Cahaya pagi menembus tirai tebal, hanya seutas garis tipis yang jatuh di lantai. Ruby mengerjapkan mata perlahan. Kepalanya sedikit berat, tubuhnya hangat oleh sisa kantuk. Ia tidak langsung ingat apa yang terjadi. Sampai ia mendengar sesuatu. Bukan suara keras. Hanya… detak jam di dinding yang berpadu dengan napas seseorang. Napas… yang bukan miliknya. Ruby langsung membulatkan mata. Ia menoleh perlahan. Dan di sana—di sudut ruangan yang masih remang—Greyson duduk, kaki terlipat santai, lengan bersedekap, kepala sedikit menunduk seperti seseorang yang tertidur ringan atau hanya memejamkan mata. Ruby menegakkan tubuh dengan cepat, hampir menjatuhkan selimut. “Ya Tuhan… kau masih di sini?!” bisiknya panik. Dalam sekejap, ketakutan yang semalam sempat mengendur, kembali masuk se

