Ruby terduduk di kursi ruang tamu, lututnya lemas, napasnya tersengal-sengal. Kotak hitam dengan pesan itu kini tergeletak di meja, seakan menjadi saksi bisu betapa Greyson sudah menembus seluruh lapisan pertahanannya.
Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba menenangkan tubuh yang bergetar. Tapi justru semakin keras ia memeluk, semakin jelas kenyataan bahwa ia sedang benar-benar diawasi.
“Dia tahu di mana aku tinggal…” bisiknya lirih, hampir tak terdengar. “Dia tahu setiap langkahku. Lalu apa artinya semua ini? Ancaman? Atau permainan?”
Ruby berdiri dengan gerakan kaku, berjalan cepat ke arah jendela besar yang menghadap ke jalan. Tirai ia singkap sedikit. Pandangannya menyapu ke bawah, ke arah trotoar yang diterangi lampu jalan. Orang-orang masih berlalu-lalang, mobil sesekali lewat, tapi ia merasa—di antara keramaian itu—ada tatapan yang tertuju langsung padanya.
Ia buru-buru menutup tirai kembali, jantungnya makin menghantam dinding d**a.
Ruby lalu meraih ponselnya. Jemarinya bergetar saat hendak menekan nomor Anthony. Tapi ia urungkan. Anthony tidak boleh tahu. Jika ia bercerita, Anthony pasti akan ikut terseret. Ia tidak sanggup memikul rasa bersalah jika orang itu terluka karenanya.
Dengan lemas, Ruby menjatuhkan diri ke sofa. Kotak hitam itu masih di meja, seperti menunggu untuk disentuh lagi. Seolah Greyson sengaja meninggalkan jejak, bukan untuk sekadar menakut-nakuti, tapi untuk memberi pesan: ia bisa masuk kapan saja, ke ruang pribadi sekalipun.
Air mata panas menggenang di pelupuk Ruby. Tapi ia buru-buru menghapusnya, menggertakkan giginya.
“Tidak… aku tidak boleh terlihat lemah. Jika aku jatuh sekarang, dia sudah menang.”
Namun kalimat itu tidak benar-benar memberi ketenangan. Tubuhnya tetap gemetar. Pikirannya tetap diselimuti bayangan Greyson yang dingin, tatapan matanya, suara rendahnya yang menusuk.
Ruby akhirnya bangkit, melangkah ke kamar, dan mengunci pintu. Ia menempelkan punggungnya pada pintu kayu, menatap kosong ke langit-langit.
Di sudut meja rias, ia melihat pantulan wajahnya di cermin. Wajah pucat, mata merah, bibir gemetar. Ia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri.
“Ruby Foster,” gumamnya lirih, mencoba menguatkan diri. “Kau sudah masuk ke permainan ini. Mau tidak mau, kau harus belajar menari dengan iblis.”
Namun jauh di dalam hati, Ruby tahu malam ini hanyalah awal. Greyson baru saja menunjukkan betapa rapuhnya pertahanannya. Dan jika ia tidak segera menemukan cara, ia akan hancur sebelum sempat melawan.
Untuk itu, Ruby berpikir untuk membawa bukti video yang ia punya kepada pihak yang berwajib. Orang seperti Greyson memang harus segera ditangkap. Jika tidak, maka Greyson akan membuat masalah pada semua orang. Pria itu bisa dengan mudah menghabisi orang yang tidak disukai. Untuk itu, Ruby memutuskan untuk melakukan ini semua.
“Ya, aku memang harus melaporkannya. Dia itu berbahaya, dan orang sepertinya harus dihentikan. Jika tidak, akan banyak nyawa yang melayang karenanya.” gumam Ruby.
Puan itu dengan cepat mencari ponselnya yang ada di dalam tas. Begitu mendapatkannya, ia kemudian berlari menuju kamarnya untuk mengambil laptop. Ruby perlu menyalin video yang merekam kejadian di gudang malam kemarin, saat Greyson menghabisi seseorang hanya dengan sekali tembakan tepat di kepalanya. Bahkan fakta bahwa pria itu adalah seorang mafia yang berbahaya.
Ketika ia mulai sibuk menyalin video tersebut, tiba-tiba saja, ponsel Ruby berdering, menampilkan panggilan video masuk dari ibunya yang tinggal sendirian di pinggiran kota.
