9

1732 Kata
Sara akhirnya sampai di rumah pantainya setelah berkendara selama dua jam. Dia merasa sangat lelah saat ini. Sampai di sana dirinya mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban. Sesaat dia merasa panik tapi kemudian ingat jika dia sudah berpesan kepada Eleina agar tidak sembarangan membuka pintu. "Eleina, ini aku." Seketika itu juga pintu terbuka dan Eleina berhamburan masuk ke dalam pelukannya. "Kakak, kenapa lama sekali baru datang lagi. Aku kira Kakak sudah meninggalkan kami di sini." "Tidak mungkin, Sayang. Aku tidak akan meninggalkan kalian selama kalian masih membutuhkanku. Bagaimana dengan mamamu? Apa dia sudah lebih baik?" "Iya, setidaknya Mama sudah bisa mulai bangun dan lukanya sudah mulai membaik." "Syukurlah. Kakak sudah mendapatkan seorang pengacara untuk membantu kalian dan dia terkenal tidak pernah kalah. Kakak harap semua ini akan berakhir bahagia untuk kalian." "Ya, Kak. Terima kasih!" "Ayo...kita temui mamamu." Mereka bergegas masuk ke dalam dan Sara mengunci pintu. Ia kemudian menuju kamar dan menemui Shirley. "Shirley," sapa Sara saat sudah di dalam. "Sara, kamu sudah datang." "Iya. Apa kamu sudah lebih baik?" "Ya, aku tidak pernah merasa lebih baik lagi. Aku tidak pernah merasa sebaik ini karena tidak perlu takut dia akan datang sewaktu-waktu." "Aku ikut senang jika dirimu sudah membaik. Aku sudah mendapatkan pengacara untukmu dan dia bersedia membantumu." Sesaat Shirley panik karena tidak bisa memercayai siapa pun karena yang dia tahu banyak orang yang berpihak pada Bill. "Siapa?" tanyanya sedikit takut. "Leon Darrell." Shirley menghembuskan napas lega saat mendengar nama itu. Dia tahu jika pengacara itu adalah salah satu orang yang tidak akan berpihak pada Bill dan Shirley merasa harapannya untuk bebas lebih besar. Shirley menangis terharu. "Terima kasih, Sara." "Hmmm, kalian mungkin akan harus bertemu dengannya." "Ya, kami tidak keberatan." "Baiklah aku ingin istirahat dulu karena aku merasa sangat lelah saat ini, jika kalian butuh sesuatu bisa bangunkan aku saja." "Ya, istirahatlah Sara." Ia kemudian keluar dari kamar Shirley dan menuju kamar yang lain di mana terdapat barang-barangnya di sana. Sara membuka toko pakaian di dekat tempat tinggalnya karena itulah dia bisa tidak perlu datang bekerja. Walaupun pendapatannya tidak seberapa tapi bisa membiayai hidupnya selama ini. Selain menjual pakaian dia juga mendesain baju sesuai keinginan pembeli dan dari itulah uang tambahannya berasal hingga dia bisa mencicil untuk membeli mobil. Ia bangun saat hari sudah sore dan dia kemudian keluar rumah dan berjalan-jalan di pantai sendirian. Dirinya tidak bisa mengajak Eleina ikut karena mungkin saja seseorang melihatnya. Ia menatap ke lautan dan memikirkan semuanya. Dia merasa tidak siap untuk menikah tapi semua itu harus dia lakukan demi Shirley. Ia merasa sedikit takut harus menyerahkan dirinya untuk seorang laki-laki. Selama ini dia selalu sendirian dan dia tidak pernah takut akan seperti mamanya selama dia tidak menikah. Dia akan selalu menutuskan hubungan saat kekasihnya mengajaknya menikah. Haruskah aku berkorban sedemikian rupa? Tapi tanpa bantuan Leon, Shirley mungkin tidak akan pernah bisa terbebas dari Bill dan mungkin hidupnya akan dalam bahaya. Ia merasa jika dirinya tidak bisa berhenti sampai di sini saja untuk menolong Shirley. Ia kemudian pulang kembali ke rumah untuk memasak. Setelah makan malam bersama Eleina dan Shirley yang memaksa ikut makan mereka kemudian menonton televisi. "Bagaimana kamu bisa mengenal Leon Darrell, Sara?" "Dia teman sepupuku dan sebenarnya dia juga calon suamiku," ucap Sara memutuskan memberitahukannya pada Shirley. "Oh...selamat. Kapan pernikahannya?" Sara tidak bisa menjawab karena dirinya memang tidak tahu. "Kami belum memutuskan, mungkin dalam waktu dekat." "Aku ikut bahagia," ujar Shirley. "Terima kasih," timpal Sara. Kemudian Sara memutuskan untuk tidur karena dia melihat Shirley sudah tampak kelelahan dan terus menguap dari tadi. "Ayo, sebaiknya kita tidur." "Hmmm," ujar Shirley menyetujuinya. Kemudian Sara membawa Shirley ke kamar dibantu oleh Eleina dan ia menyelimuti mereka berdua, baru kemudian pergi ke kamarnya. Saat di kamar dia