Fajar merayap pelan dari balik kaca besar ruang bawah tanah markas Greyson, namun cahayanya tidak pernah benar-benar masuk ke ruangan itu. Lampu putih dingin tetap menjadi satu-satunya penerang, meneteskan aura steril yang tidak pernah cocok dengan darah yang sering membasahi lantai beton. Di ruangan interogasi utama, Greyson berdiri sendirian — menghadap Dario, pria pertama yang sudah nyaris kehilangan kesadarannya. Tapi pagi itu, Greyson tidak lagi ingin bicara dengan Dario. Ia ingin bicara dengan dua lainnya. Greyson berdiri tegak, mantel hitamnya masih sama seperti malam sebelumnya. Ia tidak tidur. Tidak pernah tidur jika urusannya belum selesai. “Bangunkan mereka,” ucapnya pelan. Dua anak buahnya menampar pipi kedua pria itu, keras. Suara daging membentur daging menggema di antar

