Muhammad ali syarief
Aku terkekeh geli melihat raut wajah prilly yang berbeda. Kurasa dia cemburu saat melihatku mengacuhkannya. Aku dari pagi sibuk dengan urusan packing. Sampai tak menyapa prilly yang baru tiba. Dan saat aku mendekatinya dia malah pergi mengacuhkanku. Aku pun kaget dengan sikapnya yang berubah.
Beruntung udin segera memberitahukanku bahwa dia sedang cemburu melihat aku berdekatan dengan wanita yang tak lain adalah andien. Sahabatku sendiri yang sudah kuanggap seperti adikku. Aku pun berjalan mendekatinya. Tapi sikapnya masih dingin kepadaku. Lucu sekali, apakah dia cemburu. Jika dia cemburu maka dia sudah jatuh cinta padaku. Dan saat ku ungkapkan kata cinta padanya. Dia pun membalas tetapi tanpa suara.
Ya allah, entah kenapa mendengar namanya saja jantungku sudah bekerja tak normal. Apalagi bisa berdekatan dengannya. Setelah acara selesai aku mendatangi calon mertuaku pak hendrawan dengan tante sofie. Prilly masih berkumpul dengan udin. Sungguh ingin sekali ku geret dia kesini. Udin juga sengaja memanasiku.
"Ali, bagaimana dengan projectnya,,?? Om dengar dari prilly jika sudah selesai. Dan minggu besok dia mau meeting soal project terbarunya. Apa kamu sudah diberitahukan olehnya.
Aku kaget, prilly ada project baru. Project apa, dia tidak pernah membahas denganku.
"Ali belum ketemu dengan prilly om, baru hari ini. Nanti ali akan tanya kepada prilly. Jawabku jujur.
"Baiklah, om harap projectnya tak mengganggu rencana pernikahan kalian nanti. Goda pak hendrawan kepadaku.
"Tentu saja tidak om.
"Sudah selesai pa. Semuanya lancar. Prilly senang sekali.
Sepertinya dia lupa jika disini sedang ada aku. Dia bergelayut manja dilengan pak hendrawan.
"Prilly, lihatlah ada calon suami mu. Kamu malah kelihatan manja sekali.
Prilly terkejut langsung berbalik memandangku. Dia salah tingkah. Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Sungguh lucu sekali dia.
"Beginilah sifat aslinya ali. Tapi jangan khawatir dia sangat jago memasak. Dan tak akan mengecewakanmu nanti.
Aku mengangguk tersenyum, tentu saja aku sangat tak keberatan. Aku menikahinya bukan menuntutnya untuk menjadi b***k dan melayaniku. Bahkan aku hanya ingin prilly berada dirumah menungguku pulang kerja. Tanpa melakukan pekerjaan apapun.
"Uhmm,, bolehkah nanti malam saya mengajak prilly makan malam. Tapi hanya...
"Hahahaa, om sudah tahu ali. Dan om yakin jika kamu tidak akan macam-macam dengan anak om yang bagaikan bidadari ini. Silahkan, om akan sangat senang sekali.
Prilly memandangku dengan intens.
"Baiklah, tapi jam 7 jangan telat. Atau aku akan malas keluar. Ancamnya padaku, kujawab dengan senyuman.
#########
"Ali, kamu jadi makan malam bareng prilly..?
Aku menoleh kearah mamaku yang kini tengah muncul dibalik pintu kamarku.
"Iya mama. Kenapa mama iri sama ali.
"Mama kan juga pengen bisa dekat dengan dia.
Hah mulai deh keluar jurus rayuannya.
"Ma, kalo makan malam bertiga ntar yang ada ali gak bisa ngomong serius sama prilly. Lagian nih ma ya.. kalo ada dua orang bukan muhrim berduaan pasti yang ketiganya setan.
Plak...
"Aduhh.., keluhku saat mama memukul lenganku dengan keras.
"Kamu ini, sama orang tua malah ngatain.
"Maaf, mamaku sayang. Lain kali saja ya kita ketemunya. Tanyaku coba bertanya.
"Baiklah, mama akan memaafkanmu. Sekarang lebih baik kamu berangkat sebelum menantu kesayangan mama cemberut.
Akhirnya mamaku bisa memahami. Kalo begini aku tak perlu menyogok lagi dengan hadiah. Aku pun mengangguk dan berpamitan padanya. Kulangkahkan kakiku menuju mobil BMW i8 milikku yang baru aku beli 3 bulan yang lalu. Mobil yang membuat semua wanita mendekatiku dan memandangku.
