Ayu PoV. Kicauan burung saling bersahutan. Bunga kamboja yang gugur bertebaran di mana-mana. Semua pandangan sepanjang mata memandang adalah gundukan-gundukan di atas hamparan tanah. Serta nisan-nisan yang tertancap gagah di masing-masing tempatnya. Aku duduk, lebih tepatnya diam dalam kekosongan. Tanganku memainkan kepalan tanah merah yang masih basah. Sesekali remasan itu mengencang seiring dengan kilatan ingatan sore kemarin. Semua yang bernyawa pasti akan kembali ke pangkuannya. Aku tahu itu, sangat tahu. Aku pun tahu pasti hampir semua orang belum siap dengan perpisahan. Di bawah terik panas matahari pagi orang-orang berbondong-bondong menepuk punggungku dengan lembut, masing-masing dari mereka menyelipkan kata ‘sabar’ di sela-sela kalimatnya. Aku menatap mendung pada pusara yang

