Ayu PoV Ucapan pengakuan bahwa dia mencintaiku terdengar parau namun dalam. Tubuhku meremang. Ini kali kedua ia mengungkapkan cinta selama berada di sini. Hampir saja aku terhipnotis dengan tatapan sendunya. Kesadaranku kembali terjaga, saat kelibatan masa lalu kembali berputar. Aku mengeluarkan semua racun-racun kebencian yang sudah lama tertahan di mulutku. Setelah aku mengeluarkan semua kesakitanku tepat di depan wajahnya. Aneh, dia hanya bergeming. Kemana Adi yang dulu? Yang perkataannya bak pisau tajam yang siap kapan saja menghunus diriku tanpa ampun. Hari ini laki-laki berkulit putih bersih ini dengan mudahnya memintaku kembali. Baru saja satu tamparan mendarat di rahang tegasnya. Namun, tak juga menyurutkan asanya utuk hengkang dari hadapanku. Lebih parahnya lagi dirinya jus