Tapi tidak dengan prilly, aku yakin dia bukan seperti wanita pada umumnya. Walaupun dia mantan artis yang aku tahu kehidupannya jauh dari kata islami.
Dan kini aku sudah berhenti didepan halaman rumah prilly. Rumah yang dipagari dengan pagar menjulang tinggi berwarna coklat. Dan selalu dijaga ketat oleh para security plus bodyguard dari om hendrawan. Saat aku membuka kaca mobilku mereka pun menyuruhku untuk masuk.
Tepat pukul tujuh malam aku tiba. Aku pun segera turun setelah kupastikan bunyi bip dari mobilku.
Tok..tok.tok..
"Assalamuallaikum.
Ceklek..
Subhanalloh, bidadari darimana yang telah turun kebumi.
"Waallaikum sallam. Langsung berangkat saja ya mas. Soalnya papa lagi jamaah sama mama.
Aku pun mengangguk dan menyilahkan di masuk kedalam mobil. Setelah kurasa dia sudah siap dengan seatbeltnya. Aku pun melajukan mobilku menuju cafe
Zaharia, cafe ku sendiri. Bukannya aku tak punya tempat untuk mengajak dia makan, tapi aku masih ingat jika dia adalah seorang artis. Aku tak mau mengganggu makan malam kita.
Setelah tigah puluh menit dalam perjalanan yang sangat hening tanpa berbicara apapun. Aku dan prilly telah sampai, kumatikan mesin mobilku dan segera turun membukakan pintu mobil untuk prilly.
"Terima kasih mas ali. Ucapnya tulus.
"Maaf ya jika makan malamnya disini. Aku hanya takut jika ada orang luar yang tahu akan mengganggu aktivitas kita.
"Aku sangat senang bisa makan disini lagi. Tenang saja, aku tak se populer dulu. Jadi mungkin mereka sudah malas mengikutiku.
Dari jawabannya kulihat ada nada kekecewaan. Tapi menurutku dia tetap tersenyum dan memancarkan kebahagiaan. Kuajak dia masuk kedalam cafe. Tentu saja tanpa meggandengnya. Dari luar pengunjung sudah sangat penuh, begitu pun didalam. Aku melihat banyak sekali yang datang, itu karena hari ini malam minggu.
"Prillyana safitri. Iyaa ini prilly..
Aku dan prilly menoleh kebelakang. Melihat siapa yang memanggil kita. Ralat bukan kita tetapi prilly.
"Waahh boleh saya minta fotonya. Ya allah cantik sekali.
"Boleh silahkan. Jawab prilly tulus.
Kulihat dua wanita sedang meminta foto bersama prilly. Hah ternyata disini juga sama saja. Tentu karena prilly seorang artis jadi bagaimanapun dia sekarang tetap masih banyak pendukungnya.
Setelah puas berfoto aku mengajak prilly keatas. Karena aku memilih tempat diatas. Tempat yang sangat pas untuk makan malam sekaligus membicarakan rencana pernikahan kita.
Terlihat jelas bukan jika didalam ada kolam. Aku mengajak prilly berjalan keatas. Suasana sedikit berbeda, kursinya pun kubuat berbeda.
Lantai dua berada dibelakang. Bukan diatas pas dari tengah. Karena lantai atas ini sengaja ku buat private. Jadi kita tidak bisa dilihat dari bawah. Dan aku sengaja mengosongkan ini hanya untuk ku dan prilly.
"Subhanalloh indah sekali mas, alamnya berasa nyatu banget. Walaupun sedikit dingin.
"Tenang saja dipojokan ada api unggun yang sengaja dibuat jika malam. Karena disini memang sangat dingin.
Aku menyilahkan dia duduk. Setelah itu udin tiba dengan membawa menu makanan. Aku sengaja menyuruh udin untuk kesini.
"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu. Tapi saya mohon maaf menu disini sudah habis, tinggal tersisa air lemon dan air putih.
Prilly kaget melihat udin berada disini sedang memakai seragam cafe. Sebenarnya dia terkejut lebih kepada ucapan udin yang sedang mengerjai kita.
"Udin, jika saya kesini kamu beri air putih. Kupastikan besok kamu akan bekerja di masjid saja. Ancamku dengan muka yang sangat serius.
"Hehehehe sori boss bro. Silahkan menunya, mba prilly mau pesan apa.