tidak bisa tidur karena memikirkan Leon dan tanpa bisa dia kendalikan tubuhnya menginginkan laki-laki itu. "Apa yang salah denganku? Pernikahan kami hanya demi Shirley dan tidak ada cinta di sana dan aku harus mengingatkan diriku akan hal itu." Ia memutuskan mencoba untuk tidur dan akhirnya setelah beberapa saat dia bisa tertidur. Keesokan harinya dia terbangun saat telepon genggamnya berbunyi. "Halo," jawab Sara dengan suara mengantuk. "Sara, ini aku Jessica. Kamu bisa mengambil hasilnya hari ini." "Baiklah, Jessica. Terima kasih." "Sama-sama." Ia kemudian bangun dan mandi lalu menyiapkan sarapan untuk semuanya. Kemarin ia sudah membeli banyak bahan-bahan makanan jadi ia bisa meninggalkan mereka dengan tenang. "Aku harus kembali ke kota. Apa kalian tidak apa-apa aku tinggal lagi?" tanya Sara saat sudah selesai makan. "Ya, kami akan baik-baik saja. Kami tidak ingin menyusahkanmu," timpal Shirley. "Sama sekali tidak merepotkan. Aku harus pergi mengambil hasil visummu dan mungkin kita bisa segera mengugat suamimu dengan semua bukti-bukti yang sudah didapat." Sara bisa melihat binar bahagia di kedua mata Shirley. Ia berharap mereka bisa berhasil menolongnya. "Apa kalian butuh sesuatu?" tanya Sara lagi sebelum pergi. "Tidak ada, aku hanya ingin kamu menjaga dirimu baik-baik Sara, karena jika Bill tahu kamu membantu kami. Aku takut dia akan menyakitimu." "Ya, aku akan menjaga diriku. Terima kasih, Shirley," ucap Sara. "Dan Eleina jika kamu membutuhkan sesuatu hubungi Kakak." "Baik, Kak." Kemarin sebelum menyerahkannya bukti videonya pada Leon, ia sudah membuat duplikatnya untuk berjaga-jaga dan sebelum pergi tidak lupa ia menyembunyikannya di rumah pantai. Ia kemudian segera berangkat ke rumah sakit dan saat sampai di sana dia segera menemui Jessica. Setelah mendapatkan hasil visum dia ke butiknya untuk membukanya, karena jika ia terus tidak buka, bisa-bisa ia tidak makan nanti setelah tabungannya habis. Ketika hari sudah sore ia menutup butiknya dan pergi ke apartemen Darrius. Beruntung sepupunya sudah pulang dan ia meminta Darrius membuatkan surat Pra Nikah untuknya. "Terima kasih, Darrius," ucap Sara saat surat yang dimintanya sudah selesai. "Aku harap kamu akan bahagia, Sara. Leon orang yang baik dan aku yakin dia tidak akan pernah menyakitimu." "Aku hanya ingin berjaga-jaga. Aku tidak mau seperti Mama yang hanya akan pasrah." "Baiklah, itu keputusanmu." "Terima kasih." Bel pintu berbunyi dan Darrius segera pergi membukakan pintunya. Sara berdiri dan tersenyum saat melihat jika Leon yang datang tapi perlahan senyum di wajah Sara menghilang saat melihat kemarahan di wajah Leon. Darrius saat ini sudah pergi ke kamarnya meninggalkan mereka berdua saja dan ia tidak sanggup bersuara sebab begitu ketakutan bahkan untuk berteriak meminta pertolongan pada sepupunya. Ia hanya bisa tercekat di tempatnya dan sesaat merasa takut. "Dari mana saja dirimu?! Apa kamu tahu betapa aku mencemaskanmu?!" "Aku...aku..." ucap Sara gugup dan melangkah mundur menjauhi Leon yang berjalan mendekat padanya. Leon kemudian menarik Sara ke dalam pelukannya dan menciumnya dengan mengebu-gebu. Sara tidak dapat bereaksi karena begitu terkejut. Dia menatap kedua mata Sara saat sudah melepaskan ciuman mereka dan dia melihat ketakutan di sana. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud menakutimu," ucap Leon saat menyadari semuanya. "Aku hanya mengira terjadi sesuatu padamu karena Bill Jones bisa sangat jahat jika seseorang berani melawannya. Aku sudah mengatakan aku tidak akan pernah memukulmu," sambung Leon. "Ya, aku mengerti. Maafkan aku, aku tidak terbiasa memberitahukan seseorang keberadaanku karena selalu sendirian selama ini. Aku bersama istri dan anaknya Bill." "Mereka harus di bawa ke tempat aman yang memiliki penjagaan yang ketat." "Ya, aku tahu. Ini hasil visum Shirley dan besok aku akan membawa mereka ke kota apakah tempat perlindungan untuk mereka sudah siap? Karena mereka tidak akan aman jika hanya bersembunyi di tempatku." "Ya, aku sudah menyiapkannya dan dengan adanya bukti-bukti yang ada sidang akan segera di gelar. Aku butuh Mrs. Jones untuk langkah selanjutnya." "Baiklah, besok aku akan membawa mereka ke kantormu dapatkah kamu