Bertatap Muka

811 Kata
Hotel La Riviera tampak jauh lebih ramai sore itu. Tim media Ruby telah lebih dulu tiba, menempati lounge eksekutif sesuai arahan panitia. Anthony sibuk menata kamera, memastikan pencahayaan sempurna. James, dengan gaya produser yang selalu percaya diri, berbincang dengan manajer hotel untuk mengecek detail teknis. Namun Ruby duduk agak terpisah, menyandarkan punggung di kursi empuk, tangannya menggenggam gelas berisi air yang sudah dingin. Pandangannya terus mengarah pada pintu utama lounge, menanti momen itu—saat Greyson DeLuca melangkah masuk. Dan benar saja, tepat beberapa menit kemudian, langkah berat bergema di lorong marmer. Pintu terbuka. Greyson masuk dengan wibawa yang langsung menyita perhatian semua orang. Jas hitamnya terpotong sempurna, dasi gelapnya rapi, dan sorot matanya dingin namun memesona. Beberapa staf hotel hampir membungkuk terlalu dalam, seolah sedang menyambut seorang raja. Ruby merasa jantungnya meloncat ke tenggorokan. Napasnya tercekat sejenak, tapi ia cepat-cepat mengendalikan diri. Ia berdiri, memasang senyum profesional, meski jemari yang menggenggam gelas terasa sedikit bergetar. “Selamat sore, Mr. Greyson,” sapa James dengan penuh percaya diri, menyalami Greyson. Greyson membalas dengan senyum tipis, namun tatapannya jelas tidak tertuju pada James. Matanya langsung mencari Ruby—dan menemukannya. Ruby menahan napas ketika sorot mata tajam itu menghantam dirinya. Ada sesuatu yang membuat udara seketika lebih berat. Tatapan itu tidak sekadar menilai. Ia merasa sedang diukur, ditimbang, bahkan dipelajari. “Miss Foster.” Suara Greyson dalam, berat, dan menggetarkan. Ia melangkah pelan ke arahnya, menyalami tangannya sejenak. Jemari Greyson hangat tapi mencengkeram terlalu erat, seakan sengaja menunjukkan bahwa kendali ada di tangannya. “Saya sudah lama menunggu kesempatan ini.” Ruby membalas senyum seperlunya. “Kebanggaan bagi saya, bisa mendapatkan wawancara eksklusif ini, Mr. Greyson.” Greyson menatapnya lebih lama dari seharusnya, lalu melepaskan tangannya dengan elegan. “Mari kita mulai, saya tidak suka membuang waktu.” +++ Ruangan wawancara disiapkan begitu mewah, dengan latar belakang panorama kota dari balik kaca besar. Kamera sudah terpasang, lampu menyala, dan kursi elegan berhadapan. Ruby duduk, mencoba mengatur napas, sementara Greyson di seberangnya tampak sepenuhnya santai, seperti singa yang sedang beristirahat di kandang emasnya. Anthony memberi aba-aba. “Dalam hitungan tiga… dua… satu…” Wawancara dimulai. Ruby membuka dengan pertanyaan standar—tentang merger besar, visi DeLuca Corporation, ekspansi ke Eropa Timur. Greyson menjawab dengan fasih, setiap kalimatnya penuh keyakinan. Suaranya mantap, sorot matanya sesekali menghantam Ruby, membuatnya harus ekstra hati-hati menjaga ekspresi. Tapi Ruby bukan wartawan pemula. Ia menunggu momen, mencari celah, lalu perlahan menggeser topik. “Mr. Greyson, banyak orang mengagumi kesuksesan Anda. Namun ada juga yang mengatakan, kesuksesan besar selalu meninggalkan jejak bayangan. Bagaimana Anda menanggapi anggapan bahwa DeLuca Corporation sering memakai cara-cara yang kurang konvensional?” Sejenak, ruangan terasa lebih dingin. Greyson menoleh, menatap Ruby lekat-lekat. Senyum tipis kembali muncul, tapi kali ini lebih berbahaya. “Kurang konvensional? Menarik. Bisa jelaskan maksud Anda?” Ruby berdeham, menahan diri agar tidak terburu-buru. “Beberapa pihak menyebut, keputusan-keputusan Anda terlalu cepat, bahkan agresif. Ada juga isu bahwa lawan bisnis Anda sering mendadak menghilang dari peta kompetisi. Apakah itu hanya kebetulan?” James yang duduk di luar kamera hampir tersedak. Pertanyaan Ruby jauh lebih menusuk daripada yang ia bayangkan. Greyson tidak langsung menjawab. Ia bersandar, mengusap dagunya perlahan. Lalu ia tertawa pelan. “Miss Foster, dunia bisnis bukan tempat untuk orang yang lemah. Jika seseorang ‘menghilang’, mungkin itu karena mereka tidak cukup kuat untuk bertahan. Saya hanya memastikan, DeLuca Corporation selalu berada di puncak. Dan untuk itu, saya tidak meminta maaf.” Tatapannya menancap tajam ke Ruby, membuat bulu kuduknya berdiri. “Dan Anda, sebagai jurnalis, tentu tahu bahwa keberanian mengajukan pertanyaan tajam adalah pedang bermata dua. Bisa membawa kejayaan atau kehancuran.” Ruby menelan ludah. Ucapan itu terdengar seperti peringatan pribadi yang hanya ditujukan kepadanya. Namun ia tidak mundur. Ia mengangkat dagunya sedikit, menatap Greyson balik. “Saya percaya publik berhak tahu siapa sosok di balik nama besar DeLuca Corporation. Dan tugas saya, adalah mencari kebenaran.” Keheningan sejenak. Anthony menahan napas di balik kamera. James menutup wajahnya, nyaris putus asa. Greyson akhirnya kembali tersenyum—senyum samar yang membuat Ruby merasa jantungnya berdetak tak karuan. “Baiklah, Miss Foster. Kalau begitu, lanjutkan.” +++ Malam itu, wawancara Ruby dan Greyson menjadi sorotan utama di layar kaca. Publik terpukau dengan kharisma Greyson, tapi juga terpesona dengan keberanian Ruby. Namun di balik layar, permainan baru saja dimulai. Begitu kamera dimatikan dan kru sibuk membereskan peralatan, Greyson mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Ruby. Suaranya lirih, tapi tegas. “Kau sangat berani, Miss Foster. Aku suka itu. Tapi ingat satu hal… keberanian seperti itu ada harganya. Dan aku akan pastikan, kau yang membayarnya.” Ruby merasakan gelombang dingin merambat ke tulang punggungnya. Ia tersenyum tipis, menyembunyikan rasa gentar. “Saya terbiasa membayar harga, Mr. Greyson. Pertanyaannya, seberapa besar harga yang Anda mampu bayarkan?” Tatapan mereka saling mengunci. Tidak ada yang mau mengalah. Dan di sanalah, permainan berbahaya antara Greyson dan Ruby benar-benar dimulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN