Aisyah prillyana safitri
Pagi yang cerah, secerah hatiku saat ini.
Pagi ini, aku akan kebutik bersama dengan mama dan tante mira mamanya mas ali. Rencananya aku akan fitting baju pernikahanku.
Setelah perdebatan dan musyawarah yang sangat panjang dan melelahkan. Akhirnya aku dan mas ali akan menikah seminggu lagi. Benar seminggu lagi, dan itu sangat ama cepat dari tanggal awal.
Aku sebagai pihak wanita, hanya menuruti saja apa yang telah diputuskan oleh mas ali dan orang tuaku. Setelah aku menyelesaikan pekerjaanku. Akhirnya kini aku bisa fokus dengan hari pernikahanku.
Karena aku seorang artis, mas ali tidak mau pernikahanku diumbar-umbar. Dia ingin sangat sakral dan keagamaan yang sangat kental. Lalu malamnya kita akan mengadakan resepsi di ubud bali. Disanalah kita mengundang para keluarga dan sahabat. Acara pernikahan kita memang diadakan di bali, karena itu adalah impianku. Kita akan menikah di masjid terbesar di pulau dewata tersebut.
Beruntung mas ali sangat amat sangat mendukungku, dia sama sekali tak mengeluh. Mau mengeluh bagimana, yang penting aku setuju untuk menikah saja dia sudah senang. Semua keperluan aku, mama, dan tante mira yang menyiapkan semuanya. Termasuk pilihan baju yang akan kami pakai.
Setelah 45 menit, kini kita pun telah tiba didepan butik langganan ku saat membuat baju.
Aku keluar dari mobil, kulihat kedua wanita yang sebaya tetapi masih cantik diusianya yang sudah tua. Mereka berjalan dibelakangku.
Setelah pintu terbuka, tampak designer baju yang sangat aku kenali tersenyum ramah padaku. Kudekati dia lalu kucium pipi kanan dan kirinya. Aku pun memperkenalkan mama dan calon mertuaku padanya. Karena saat pemesanan baju beliau tidak ikut bersamaku.
"Ma.. itu baju untuk kalian. Bisa langsung dicoba. Tunjukku kearah dua gaun kebaya bergaya klasik modern dengan warna putih gading yang sangat indah. Tapi hanya bagian,dalamnya yang diganti dengan lengan panjang.
Kedua wanita yang sangat aku cintai kini tersenyum senang melihat kreasi kebaya yang telah selesai.
"Aduh sayang, ini cantik banget. Kamu pintar milihnya. Ucap bahagia dari calon mertuaku.
"Iyaa dong. Untuk wanita cantik bajunya juga harus cantik. Jawabku menggoda.
"Lalu baju kamu yang mana,,??? Tanya mamaku celingukan mencari baju yang akan aku pakai nanti.
"Sabar ma, karena ada dua. Untuk akad sendiri dan untuk resepsi sendiri. Lebih baik mama sama..,emmm
"Mama juga dong prill. Tegas calon mertuaku.
"Nanti prilly bingung. Yang dipanggil juga bingung. Mama untuk mama sofie dan bunda untuk bunda mira. Gimana,,?? Usulku yang dibalas anggukan oleh keduanya.
Aku pun masuk kedalam ruangan, mencoba baju yang akan aku pakai saat akad nikah.
Aku terkejut saat keluar dan memperlihatkan bajuku. Ada mas ali disini, dia berdiri memandangku yang tengah duduk dengan baju yang sudah aku pakai. Ini dia baju untuk akad nikah nanti. Mas ali ingin baju yang tak memperlihatkan lekuk tubuh bagian atas yang sangat sensitif. Mangkannya aku meminta yang tetap sopan tapi elegan nan cantik.
"Jelek yaa..?? Kok gak ada yang komen. Tanyaku penasaran, karena mereka hanya memandangku tanpa berkedip. Udin juga ikut melihatku seperti itu.
"Iihhh, ya udah prilly minta ganti ajah bajunya. Rengekku pada mereka. Dan sukses mereka pun langsung menyauti.