Ruby mengangkatnya seperti biasa dengan santai. Namun, matanya langsung membelalak kaget, saat di layar, bukan hanya muncul wajah sang ibu, melainkan Greyson juga ada di sana.
“K—kau... apa yang kau lakukan di situ?!” bentak Ruby, meski awalnya ia sedikit tergagap.
Ibu Ruby yang ada di seberang panggilan tersebut sontak mengernyit bingung. Wanita paruh baya itu justru balik membentak Ruby.
“Astaga, apa-apaan kau ini Ruby?! Kenapa kau membentak temanmu ini?”
“Teman? Ibu, tapi dia bukan—”
“Ruby sepertinya sedang kesal padaku, Bibi.”
Ruby mendengar suara pria itu yang memotong ucapannya. Berlagak manis dan bicara sopan di depan ibunya. Dan yang Ruby tidak habis pikir, bagaimana bisa pria itu tahu siapa ibunya dan tempat tinggal ibunya?
Bahkan berbohong, mengaku sebagai temannya. Ruby benar-benar tidak bisa membuka suara lagi, saat mata pria itu seolah mengisyaratkan jika ia membuka mulut sedikit saja, maka nyawa ibunya adalah taruhannya.
Kaki Ruby terasa lemas seketika. Sebab pria itu selalu melangkah lebih dulu di depannya. Sekarang, Ruby paham, seberbahaya apa pria tersebut.
Ruby menutup mulutnya rapat-rapat, menahan segala kata yang ingin meluncur. Tatapannya terpaku pada wajah Greyson di layar, yang tampak begitu tenang dan penuh kendali, sementara ibunya sama sekali tidak menyadari bahaya besar yang sedang mengintai.
“Ibu, aku… aku hanya sedang lelah. Jangan salah paham,” ucap Ruby akhirnya, memaksa bibirnya melengkung membentuk senyum palsu.
Wajah ibunya sedikit melunak. “Ya ampun, Ruby. Jangan terlalu bekerja keras, Nak. Kau harus jaga kesehatanmu.”
Greyson menyahut cepat, dengan nada penuh simpati yang terdengar manis di telinga orang awam. “Benar, Bibi. Saya juga sudah menasihati Ruby. Dia terlalu keras pada dirinya sendiri.”
Ruby hampir muntah mendengarnya. Urat-urat di tangannya menegang, tapi ia tahu tidak boleh menunjukkan ekspresi benci sedikit pun. Satu gerakan salah, satu kata salah, ibunya bisa jadi korban.
“Sudahlah, jangan lama-lama, Ruby. Istirahatlah. Kau kelihatan pucat sekali,” ujar sang ibu sebelum akhirnya menutup panggilan.
Begitu layar ponsel gelap, Ruby jatuh terduduk di kursinya, tubuhnya gemetar hebat. Nafasnya tidak beraturan, dadanya seperti ditekan batu besar. Tapi suara Greyson kembali terdengar—kali ini lewat pesan suara yang masuk beberapa detik setelah panggilan berakhir.
“Cantik… kau hampir membuatku kecewa barusan. Jangan sekali-kali mencoba melawan dengan cara bodoh. Ingat, aku selalu lebih dekat daripada yang kau kira. Dan kau sudah tahu… aku bisa ada di mana saja, kapan saja. Bahkan di ruang tamu rumah ibumu.”
Ruby menjatuhkan ponselnya ke lantai, tangannya gemetar hingga sulit dikendalikan. Ia ingin berteriak, ingin menangis, ingin mengamuk. Tapi apa gunanya?
Air mata akhirnya jatuh juga, membasahi pipinya. “Aku tidak bisa terus begini… aku harus menemukan cara agar dia tidak menganggu orang-orang terdekatku…”
Dengan tangan yang masih gemetar, ia menatap layar laptopnya. Video bukti itu masih menyalin, progres bar perlahan bergerak maju. Ruby menelan ludah, lalu menghapus air matanya dengan kasar.
“Tapi bagaimana jika dia benar-benar nekat? Jika aku tetap bersikeras untuk melaporkannya, dia pasti akan terus bermain dengan nyawa orang-orang yang aku cintai. Tidak… aku tidak boleh gegabah. Aku tidak tahu harus seperti apa menghadapi monster sepertinya?”