani turun dengan langkah penuh wibawa. Sosoknya memancarkan aura dingin sekaligus memikat. Greyson Matteo DeLuca. Kerumunan wartawan langsung pecah. Suara panggilan nama Greyson bersahutan. Mikrofon, kamera, dan recorder terjulur ke arahnya. “Mr Greyson, apakah benar Anda akan mengumumkan akuisisi terbaru malam ini?” “Apakah kabar Anda akan maju ke dunia politik itu benar?” “Mr Greyson, bisakah Anda berkomentar soal skandal keuangan yang melibatkan anak perusahaan Anda?” Ruby berdiri di antara desakan itu semua. Mikrofon di tangannya bergetar. Pandangan matanya tak bisa lepas dari sosok pria yang baru saja ia lihat membunuh seseorang dengan tenangnya. Ia tidak bisa menghapus suara tembakan itu dari kepalanya. Greyson berhenti sejenak, menoleh ke arah kerumunan. Senyum tipis terbentuk di bibirnya—sebuah senyum yang sama sekali tidak hangat. Ia tampak tak tergoyahkan oleh riuhnya pertanyaan. Namun tiba-tiba, sepasang mata abu-abu dingin itu bertemu dengan mata Ruby. Darah Ruby serasa berhenti mengalir. Napasnya tercekat. Ia tahu itu hanya sekilas—barangkali Greyson hanya menatap ke arah wartawan secara umum. Tapi Ruby bisa merasakan sorot matanya menembus ke dalam dirinya, seakan Greyson tahu siapa dia. “Ruby,” bisik Anthony di sampingnya, sambil mendorong mikrofon sedikit ke depan. “Kau harus coba dapatkan komentarnya. Ayo, ini kesempatan kita.” Ruby menelan ludah, menatap pria itu lekat-lekat. Seluruh tubuhnya menjerit untuk kabur, tapi naluri jurnalistiknya menahan langkahnya tetap di tempat. “Ruby, cepat! Angkat mikrofonnya! Kita harus dapat satu kalimat darinya!” seru Anthony kembali. Ruby yang tersadar, buru-buru mengangkat mikrofonnya, menahan gemetar di tangannya. “Tuan Greyson!” serunya bersama para wartawan lain. “Bagaimana komentar Anda soal merger besar minggu depan? Apa benar rumor tentang ekspansi ke Eropa Timur?” Greyson berhenti sejenak. Matanya menyapu kerumunan, dingin, tajam—hingga akhirnya berhenti pada Ruby. Seketika darah Ruby membeku. Itu tatapan yang sama seperti di gudang tadi. Tatapan yang bisa menelanjangi jiwa seseorang. Untuk sesaat, ia yakin Greyson menyadari keberadaannya di sana. Ia yakin pria itu tahu. Namun Greyson justru tersenyum kecil. “Bisnis akan selalu berkembang ke arah yang menjanjikan,” jawabnya singkat. Suaranya rendah, penuh kendali. “Untuk detailnya, kalian akan segera mengetahuinya melalui konferensi resmi. Malam ini, tolong izinkan aku untuk menikmati pesta.” Sorakan langsung pecah, blitz kamera kembali menyala secara gila-gilaan. Sementara itu, Ruby justru menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Namun dadanya tetap saja terasa sesak. Anthony menepuk lengannya pelan. “Lihat? Kita berhasil mendapatkan komentarnya. Itu sudah lebih dari cukup.” Ruby berusaha menanggapi dengan anggukan kecil, tapi tubuhnya justru terasa kaku. Tangannya menggenggam erat mikrofon, hampir menghancurkan logonya. Greyson lalu melangkah masuk ke hotel, diikuti rombongannya. Kerumunan kembali berisik, memanggil namanya, tapi ia tidak lagi menoleh. Ruby masih berdiri terpaku, wajahnya pucat. Suara Anthony terdengar samar-samar di telinganya. “Kau luar biasa, Ruby. Tapi kenapa wajahmu seperti orang yang baru saja melihat hantu?” Ruby memalingkan wajah, menatap pintu hotel yang baru saja menelan sosok Greyson ke dalamnya. Ia tahu hidupnya baru saja berubah selamanya. Dan di dalam sakunya, ponsel dengan rekaman pembunuhan itu terasa semakin berat—seakan menjadi bom waktu yang setiap saat bisa meledak. Puan itu masih berdiri kaku, meski kerumunan wartawan mulai bubar perlahan setelah Greyson menghilang di balik pintu hotel. Sorak-sorai berganti dengan bisik-bisik kecil, para reporter sibuk menulis catatan, menelpon kantor redaksi, atau menonton kembali hasil rekaman mereka. Sementara itu, Ruby merasa kakinya berat seolah tertancap di tanah. Ponsel di sakunya bergetar—pesan dari Anthony yang masuk ke grup tim mereka. [Footage Greyson aman, siap untuk diedit. Berita malam ini, aku pastikan akan meledak selama seminggu penuh!] Ruby menatap layar ponselnya sebentar, lalu buru-buru menutupnya. Tangannya kembali meraba saku jaket. Ponsel yang menyimpan rekaman rahasia itu seakan mendesaknya, antara menyerahkan rekaman tersebut ke kantor, atau justru menyimpannya. “Ruby, ayo kita kembali ke studio. Kalau tidak