"Eeh jangan....!!!!
Teriak mereka bersamaan. Mas ali meraup wajah udin dengan kedua tangannya.
"Istighfar udin, jangan memandang wanita terlalu lama".
"Idih, dianya yang lebih duluan. Aku fikir kita berada di surga mas ali. Kenapa ada bidadari. Tapi setelah lihat mas ali, aku jadi ingat jika kita masih di dunia".
"Kurang ajar, kamu ngatain saya".
"Udah-udah. Ali, udin gak malu apa?" Lerai bunda saat melihat keduanya tak berhenti berdebat.
Bunda dan mama pun berpamitan hendak mencoba bajunya juga. Aku menyuruh mas ali dan udin pun ikut. Aku sengaja memesankan untuk udin, karena dia yang akan menjadi seksi sibuk diacaraku nanti.
"Mas ali, suka banget sih godain udin. Cepat ganti sana..!!!
Udin tersenyum menang karena mendapat pembelaan dariku. Sedangkan mas ali malah mengerucutkan bibirnya kedepan.
"Calon suami seharusnya di belain gitu. Yaudah deh aku ganti dulu ya kamu jangan kemana-mana nanti ada yang nyulik lagi".
Astagfirullohaladzim, dasar mas ali ini ada-ada ajah. Jika seperti ini kelihatan banget kadar kejahilannya sangat tinggi. Aku mengangguk tersenyum saat dia pergi meninggalkanku.
Aku berjalan menghampiri tas ku untuk mengambil iphone. Aku ingin mengabadikan gambarku saat memakai baju istimewa ini.
Dua kali, tiga kali sampai lima kali aku masih tersenyum melihat hasil gambar yang aku ambil. Cantik walaupun memakai make up natural.
Subhanalloh, calon suami siapa ini. Kenapa tampan sekali ya allah, seperti nabi yusuf. Eeh,, emang aku tahu wajah nabi yusuf.
Tiba-tiba kurasakan pipiku memerah, pasti aku sudah sangat malu melihatnya berpakaian seperti itu. Dia amat sangat tampan. Wajahnya memancarkan kecerahan.
Semua baju pun sudah kita coba, tinggal tunggu hari halnya saja. Alhamdulillah setidaknya semua akan berjalan lancar. Aku berpamitan kepada mama dan bunda, karena aku akan ikut dengan mas ali dan udin ke masjid. Hari ini kita akan meeting dengan pengurus masjid. Acara pengajian yang akan diadakan dua hari lagi memang mengikut sertakan para warga kampung. Papa sengaja mengundang seluruh warga untuk mengikuti pengajian.
Aku dan mas ali pun sangat senang, bahkan banyak warga yang sangat antusias dan mendoakan kelancaran buat aku dan mas ali.
"Uumm.. mas. Aku hanya pakai baju santai begini. Apa kita tidak pulang dulu saja". Tawarku padanya.
"Tidak perlu maliki. Karena kecantikanmu bukan dilihat dari pakaian kamu. Melainkan, hati dan juga lisan kamu yang sangat lembut".
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Begitulah mas ali, selalu bisa menerima apapun yang aku pakai selagi itu tidak menyalahi aturan agama.
"Ehem....!!
Udin mencairkan suasana. Aku tertawa melihat ekspresinya. Udin duduk didepan disamping mas ali, sedangkan aku dibelakang. Mas ali yang tahu hanya tertawa keras.
"Terus saja ketawa sampai sukses". Sindir udin yang kesal melihat mas ali masih tertawa.
"Sorry dek broo.. aku lupa kalo disini ada setan.
"Bagus.. terusin ajah. Dua mahluk bukan muhrim ketiganya setan.
Udin memang lucu, aku jadi teringat ucapan mas ali. Jika udin menyukai ayla. Aku fikir orang seperti udin tidak akan menyukai gadis tidak berjilbab. Tapi nyatanya dia sangat beda. Aku hanya berdoa semoga apapun yang terbaik bisa menghampiri mereka.
