Ruby meraih gelas di depannya, meneguk sisa air yang sudah hambar. Tenggorokannya kering, jantungnya masih menghantam keras dinding dadanya. Wajahnya mungkin terlihat tenang di mata James dan Anthony, tetapi di dalam, ia dilanda rasa panik yang tak terbendung.
Ia tahu Greyson bukan pria biasa. Dari cara bicara, dari tatapan, dari aura dingin yang seolah menyelimuti setiap langkahnya—Ruby sadar, pria itu terbiasa mengendalikan hidup orang lain. Bahkan mungkin, mengakhirinya.
“Ruby?” suara Anthony memecah lamunannya. “Kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat.”
Ruby menelan ludah, lalu cepat-cepat menyusun alasan. “Aku… sedikit pusing. Mungkin karena lampu kamera tadi terlalu terang.” Ia tersenyum samar, mencoba terlihat wajar. “Anthony, kau bisa mengantarku pulang malam ini?”
Anthony tampak ragu. “Tentu saja bisa. Tapi kau yakin? Masih ada sesi evaluasi dengan tim.”
Ruby menggeleng cepat. “Aku butuh istirahat. James bisa mengurus sisanya.”
James, yang sejak tadi memperhatikan dengan dahi berkerut, akhirnya mengangguk. “Kalau itu membuatmu tenang, pergilah dulu. Aku dan tim akan bereskan semuanya di sini.”
Ruby berdiri, meraih tasnya. Namun langkahnya sempat terhenti saat pandangannya menangkap bayangan gelap di kaca jendela. Sosok pria asing, berpakaian hitam, berdiri terlalu lama di lorong—terlalu lama untuk disebut kebetulan.
Dadanya sesak. Ia tahu, itu bukan tamu biasa hotel.
Ruby buru-buru merapikan rambutnya, menunduk sedikit saat berjalan keluar ruangan bersama Anthony. Hatinya berteriak panik, tetapi wajahnya dipaksa untuk tetap tenang.
Setiap langkah kaki Ruby terdengar nyaring di telinganya sendiri. Ia bisa merasakan tatapan dari sudut-sudut yang tak terlihat. Bayangan-bayangan orang asing, mungkin anak buah Greyson, mengikuti tanpa suara.
Di dalam lift, Ruby mencengkeram lengan Anthony lebih erat dari yang seharusnya.
“Ada apa?” tanya Anthony, menatapnya curiga.
Ruby menggeleng, senyum kaku melekat di bibirnya. “Kepalaku semakin pusing.”
Lift turun terasa begitu pelan, tapi jantung Ruby seperti berlari maraton. Ia merasa begitu rentan, seolah pintu lift akan terbuka dan seseorang akan menyeretnya begitu saja.
Saat lift terbuka, Ruby masih berdiri di tempatnya, membiarkan Anthony yang keluar lebih dulu. Saat merasa aman, Ruby lekas mengikuti langkah Anthony dari belakang.
Begitu keluar dari hotel, udara malam sontak menusuk kulitnya. Anthony menuntunnya ke arah mobil, sementara Ruby terus melirik ke sekeliling. Ia menangkap sosok pria yang sama tadi, kini berdiri di dekat tiang lampu, seakan mengawasi.
Ruby menggenggam erat tasnya, jari-jarinya nyaris mati rasa. Ia memaksakan diri naik ke mobil. Begitu pintu tertutup, barulah ia bisa bernapas sedikit lega.
Namun rasa lega itu tidak bertahan lama. Dari kaca mobil, ia melihat dua motor hitam berhenti beberapa meter di belakang mereka. Helm hitam menutupi wajah pengendaranya.
Tubuh Ruby mendadak membeku. “Anthony…” suaranya tercekat. “Bisakah, lebih cepat sedikit?”
Anthony menoleh sebentar, atanya menyipit. “Kenapa memangnya?”
“Aku—itu—kepalaku semakin pusing. Jadi, aku hanya ingin cepat sampai saja ke apartemen, dan tidur.” jawab Ruby berbohong. Tidak mau membuat Anthony merasa curiga akan ketakutan dan kecemasannya saat ini.
Anthony mengangguk pelan, menyalakan mesin mobil. “Baiklah, pakai sabuk pengamannya dengan benar. Aku akan mengemudi lebih cepat.”
Mobil tersebut melaju keluar dari area hotel, menembus jalanan kota yang masih ramai meski malam sudah larut. Ruby bersandar di kursi, tubuhnya kaku, matanya sesekali melirik kaca spion. Dua motor hitam itu tetap berada di belakang mereka, tampak sekali sedang menjaga jarak, seolah menunggu sesuatu.
Ruby menggigit bibir bawahnya, tangannya meremas rok yang menutupi pahanya. Hatinya menjerit, tapi mulutnya terkunci rapat.
Anthony tampaknya mulai sadar ada yang janggal. Ia menoleh sekilas ke arah Ruby, lalu kembali menatap jalan. “Kau benar-benar pucat. Apa kau yakin tidak perlu ke dokter dulu, Ruby?”
Ruby buru-buru menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku hanya butuh tidur. Tolong antar aku langsung ke apartemen.”
Mobil tersebut berbelok ke arah jalan utama. Ruby bisa merasakan dua motor itu ikut mengikutinya, masih dengan jarak yang sama, seolah nampak seperti bayangannya saja. Keringat dingin pun mulai muncul di tengkuknya.
“Apa yang sebenarnya kau sembunyikan, Ruby?” batin Ruby sendiri mulai menghantui. “Greyson sudah mengirim orangnya… atau mungkin hanya perasaanku saja? Tidak, tidak mungkin hanya kebetulan. Mereka terlalu terang-terangan sekali.”
