“Saya terbiasa membayar harga, Mr. Greyson. Pertanyaannya, seberapa besar harga yang Anda mampu bayarkan?”
Greyson tidak segera menjawab. Ia hanya menatap Ruby dengan mata yang berkilat seperti predator yang baru saja menemukan mangsanya. Senyum samar masih menggantung di bibirnya, membuat Ruby sulit menebak apakah pria itu benar-benar menganggap kata-katanya tadi sebagai tantangan, atau justru sebagai sebuah undangan.
Anthony dan James masih sibuk membereskan perlengkapan kamera. Beberapa staf hotel keluar masuk ruangan, tapi Ruby merasa seolah hanya ada dirinya dan Greyson di sana. Udara mendadak terasa lebih berat, dingin, dan menyesakkan.
Greyson bersandar ke kursinya, menautkan jari-jari tangannya dengan santai. “Kau tahu, Miss Foster… kebanyakan jurnalis datang padaku dengan wajah penuh kagum. Mereka takut salah ucap, takut salah tanya. Tapi kau…” Ia berhenti sejenak, meneliti wajah Ruby dalam-dalam. “…kau berbeda. Kau seperti seseorang yang sudah tahu lebih banyak daripada yang seharusnya.”
Ruby menahan napas. Ia ingin segera mengalihkan tatapan itu, tapi harga dirinya menolak. “Seorang jurnalis memang harus tahu lebih banyak, Mr. Greyson. Itu pekerjaan saya.”
Greyson terkekeh rendah, suara tawanya serupa geraman halus. “Benar. Tapi ada batas antara tahu… dan tahu terlalu banyak.”
Ruby merasakan peringatan terselubung di balik kalimat itu, tapi ia tidak bergeming. “Kalau saya tahu terlalu banyak, mungkin karena orang-orang mencoba menutupinya dengan terlalu keras.”
Untuk sesaat, ruangan menjadi hening kembali. Greyson tidak langsung menjawab, hanya menatapnya, kali ini dengan senyum yang lebih tipis, lebih berbahaya.
Luwis masuk beberapa detik kemudian, mendekati Greyson dengan langkah hati-hati. “Tuan, mobil sudah disiapkan. Kita bisa meninggalkan hotel kapan saja.”
Greyson tidak menoleh, tetap fokus pada Ruby. “Tidak usah terburu-buru. Aku masih ingin berbicara dengan Miss Foster… secara pribadi.”
Luwis tampak ragu, melirik sekilas ke arah Ruby yang kini jelas terlihat menegang. “Baik, Tuan.” Ia mundur beberapa langkah, memberi isyarat pada staf lain untuk keluar.
Kini hanya tersisa mereka berdua di dalam ruangan.
Greyson berdiri, berjalan perlahan mengitari kursi Ruby, seperti singa yang sedang menilai seekor rusa. “Kau tahu, Ruby… orang-orang selalu mencoba mendekatiku untuk berbagai alasan. Uang, kekuasaan, atau sekadar nama besar yang bisa membuat karier mereka melesat. Tapi kau… aku masih belum bisa membaca apa yang sebenarnya kau inginkan dariku.”
Ruby mengangkat kepalanya, mencoba menjaga nada suaranya tetap tegas. “Yang saya inginkan sederhana. Kebenaran.”
Greyson berhenti tepat di belakang kursinya. Ruby bisa merasakan hawa panas napasnya di leher, membuat bulu kuduknya berdiri. “Kebenaran…” ulang Greyson dengan nada rendah, hampir seperti bisikan. “Sayangnya, kebenaran seringkali tidak indah. Ia kotor, penuh darah, dan tak jarang berakhir dengan kematian.”
Ruby menelan ludah, tapi tetap berusaha mempertahankan wibawanya. “Itu risiko yang sudah saya pilih sejak memutuskan menjadi jurnalis. Dan saya sama sekali tidak menyesalinya.”
Greyson tertawa pelan, lalu bergerak ke samping, kini berdiri tepat di hadapan Ruby. Tangannya terulur, menyentuh dagu wanita itu dengan ujung jarinya, memaksanya mendongak. “Kau benar-benar berbeda. Dan itulah kenapa aku tertarik.”
Ruby spontan menepis tangannya. “Saya bukan salah satu mainan Anda, Mr. Greyson.”
Untuk pertama kalinya, senyum Greyson melebar—dingin, penuh misteri. “Oh, Ruby… kau belum tahu permainan macam apa yang baru saja kau masuki.”