menunggu di sana?" "Aku akan ikut bersamamu." "Tidak, maafkan aku." "Baiklah jika itu maumu. Dua hari lagi kita akan menikah." "Apa? Kenapa secepat itu?" "Makin cepat makin baik sebelum aku kembali memerkosamu karena bahkan sekarang aku begitu ingin memilikimu dan jika tidak ada Darrius di sini mungkin aku sudah akan melakukannya," bisik Leon di telinga Sara kemudian menarik tubuh Sara kembali merapat padanya. Wajah Sara merona merah dan dengan segera melepaskan dirinya dari pelukan Leon saat dirasakannya bukti gairah Leon menekannya. Darrius kemudian keluar menemui mereka setelah merasa sudah cukup memberikan mereka waktu untuk berbicara. "Ini, tolong tanda tangani," ucap Sara sambil memberikan selembar surat pada Leon saat Darrius muncul karena ia kembali ingat tujuannya datang ke sini. Leon kemudian membaca surat itu dan sesaat dirinya mengertakkan gigi pertanda mulai marah. Walaupun kemarin dia sudah menyetujuinya tapi dia mengira Sara tidak serius. Walau dia mengerti jika Sara hanya merasa takut. "Kenapa di sini tertulis jika kamu meminta cerai kapan pun itu aku harus menyetujuinya? Kemarin ini tidak termasuk hanya jika aku memukulmu atau menyakitimu saja." "Aku baru memikirkannya tadi." "Aku tidak menyetujui bagian ini." "Kalau begitu kita batalkan saja," timpal Sara pelan dan tidak mau menatap Leon. "Baiklah, aku akan menyetujuinya dengan satu syarat." "Apa?" tanya Sara sedikit takut. "Kamu harus menambahkan kapan pun saat aku ingin bercinta denganmu, kamu tidak boleh menolak." Sara menatap Leon dan memikirkannya sesaat. "Baiklah." Kemudian mereka meminta Darrius memperbarui surat itu. Darrius menggelengkan kepala saat mereka meminta hal itu, "Kalian berdua sudah gila, aku harap kalian berdua akan saling jatuh cinta dan tidak bisa hidup tanpa satu sama lain," ucap Darrius. Sara memalingkan wajahnya tidak peduli. Ia tidak akan jatuh cinta, ia tidak akan membiarkan hidupnya dikuasai. Setelah itu mereka berdua kemudian menandatanganinya dan ia terus menghindari Leon karena tidak mau laki-laki itu menyentuhnya saat ini. "Aku harus pergi, aku akan kembali menemui Shirley dan Eleina. Besok aku akan membawa mereka padamu. Apa kamu yakin orang-orang yang akan menjaga mereka nanti bisa di percaya?" "Ya, aku sudah sering bekerja bersama mereka. Jadi aku tahu mereka tidak akan pernah tergiur akan uang." "Baiklah aku pergi dulu," ujar Sara sambil beranjak dari sofa menuju ke pintu. "Sara." "Hmmm?" tanya Sara sambil berbalik menghadap Leon. "Ucapkan namaku?" "Apa?" "Panggil namaku." Sara menatap mata Leon dan tahu jika dia tidak mengikuti kehendak Leon maka ia tidak akan dibiarkan pergi sedangkan hari sudah malam. Jika ingin sampai di sana sebelum tengah malam ia harus berangkat sekarang juga. "Leon," bisik Sara memanggil nama calon suaminya hingga hal itu meresap dipikirannya jika Leon memang merupakan calon suaminya dan dirinya tidak bisa menghindar. Leon menekan Sara di dinding dan mencumbunya dengan b*******h. "Kalian bisa ke kamarku kalau mau," ucap Darrius sarkastis "Tidak! Aku harus pergi," timpal Sara dengan napas memburu. Dengan terpaksa Leon melepaskan pelukannya pada Sara dan membiarkannya pergi. "Sepertinya kamu sudah terjerat olehnya, Sobat. Akhirnya seorang playboy akan segera menghilang dari peredaran," ucap Darrius saat Sara sudah pergi. "Hubungan kami hanya sebatas seks saja." "Terserah dirimu saja tapi aku ingatkan jangan sampai menyakitinya Leon atau kamu akan berhadapan denganku." "Jika kamu membaca surat Pra Nikah kami, kamu pasti tahu jika sepupumu itu bisa menjaga dirinya sendiri," timpal Leon marah karena masih tidak terima dengan surat Pra Nikah itu. Darrius tertawa karena tahu temannya merasa marah. "Jika kamu tahu lebih banyak tentangnya kamu akan tahu kenapa dia jadi berhati-hati seperti itu," ucap Darrius. "Baiklah aku pulang dulu. Aku harus mempersiapkan semuanya untuk besok." "Hmmm." Dan Leon berlalu dari apartemen Darrius. Tadi dia ke sana hanya karena Darrius mengatakan tentang kedatangan Sara. Sejak semalam dia merasa cemas karena Sara tidak mengabari mereka dan saat dia ke rumah Sara, rumah itu kosong. *** Jangan lupa klik love & komentnya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN