Rindu dan Ancaman.

1804 Kata

Ayu PoV Aku masih termangu di depan jendela, memandang burung-burung yang sibuk berkicau. Berbeda dengan burung-burung yang tampang riang. Aku bersedih, menatap pilu ke arah jalan. Berharap ada seseorang yang kunanti benar-benar nyata hadir di hadapanku. Bukan ulusi, delusi ataupun halusinasi. sepuluh jemariku meremas benda pipih hitam kuat-kuat. Seperti menunggu air di padang pasir, rasanya lama dan teramat sulit. Gawai di tanganku tak kunjung terdengar kelentingannya. Hatiku mulai gelisah, aku mulai bersedih. Satu minggu sejak kejadian laki-laki berpakaian branded itu hadir menginjakan kakinya di rumah itu, Roy tak sama sekali menghubungiku. Andai tak ada bayi berpipi merah tersebut, aku rela jika harus merendahkan harga diri untuk menemuinya demi bisa menuangkan dahaga rindu. Segitu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN