Bab 20

1086 Kata

Kelopak mata Ruby bergetar secara perlahan. Napasnya bahkan masih terasa berat, dan tenggorokannya kering seperti baru saja melewati sebuah mimpi buruk yang panjang. Tubuhnya pun seolah kehilangan tenaga ketika perlahan ia mencoba untuk bangkit. Cahaya samar yang menembus tirai tebal di depan sana, cukup untuk menampakkan bentuk ruangan tempat ia berada. Perlahan-lahan Ruby membuka matanya sepenuhnya. Seketika, dadanya terasa sesak. Ia menatap sekelilingnya, langit-langit tinggi berwarna putih gading, dinding bergaya klasik dengan ornamen emas, dan perabotan mahal yang tampak tak tersentuh sedikit pun. Namun semuanya terasa asing. Benar-benar asing. Ruby berusaha menegakkan tubuhnya dengan susah payah, dengan tangan kirinya yang tengah menahan di sisi ranjang. Kepalanya masih terasa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN