Sore mulai turun. Cahaya matahari masuk dari sela tirai, membuat bayangan panjang di lantai kamar. Ruby masih duduk di tepi ranjang, tubuhnya lemas karena lapar, tapi ia menolak menyentuh makanan di meja. Ia ingin menunjukkan bahwa ia tidak tunduk. Namun, ketika suara langkah terdengar lagi di luar, Ruby tahu langkah itu bukan langkah pelayan. Terlalu berat, terlalu tenang, terlalu familiar. Pintu terbuka. Greyson kembali muncul, kali ini tanpa jas, hanya mengenakan kemeja gelap yang lengannya digulung. Penampilannya tetap rapi, tapi aura di wajahnya lebih dingin dari sebelumnya. “Aku sudah bilang padamu untuk makan,” katanya datar, melangkah masuk tanpa menatap Ruby. “Tapi sepertinya, kau masih keras kepala.” Ruby menatapnya dengan tatapan tajam. “Aku tidak akan makan apa pun yang da