Bagaimanapun aku juga ingin ayla bahagia mendapatkan lelaki tampan yang sholeh dan baik hati. Tapi, mengingat pekerjaan udin aku pun jadi ragu. Walaupun ayla bukanlah gadis pemilih.
"Ngelamunin apa sih. Sampai gak mau turun".
Hah turun, aku tersentak kaget melihat kesekelilingku. Udin sudah tidak ada disini. Apa kita sudah sampai, kok cepat sekali.
"Udah sampai ya mas".
"Udah, yuk turun. Udah ditungguin tuh". Aku yang sedikit malu, menundukkan kepala. Seakan menyembunyikan rasa malu ku.
Aku keluar setelah pintu dibuka oleh mas ali. Dan setelah bunyi bip. kita pun melangkah ke masjid tempat pertemuan para pengurus masjid. Aku berjalan di belakang mas ali, dengan rasa tak karuan. Bismillahirrohmanirrohim. Ya allah, mudahkan lah segala urusan kami.
Aku melihat banyak sekali orang-orang yang telah menungguku dan mas ali. Tapi dari sekian banyak orang aku melihat guratan kekecewaan dari wajah seseorang. Dibalik jilbanya yang indah tersimpan kesedihan. Seketika rasa penyesalan didiriku pun muncul. Ya allah, semoga aku takkan goyah kali ini. Aku tidak mau mengecewakan orang-orang yang benar tulus kepadaku.
Andien, gadis manis itu kini tengah menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Aku hanya tersenyum dan kembali menunduk. Aku takut jika aku semakin membuatnya terluka, aku yakin jika dia benar-benar memiliki perasaan terhadap mas ali. Tetapi kenapa mas ali malah memilihku menjadikannya istri.
"Bagaimana prilly,,??
Astagfirullohaladzim, kenapa aku tak fokus.
"Amm.. aku menurut saja mas. Jawabku sedikit gugup. Dan seakan tahu kegelisahan ku dia pun tersenyum dan mengangguk. Seakan memberitahukan jika semuanya akan baik-baik saja.
"Baiklah,,, saya rasa itu saja sudah cukup kyai. Saya dan prilly akan sangat senang jika semuanya bisa hadir. Karena tempat akad dan resepsi bukan dijakarta. Jadi saya mohon dengan sangat supaya warga bisa hadir di pengajian besok. Terang mas ali menjelaskan.
Kita memang hanya mengundang kyai annas dan beberapa orang saja. Dikarenakan kebanyakan orang disini takut jika harus bepergian jauh. Apalagi jika naik pesawat. Jadi aku sengaja mengundang mereka untuk ikut merayakannya walaupun hanya pengajian saja.
"Alhamdulillah mas ali, jika niat yang baik insya allah akan terlaksana dengan baik pula. Dan kita malah sangat tersanjung bisa ikut hadir dia acara pengajian besok.
Alhamdulillah ya allah, terima kasih. Semoga mereka bisa hadir. Aku membalas dengan senyuman saat banyak yang mengucapkan selamat kepada mas ali dan aku.
"Jodoh tidak ada yang tahu, sekeras apapun dipisahkan atau didekatkan jika bukan jodoh maka tidak akan bersatu. Dan alhamdulillah jika mereka berjodoh karena sering mengikuti pengajian rutin di masjid ini. Semuanya pasti sudah menjadi takdir. Jelas kyai annas padaku.
Aku tahu apa yang dimaksud dengan kyai annas. Memang benar, aku yang notabennya hanya bertemu beberapa kali disini malah sekarang bisa menjadi pasangan. Dan akan segera menikah.
Rencana Allah memang indah, seindah janji dan hadiah yang sudah diberikan jika kita mampu menghadapi ujian yang Allah berikan. Insya allah apapun yang kita dapatkan jika semuanya didasari rasa tulus dan ikhlas semuanya akan lebih berarti.
Semoga besok bisa berjalan dengan lancar dan tidak ada gangguan dari pihak manapun.