cepat, berita kita akan keduluan media lain,” ujar Anthony sambil mengangkat tripod kamera. “Apa kau mendengarku?” Ruby tersentak. “Ya… ya, aku dengar.” Mereka berjalan ke arah mobil van stasiun TV yang terparkir di tepi jalan. Ruby masuk ke kursi penumpang depan, menatap keluar jendela. Jalanan penuh mobil mewah yang baru datang ke pesta. Namun sesaat sebelum mobil melaju, Ruby melihat sesuatu. Di seberang jalan, berdiri seorang pria berpakaian hitam dengan ear-piece di telinga. Tatapannya lurus ke arah Ruby. Ia tidak bergerak, tidak mengedip, hanya menatapnya. Ruby membeku. Ia mengenali wajah itu—salah satu dari dua pengawal yang tadi berada di gudang bersama Greyson. “Anthony…” suara Ruby nyaris hilang. “Kau lihat pria itu?” Anthony melirik sekilas. “Pria mana? Itu? Mungkin hanya petugas keamanan hotel.” Ruby cepat-cepat menundukkan kepalanya. Ia tahu, ia tidak mungkin bisa mengatakan apa pun saat ini. Sebab ia yakin, Anthony tidak akan percaya dengan apa yang ia katakan, bahwa pria itu baru saja membantu Greyson menyingkirkan seorang mayat. +++ Tiba di studio, Anthony langsung memberikan hasil rekaman live streaming tadi untuk diedit dan ditayangkan ulang. Sementara itu, Ruby justru langsung berjalan menuju meja kerjanya. Wajahnya benar-benar tampak pucat, tatapannya pun terlihat sangat resah dan khawatir. Semenjak menyadari jika salah seorang pria yang ia lihat di gudang bersama dengan Greyson tadi, Ruby benar-benar diam seribu bahasa. Ia bahkan tidak mendengar suara berisik dari rekan-rekannya yang sedang heboh menanggapi cerita dari Anthony saat ini. Isi kepala Ruby terlalu berisik saat ini. Ia terus saja berpikir jika pasti dirinya sedang di incar. Ruby duduk dengan gelisah. Ia meraih ponselnya yang ada di saku. Rasanya seperti sedang menyentuh sebuah bara api yang tak bisa dipadamkan. Tanpa sadar, tangannya bergetar. Tatapannya penuh dengan kegelisahan. Antara ingin mengungkapkan jika Greyson Matteo DeLuca yang sedang dieluh-eluhkan saat ini, ternyata adalah seorang penjahat—sekaligus seorang ketua mafia yang berbahaya. CEO muda itu tak seramah senyumannya. “Apa yang harus aku lakukan?” gumamnya dalam dilema. “Apa aku harus benar-benar menyerahkan rekaman ini pada pihak berwajib sekarang juga? Tapi, aku takut jika pria itu ternyata memang benar-benar sedang mengincarku.” Ruby menghela nafas berat, sembari menggenggam erat ponselnya. Ia bingung setengah mati. Ini benar-benar pilihan yang sulit untuknya. Belum sempat Ruby mengambil keputusan, suara gaduh dari ruangan redaksi memecah lamunannya. Suara telepon kantor berdering nyaring, disusul pekikan salah satu produser. “Anak-anak! Kalian tidak akan percaya ini!” seru pria berkemeja biru yang berlari masuk sambil mengacungkan kertas catatan. Wajahnya bersinar penuh semangat. “Barusan pihak DeLuca Corporation menghubungi kita!” Semua yang ada di sana seketika langsung menoleh. Ruby pun ikut menegakkan tubuh, jantungnya mendadak berdegup kencang. “Apa maksudmu?” tanya Anthony yang paling dulu bereaksi. Produser itu mengangkat kertas di tangannya tinggi-tinggi. “Mereka membatalkan rencana konferensi pers resmi. Alih-alih mengundang semua media, mereka memilih kita—ya, kita!—untuk wawancara eksklusif dengan Greyson Matteo DeLuca soal merger besar minggu depan, sekaligus menanggapi rumor ekspansi ke Eropa Timur!” Seketika ruang redaksi meledak oleh sorak-sorai. Para reporter bersorak kegirangan, beberapa langsung bertepuk tangan, dan sebagian lagi sudah membicarakan headline besar untuk berita besok. “Gila! Ini benar-benar mengejutkan! Bahkan baru hitungan jam, sejak live streaming tadi. Tiba-tiba saja pihak mereka mengabari kita? Wahh!” seru seorang editor. “Dan untuk pertama kalinya juga ya, Greyson bersedia diwawancara secara eksklusif!” Anthony langsung menoleh ke arah Ruby dengan senyum lebar. “Kau dengar itu? Semua berkat kau, Ruby! Tadi kau berhasil membuatnya berhenti dan menjawab pertanyaanmu. Jelas sekali Greyson terkesan. Itu sebabnya dia memilih kita!” Ruby sontak membeku. Dunia seolah berputar terbalik. Seluruh tubuhnya menegang saat produser kembali bersuara lantang. “Dan dengar baik-baik, pihak DeLuca Corporation meminta secara khusus, agar Ruby Foster yang mewawancarainya.” Pupil mata Ruby sontak melebar sempurna. “A—apa?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN