Greyson menatap Ruby dalam diam—sangat lama—hingga tatapan itu saja sudah cukup membuat napas puan itu tercekat. Jemari Greyson mencengkeram pergelangan tangan Ruby semakin kuat, hingga kulitnya terasa perih. Namun yang lebih menyakitkan bukanlah cengkeramannya, melainkan cara pria itu menatapnya—dingin, dalam, dan mengintimidasi, seolah Ruby hanyalah miliknya, bukan manusia yang bebas. “Kau benar-benar suka membuat segalanya menjadi rumit, ya?” ucap Greyson akhirnya, suaranya begitu rendah dan dalam, nyaris seperti desisan yang mengandung ancaman. “Padahal aku sudah memperingatkanmu berkali-kali untuk tidak menentangku, Ruby Foster.” Ruby menggertakkan giginya, mencoba menahan air mata yang nyaris pecah. “Kau pikir aku akan diam saja setelah semua yang kau lakukan padaku? Kau sudah mele

