Ruby berdiri, berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya dengan langkah-langkah pendek yang panik. Nafasnya masih terus memburu, sedangkan otaknya tengah bekerja keras mencari celah. “Jika aku ke polisi sekarang, bukti ini mungkin sudah cukup. Tapi pria seperti Greyson pasti sudah menyusup ke sana. Orang seperti dia tidak mungkin tidak punya kaki tangan di dalam aparat. Kalau aku salah langkah, aku sendiri yang akan jadi korbannya. Atau lebih parah, ibu…” Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Rasa frustrasi membuat tubuhnya bergetar hebat. Ketakutan bercampur dengan amarah. “Aku harus cari orang lain. Seseorang yang tidak bisa dia kendalikan. Seseorang yang berani menentangnya.” Ruby menggertakkan gigi. “Tapi… siapa? Aku bahkan tidak tahu dan tidak mengerti dunia yang dijalani