Anthony akhirnya bersuara lagi, kali ini lebih tegas. “Ruby, katakan padaku. Apa kau merasa kita sedang diikuti?”
Ruby terdiam. Hatinya ingin berteriak, ingin mengatakan ya, tapi bibirnya membeku. Jika ia mengaku, Anthony bisa ikut terseret. Ia tidak ingin itu terjadi.
“Itu pasti hanya perasaanmu saja, Anthony. Sudahlah, fokus saja mengemudi. Aku benar-benar ingin sampai apartemen lebih cepat.”
Anthony mendengus, tidak puas dengan jawaban itu. Ia melajukan mobil sedikit lebih cepat lagi. Namun dari kaca spion, motor-motor itu ikut menambah kecepatan, dan terlihat masih menjaga jarak posisi.
Ruby merasakan dadanya semakin sesak. Jantungnya berdebar kencang, setiap detik terasa seperti menit. Ia menunduk, pura-pura menutup mata, padahal matanya menatap refleksi kaca, menghitung jarak motor-motor itu.
“Aku tidak bisa terus seperti ini…” pikirnya. “Jika Greyson benar-benar ingin membuatku takut, dia berhasil.”
Saat mobil berhenti di lampu merah, Ruby menahan napas. Motor-motor itu ikut berhenti juga tepat di belakang mobil mereka.
Ruby menelan ludahnya susah payah. Berusaha kuat mengendalikan raut wajahnya yang tegang dari tatapan Anthony yang saat ini menoleh ke arahnya.
Tapi begitu lampu hijau menyala, mendadak kedua motor yang ada di belakang mereka langsung melaju lebih dulu dan berbelok ke arah kanan. Sementara mereka, tetap melaju lurus ke depan.
“Ah, ternyata hanya perasaanku saja. Mereka tidak mengikuti mobil kita.” ujar Anthony.
Ruby menoleh sekilas ke kaca belakang, memastikan dengan matanya sendiri bahwa dua motor hitam itu benar-benar menjauh. Jantungnya masih berdegup keras, namun ia berusaha mengatur napasnya agar tidak terlihat terlalu panik.
“Iya… mungkin hanya kebetulan,” jawabnya lirih, meski di dalam hatinya, ia sama sekali tidak yakin.
Anthony menatapnya lebih lama sebelum kembali fokus pada jalan. “Kau butuh teh hangat atau obat? Wajahmu masih pucat.”
Ruby tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. “Nanti di apartemen saja. Aku akan baik-baik saja, Anthony. Tidak perlu khawatir.”
Mobil melaju menembus malam. Lampu-lampu kota berkelebat, tapi pikiran Ruby terjebak pada sesuatu yang lebih gelap. Greyson. Tatapannya. Kalimat-kalimatnya. Dan dua motor hitam itu.
“Apa mereka sengaja pergi agar aku lengah?” batinnya berteriak. “Atau mereka hanya ingin menunjukkan bahwa mereka bisa muncul kapan saja, dan di mana saja?”
Setibanya di depan gedung apartemennya, Ruby menatap fasad tinggi itu dengan perasaan campur aduk. Biasanya, apartemen adalah tempat yang memberinya rasa aman. Tapi malam ini, ia justru merasa sedang kembali masuk ke dalam perangkap yang sudah disiapkan.
Anthony menoleh padanya. “Mau aku antar sampai lantai atas?”
Ruby buru-buru menggeleng. “Tidak perlu. Kau pasti lelah. Terima kasih sudah mengantarku.”
Anthony masih tampak ragu, tapi akhirnya ia mengangguk. “Baiklah. Tapi kalau kau merasa tidak enak badan, telepon aku, ya?”
Ruby tersenyum lagi, kali ini lebih lembut, berusaha menenangkan Anthony. “Aku akan baik-baik saja. Tenanglah. Dan, selamat malam Anthony. Terimakasih sudah mau mengantarku.”
Puan itu kemudian turun dari mobil, melangkah cepat menuju lobi apartemen. Sepatu haknya beradu dengan lantai marmer, menggema terlalu keras di telinganya sendiri. Saat pintu otomatis menutup di belakangnya, ia baru bisa bernapas dengan lega—atau setidaknya, mencoba.
Namun begitu ia sampai di depan pintu unitnya, langkahnya sontak terhenti.
Ada sesuatu di lantai. Sebuah kotak kecil berwarna hitam, dengan pita merah melingkarinya. Kotak itu diletakkan persis di depan pintunya, seolah seseorang ingin memastikan Ruby akan menemukannya begitu ia pulang.
Tangan Ruby gemetar saat meraih kotak itu. Ia menoleh ke kiri dan kanan, lorong apartemen tampak sepi. Tidak ada suara. Bahkan tidak ada tanda-tanda adanya orang lain di sana.
Dengan napas tercekat, ia membawa kotak itu masuk ke dalam unitnya. Lampu ruang tamu ia nyalakan, lalu kotak itu ia letakkan di atas meja. Jari-jarinya gemetar saat menarik pita dan membuka tutupnya.
Di dalamnya terdapat secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang rapi.
[Miss Foster, aku suka melihat bagaimana ketakutanmu barusan. Benar-benar berbanding terbalik dengan ucapanmu yang seolah menantangku di hotel tadi. Jadi, masih berniat untuk membuka mulut?]
Tangan Ruby refleks menutup kotak itu kembali. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan pria itu. Bagaimana bisa, dia bisa mengetahui tempat tinggalnya dalam sekejap?