Begitu pintu besar itu tertutup di belakangnya, aroma khas kayu tua dan bourbon menyambut hidungnya — bau yang dulu menenangkan, kini terasa asing. Greyson berjalan melewati lorong panjang dengan langkah berat. Lantainya berkilau, tapi basah oleh tetesan air hujan dari mantel hitamnya. Di ujung lorong, Helen sudah menunggu, wajahnya tegang. “Selamat datang kembali, Tuan,” ucapnya cepat. “Kami mendengar ada insiden di luar rute utama. Saya—” Greyson mengangkat tangan, menghentikannya. “Tidak di sini.” Helen menunduk. “Ya, Tuan.” “Ruby di mana?” “Masih di kamarnya, Tuan. Anak buah Anda masih menjaganya dengan baik.” Greyson diam sejenak. Tatapan matanya keras tapi dalam, seolah sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih rumit daripada sekadar laporan sederhana. “Pastikan tidak ada siapa

