Sore ini, Greyson sudah bersiap untuk melakukan wawancara eksklusif bersama dengan salah satu stasiun TV yang ia pilih. Greyson tidak hanya akan melakukan wawancara untuk membicarakan soal merger besar minggu depan yang akan ia lakukan, sekaligus menanggapi mengenai rumor ekspansi ke Eropa Timur saja. Tapi juga secara khusus, ingin bertemu langsung—bertatap muka dengan wanita itu—Ruby Foster.
“Tuan, apa rencana kita selanjutnya? Apa perlu, setelah wawancara itu berlangsung, kita singkirkan wanita itu?”
Greyson menggelengkan kepalanya, tanpa menoleh sedikit pun pada lawan bicaranya. Pandangannya justru terfokus pada iPad yang ada di atas meja kerjanya. Sebuah rekaman yang menunjukkan, bahwa wanita itu—Ruby Foster, mengetahui semua apa yang ia lakukan pada salah seorang pengkhianat.
Mudah bagi Greyson untuk mendapatkan rekaman cctv yang ada di hotel tersebut, atau bahkan melenyapkan semua bukti-buktinya.
“Lalu langkah apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Tuan? Bukankah tujuan Anda menginginkan dia yang mewawancarai Anda secara eksklusif, hanya untuk menyingkirkannya? Dia adalah saksi mata yang harus segera disingkirkan, Tuan.”
Greyson mengangkat pandangannya ke arah lawan bicaranya, dengan tatapan tajam. “Kau pikir, aku sebodoh apa, Luwis? Sampai membiarkan seorang saksi mata berkeliaran begitu saja?”
“Saya tidak bermaksud begitu, Tuan. Saya hanya—”
“Cukup!” sela Greyson dengan cepat. “Di sini, hanya aku yang berhak memutuskan apa yang harus dilakukan untuk wanita itu. Tapi tentu, aku tidak bisa menyingkirkannya secara langsung. Dia, merupakan seorang jurnalis yang cukup mempunyai nama. Menghilangnya dia secara mendadak, justru akan menjadi sebuah tanda tanya besar di ruang publik. Jadi, langkah pertama yang harus dilakukan adalah, mengancamnya, menakutinya, dan membuatnya bungkam. Dan asal kau tahu, Luwis, aku tertarik untuk menjadikannya sebagai mainan. Sudah lama, aku tidak bermain-main dengan seseorang.”
Luwis tertegun mendengar kalimat terakhir Greyson. Ia tahu betul arti kata “bermain-main” dalam kamus sang bos. Itu bukan sekadar candaan ringan, melainkan permainan berbahaya yang kerap berakhir dengan luka, hancur, bahkan kematian bagi pihak yang dijadikan objek.
“Mainan, Tuan?” Luwis akhirnya membuka suara, meski ragu.
Greyson menyandarkan tubuhnya ke kursi, kedua tangannya terlipat di depan d**a. Senyum tipis terbentuk, tapi dingin, seperti pisau yang siap menebas kapan saja. “Ya. Wanita itu punya sesuatu yang berbeda. Sorot matanya semalam… ia tidak sekadar takut. Dia juga menantang. Ada rasa ingin tahu yang berbahaya di balik tatapannya. Dan itu membuatku penasaran.”
“Tapi Tuan…” Luwis menelan ludah, memilih kata-katanya hati-hati. “Dia bisa menjadi ancaman. Jika dia memberanikan diri untuk membuka mulut, semua orang akan mendengar.”
Greyson terkekeh pelan, nada tawanya rendah dan nyaris menyeramkan. “Itulah kenapa aku akan memegang kendali, Luwis. Ketakutan adalah senjata yang paling kuat. Jika ia cerdas, dia akan memilih untuk diam. Tapi kalau dia bodoh…” Greyson mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Luwis lurus dengan sorot mata tajam. “…dia akan belajar dengan cara yang menyakitkan.”
Suasana ruangan itu mendadak berat, seolah udara berhenti bergerak.
“Baik, Tuan. Saya akan memastikan semua persiapan keamanan sesuai instruksi. Tidak ada satu pun pihak luar yang bisa menganggu Anda atau wanita itu,” ucap Luwis akhirnya, menunduk dalam.
Greyson bangkit, meraih jas hitamnya dan mengenakannya dengan gerakan elegan. “Bagus. Pastikan juga, sebelum wawancara dimulai, tim Ruby mendapat perlakuan istimewa. Kita buat seolah-olah dia dipilih karena profesionalismenya. Jangan sampai ada yang curiga.”
“Baik, Tuan.”
Greyson berjalan pelan ke arah pintu, langkahnya mantap dan penuh wibawa. Sesaat sebelum keluar, ia berhenti, lalu menoleh dengan tatapan dingin. “Dan satu hal lagi, Luwis. Jangan sampai ada orang lain yang menyentuh Ruby. Dia adalah milikku.”
Seketika bulu kuduk Luwis meremang. Ia tahu, kalimat itu bukan hanya klaim atas seorang wanita. Itu adalah pengumuman bahwa Ruby Foster, mulai detik ini, masuk ke dalam permainan Greyson Matteo DeLuca. Sebuah permainan berbahaya yang hanya punya dua kemungkinan akhir, yaitu tunduk atau hancur.