"Hehehhe udin kamu lucu sekali. Uhmm.. saya pesan..??
Dia malah tertawa melihat tingkah laku udin. Dasar udin ada-ada saja.
"Saya ramen spesial level 5 saja. Minumnya mocha float dan air putih. Ucapku yang langsung dicatat oleh udin.
"Kalo aku spagetti bolognes keju, minumya mangga float. Udah itu ajah udin.
"Baik wait a few minutes. Hidangkan akan segera datang. Silahkan lanjutkan acaranya. Permisi.
Aku memicingkan mataku melihat prilly tertawa melihat udin pergi.
"Kenapa kamu tertawa,,?? Dia terkejut dan langsung diam.
"Uumm., aku hanya lucu saja melihat udin. Ekspresinya berubah-ubah. Tapi dia tampan juga pakai seragam cafe.
"Ooh jadi kamu lebih suka muji udin, daripada muji calon suami kamu sendiri.
"Eeh bukan gitu. Hehehe kamu lucu juga kalo lagi cemburu.
Yah, dia malah tertawa. Difikir aku ngelucu. Sepertinya aku harus segera mengajaknya berbicara sebelum pesanan kita datang.
"Prilly,, aku boleh tanya sesuatu. Prilly pun berhenti tertawa. Dia melihatku dengan serius. Mungkin dia tahu jika aku ingin membicarakan sesuatu.
"Tentu saja, apa yang ingin kamu tanyakan mas.
Kuhela nafasku sejenak. Aku takut hal ini akan membuatnya merasa tak enak.
"Begini, aku mau tanya jika kita menikah nanti apakah kamu masih akan bekerja. Uumm.. maksutku mengambil job atau apapun itu.
Prilly terdiam, wajahnya menunduk. Lalu sedetik kemudian dia mendongak menatap mataku.
"Tentu, aku masih akan mengambil job. Foto majalah atau....
Aku menghela nafas. Sudah kuduga pasti dia akan memilih hal itu. Karena mana mungkin kita bisa meninggalkan dunia yang sudah kita geluti bertahun-tahun.
"Tapi hanya untuk majalah ibu dan anak. Majalah keluarga atau untuk baju yang kamu buat.
Aku tersentak mendengar jawabannya. "Maksut kamu..??? Tanyaku ragu.
"Seorang istri yang sholehah adalah istri yang mampu menjaga dan merawat suami dan anaknya. Berada dirumah mengurusi segala keperluan sang suami. Lalu bagaimana bisa aku berada diluar dengan pekerjaanku yang seperti ini. Sekalipun kamu mengijinkan aku.
"Jadi,,? Kamu mau mengundurkan diri dari dunia kamu yang sekarang. Aku masih tak percaya dengan jawabannya.
"Insya allah, aku akan bekerja dirumah mengurusi suami dan anakku kelak. Tapi bolehlah jika perusahaan kamu meminta ku untuk menjadi modelnya lagi. Jawabnya terkekeh.
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Alhamdulillah ya allah, tanpa kuminta pun dia telah merelakan semuanya demi aku. Aku sungguh tak percaya.
"Selamat malam, makanannya sudah siap. Silahkan dinikmati. Jika tidak enak nanti saya akan bicara dengan bos saya untuk menutup cafe ini.
Kurang ajar, apa yang dibicaraka udin ini.
"Udin, jika cafe ini tutup. Maka kamu tidak akan bekerja. Sentakku padanya.
"Maaf boss. Baiklah saya tidak mau mengganggu. Silahkan lanjutkan. Permisi.
"Hehehehe, ternyata kalian lucu juga ya. Udin itu suka bercanda.
"Yaah begitulah, tapi aku sangat tak masalah jika udin bercanda denganku. Aku akan marah jika udin sudah bersikap sebagai orang bawahan yang tak pantas berteman dengan orang kaya.
"Sungguh baik sekali. Bolehkah kita makan sekarang. Aku lapar mas ali.
Aku terkekeh mendengar rengekannya. Lucu sekali, tapi tak masalah aku malah lebih suka.
"Tentu silahkan. Ucapku mempersilahkannya.
Kami berdua pun makan dalam keheningan. Aku masih memikirkan perasaannya. Tapi jika dia bahagia telah memilihnya aku bisa apa. Aku malah lebih senang jika dia berada dirumah saja. Terima kasih ya allah, akhirnya ketakutanku pun terjawab.
?????????
Next.....
Jangan lupa vote....