Ruby menahan tatapan itu, meski jantungnya berdegup kencang. Ia tahu, sejak pertemuan ini, hidupnya tidak akan lagi sama. Greyson DeLuca telah menandai dirinya.
Dan dari tatapan mata pria itu, Ruby bisa merasakan satu hal pasti, permainan ini tidak akan berakhir dengan mudah.
Dengan segala keberaniannya, Ruby kembali bersuara, “apa yang kau inginkan dariku, Mr Greyson?”
Tatapan keduanya masih saling terpaut. Namun, Greyson belum juga menjawab pertanyaan puan itu.
“Aku tahu, semua ini, memang sengaja kau lakukan untuk bisa bertemu denganku secara dekat. Kau pasti tahu jika aku—”
“Singkirkan bukti videonya.” bisik Greyson, tepat di telinga Ruby.
Ruby membeku. Kata-kata itu merayap masuk ke telinganya, dingin, tajam, dan penuh ancaman terselubung. Jantungnya berdegup semakin kencang, seolah hendak meloncat keluar dari d**a.
Ia menoleh pelan, menatap Greyson dengan mata melebar. “Bukti… video?” suaranya nyaris tercekat.
Greyson hanya tersenyum tipis, sorot matanya menusuk. “Jangan berpura-pura bodoh, Ruby. Aku tahu persis apa yang kau simpan. Kau bisa menipu semua orang di luar sana, tapi bukan aku. Kau sudah melihat sesuatu yang seharusnya tidak pernah kau lihat.”
Ruby menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya. Ia tidak boleh menunjukkan kelemahan. “Dan kalau memang benar, apa yang akan kau lakukan padaku, Mr. Greyson?”
Greyson mendekat, menunduk hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa inci. Aroma parfumnya yang maskulin bercampur dengan hawa ancaman yang begitu nyata. “Itu tergantung padamu. Kau bisa menyerahkan semuanya padaku, melupakan apa yang kau lihat, dan terus melanjutkan hidupmu atau…” Ia berhenti sejenak, bibirnya nyaris menyentuh telinga Ruby. “…kau memilih jalur yang berbahaya. Dan percayalah, Ruby, jalur itu bukan sesuatu yang bisa kau menangkan.”
Ruby mengepalkan tangan di pangkuannya. Ketakutan jelas menggerogoti dirinya, namun ada pula bara kecil yang semakin menyala. “Kau pikir aku akan tunduk begitu saja? Kalau aku menyerahkan bukti itu, berarti aku sama saja seperti mereka yang kau bungkam. Aku bukan tipe orang yang bisa kau kendalikan dengan ancaman.”
Untuk sesaat, tatapan Greyson mengeras. Namun kemudian ia tertawa pelan, tawa rendah yang lebih menyeramkan daripada kemarahan. “Menarik. Sangat menarik.”
Ia melangkah mundur, kembali ke kursinya dengan tenang, seolah barusan tidak ada percakapan yang penuh tegang itu. “Kau tahu, Ruby, semakin kau menantangku, semakin besar keinginanku untuk… memilikimu.”
Ruby menggertakkan giginya. “Aku bukan milik siapa pun. Apalagi kau!”
Greyson menatapnya, kali ini dengan senyum yang lebih berbahaya. “Kau akan belajar, cepat atau lambat. Semua orang punya harga. Dan aku… selalu bisa membayarnya.”
Pintu ruangan kembali terbuka. James masuk bersama Anthony, keduanya tampak lega karena suasana sudah lebih longgar. “Mr. DeLuca, mobil Anda sudah siap,” ucap James dengan ramah, seolah tak ada yang aneh.
Greyson bangkit, merapikan jasnya. Namun sebelum benar-benar pergi, ia menatap Ruby sekali lagi, tatapan yang seakan menancap ke dalam jiwanya. “Kita akan bertemu lagi, Miss Foster. Dan saat itu tiba, aku harap kau sudah membuat keputusan yang tepat.”
Ruby masih terdiam di tempatnya, tak menjawab. Sementara Greyson hanya menyunggingkan senyum samar lalu berjalan keluar diikuti oleh Luwis.
Begitu pintu menutup, Ruby baru berani melepaskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Tangannya bergetar, tapi matanya menyala. Ia tahu pasti, jika sekarang, apapun yang akan ia lakukan, akan sangat diawasi.