+++
Langkah Greyson terdengar berat namun mantap ketika ia keluar dari ruang kerjanya. Para staf yang berpapasan dengannya sontak tersenyum dan menunduk memberikan hormat. Sementara itu, Luwis berjalan setengah langkah di belakangnya.
Begitu memasuki lobi pribadi di lantai bawah, mobil hitam mengilap sudah terparkir, pintunya terbuka menunggu sang tuan. Greyson masuk dengan elegan, duduk bersandar di kursi belakang, sementara Luwis segera menutup pintu. Mesin menyala, mobil pun meluncur keluar menuju hotel La Riviera, lokasi wawancara yang sudah disiapkan dengan mewah.
Di dalam mobil, keheningan sempat mendominasi, sampai Greyson akhirnya membuka suara lebih dulu.
“Pastikan mereka tiba lebih dulu. Aku ingin melihat bagaimana wanita itu menunggu, bagaimana ekspresinya ketika tahu aku akan masuk ke dalam ruangan. Semua orang bisa berpura-pura percaya diri di depan kamera, Luwis. Tapi hanya sedikit yang bisa menyembunyikan rasa takut saat menunggu.”
Luwis mengangguk. “Sudah saya atur, Tuan. Tim medianya akan datang lebih awal. Mereka diberi akses istimewa ke lounge eksekutif. Semua orang akan berpikir itu bagian dari kerja sama yang profesional.”
Greyson menatap keluar jendela, menimbang kata-kata Luwis dengan senyum samar. “Bagus. Aku ingin melihat sejauh mana keberaniannya. Kalau dia pintar, dia akan sadar dirinya sedang berada di sarang serigala. Kalau tidak… maka malam ini akan jadi pelajaran yang tidak akan pernah ia lupakan.”
Di sisi lain kota, Ruby tengah menyiapkan diri. Di meja kaca kamar hotel yang disediakan untuknya, berserakan kertas catatan berisi pertanyaan wawancara. Namun matanya terus kembali menatap cermin, mencoba melawan keresahan yang tak juga reda.
"Ruby, kau harus fokus." James, produsernya, masuk dengan segelas air di tangan. "Ini adalah kesempatan emas. Semua stasiun lain akan iri padamu. Jangan sia-siakan kesempatan ini dengan rasa gugupmu yang tidak jelas itu."
Ruby mencoba tersenyum, meski bibirnya terasa kaku. "Aku tahu… hanya saja, ada sesuatu tentang pria itu."
James terkekeh kecil. "Greyson memang bukan CEO biasa. Dia memiliki kharismatik, cerdas, dan penuh teka-teki. Tapi itulah yang membuat wawancara ini akan meledak di publik."
Ruby menunduk, meremas jemarinya. Bukan hanya karismanya, tapi rahasia gelapnya. Ia tahu terlalu banyak. Dan justru itulah yang membuatnya merasa seperti seekor rusa yang diundang masuk ke dalam sarang serigala.
“Ya, aku mengerti. Tapi kenapa juga namanya selalu diagung-agungkan di dunia bisnis? Sebesar apa pengaruhnya seorang Greyson? Sampai semua orang menginginkan berita tentangnya? Padahal, ada banyak orang yang menurutku jauh lebih layak untuk disorot.”
James menaikkan alisnya, lalu mendudukkan diri di kursi seberang Ruby. “Ruby, coba kau baca ulang riwayat tentang DeLuca Corporation. Jelas-jelas bahwa mereka sangat berpengaruh. Banyak yang mendapatkan keuntungan besar setelah bekerjasama dengannya.”
“Aku sudah tahu, James.”
“Lalu? Ucapanmu sebelumnya seolah menjelaskan jika kau masih meragukannya.”
“Tapi ini bukan soal—”
“Sudahlah Ruby, sekarang kau harus fokus dan persiapkan diri dengan baik.” sela James dengan cepat. “Baca ulang lagi semua pertanyaan yang harus kau ajukan padanya. Dan coba nanti saat wawancara berlangsung, buat suasana menjadi sesantai mungkin, agar Greyson merasa nyaman saat sesi tanya-jawab nanti. Jangan sampai ia merasa sedang ditodong pertanyaan. Usahakan buat dia merasa nyaman.”
Tidak ada pilihan lain bagi Ruby selain mengangguk. Gejolak dalam dadanya semakin besar, sebab rasanya ingin berteriak dan mengungkapkan kebenaran jika pria yang sedang menjadi incaran banyak orang adalah orang yang jahat. Bahkan sangat berbahaya.
“Ya sudah, kalau begitu aku tinggal dulu. Aku ingin melihat ruangan untuk sesi wawancara nanti kita dengannya. Anthony di sana kan?”
Ruby mengangguk. “Ya, dia izin ke sana tadi sebelum kau datang. Mungkin, mengatur kameranya untuk pengambilan video wawancara nanti.”
James berdiri, merapikan jasnya, lalu menepuk pundak Ruby sekilas sebelum pergi. “Santai saja. Ingat, ini kesempatan besar. Jadi, jangan gugup nanti. Masa iya, seorang Ruby Foster mendadak merasa gugup saat akan melakukan wawancara eksklusif dengan Mr Greyson?”