Greyson mendekat perlahan, setiap langkahnya menimbulkan ketegangan di d**a Ruby. Ia berhenti tepat di depan wanita itu, jarak mereka hanya tinggal beberapa jengkal. Tatapan matanya menusuk, penuh kuasa, tapi Ruby sama sekali tidak menunduk. Ia menatap balik, dengan sorot benci yang begitu dalam. “Lucu?” Greyson mengulang ucapannya, kali ini dengan senyum miring di sudut bibirnya. “Tidak. Aku hanya merasa… ironis. Kau menyebutku monster, tapi lihat dirimu sendiri sekarang—menantangku padahal kau tahu posisimu tak berarti apa-apa di sini.” Ruby mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. “Kau memang monster, Greyson,” ucapnya lirih namun tegas. “Setiap kali aku melihat wajahmu, aku teringat malam itu. Malam ketika aku melihatmu—dengan mata kepalaku sendiri—membunuh seseorang tanpa ragu sedikit p

