Sara saat ini sudah melaju kembali ke rumah pantainya. Sejak tadi dia terus memikirkan semuanya sambil berkonsentrasi akan jalan yang dilaluinya. Ia masih merasa ragu untuk menikah dengan Leon. Ingin rasanya ia melarikan diri tapi ia tidak bisa melakukan itu. Ia harus bertahan untuk Shirley. Selama ini ia sanggup bertahan dari hal apa pun untuk menolong wanita yang teraniaya dan ia tidak akan menyerah hanya karena mendengar kata pernikahan.
Saat ia sampai di rumah hari sudah agak malam.
"Eleina, ini aku."
Pintu segera terbuka setelah Sara menunggu beberapa lama.
"Kemasi barang kalian. Besok aku akan memindahkan kalian ke tempat yang lebih baik dan memiliki penjagaan yang lebih baik," ucap Sara saat sudah bersama Shirley dan Eleina.
"Tapi Sara apakah kami benar-benar akan aman? Dan tidak ada orang-orang Bill? Bagaimana jika Bill menyuap mereka semua?"
"Leon berani memberikan jaminan untuk hal itu dan aku memercayainya. Kalian juga harus memercayainya karena mulai sekarang dia yang akan membantumu."
"Baiklah kalau begitu," ujar Shirley.
Selesai berkemas mereka semua memutuskan tidur agar besok bisa berangkat pada pagi hari ke sana.
***
Keesokan harinya pada pukul 05:00 mereka semua berangkat ke tempat Sara dan Leon janjian. Dia sudah memberitahukan pada Leon kapan akan datang.
Saat sampai di tempat yang mereka tuju, Leon sudah menunggu di sana bersama beberapa orang dan setelah ragu sesaat Shirley dan Eleina mau mengikuti orang-orang yang bersama Leon.
Setelah menyerahkan Shirley, Sara berniat masuk kembali ke dalam mobilnya tapi saat dirinya ingin membuka pintu, Leon menahan pintu mobilnya dan mengurungnya di samping mobilnya.
"Apa yang kamu inginkan, Leon?" tanya Sara tercekat saat Leon begitu dekat padanya.
"Kamu berhutang ciuman padaku untuk hari ini," ujar Leon dan kemudian memagut bibir Sara.
Setelah itu Leon kembali menatap mata Sara.
"Besok kamu akan segera menjadi milikku," ujar Leon.
Sesaat Sara merasa panik dan ingin segera kabur dari sana. Dia tidak ingin menjadi milik siapa pun.
Leon melihat kepanikan itu di mata Sara dan menyadari jika dirinya sudah salah bicara.
"Ikutlah bersamaku malam ini," pinta Leon.
"Maaf aku tidak bisa," ujar Sara dan tidak berani menatap Leon.
Leon terdiam, "Baiklah. Pastikan besok sore kamu akan datang untuk menghadiri pernikahan kita."
"Hmmm."
Sara segera masuk ke dalam mobil saat Leon sudah melepaskannya dan dengan cepat dia melaju pergi dari sana kembali ke rumah kecilnya. Seharian tidak ada yang bisa Sara kerjakan, dirinya hanya bisa mondar mandir di dalam rumahnya tanpa melakukan apa pun karena merasa begitu gelisah dan panik. Bahkan saat waktunya tidur pun Sara tidak bisa tidur karena terus memikirkan pernikahannya besok. Dia dan Leon sudah sepakat akan mengadakan pernikahan biasa saja karena pernikahan mereka hanya sementara.
***
Saat ini Leon sudah berada di pengadilan tempat di mana sumpah pernikahannya dan Sara akan diucapkan. Dia sudah menunggu selama 10 menit tapi Sara belum juga muncul dan sejak tadi dia terus melihat jam tangannya.
Apakah dia melarikan diri?
Leon terus mondar mandir di sana karena sudah tidak sabar menunggu kedatangan Sara.
Saat itulah seorang wanita masuk mengenakan gaun dengan ekor panjang berwarna hitam dengan belahan d**a rendah dan bahu yang dihiasi renda di kanan dan kirinya.
Leon tertawa melihatnya. Hanya Sara mungkin yang akan datang di pernikahannya sendiri memakai gaun hitam pertanda jika dia sedang berduka untuk dirinya sendiri.
Tapi walau begitu Sara masih nampak mempesona dan Leon tidak peduli sekalipun Sara datang hanya memakai handuk. Asalkan dia bisa segera memiliki Sara.
Saat ia tiba di tempat Leon berada mereka mengucapkan sumpah pernikahan dan ditutup dengan ucapan Leon boleh mencium pengantinnya. Tanpa menyia-nyiakan waktu Leon menarik Sara ke dalam pelukannya dan menciumnya hingga wanita itu kehabisan napas. Leon ingin menghukumnya karena pemberontakkan yang ia perlihatkan padanya.
"Apa kamu berniat membunuhku?" tanya Sarah dengan napas terengah setelah Leon puas menciumnya, tapi Leon hanya tertawa dan malah mengangkat tubuh Sara ke dalam pelukannya dan segera membawa Sara ke mobilnya menuju apartemennya.
Saat mereka sudah tiba Leon segera menarik Sara ke dalam lift dan kembali menciumnya. Begitu sampai di lantai apartemennya dia kembali menggendong Sara dan baru menurunkannya saat dia harus membuka pintu. Bahkan dia terus mencumbu Sara hingga wanita itu kewalahan dan tak sempat mengatakan apapun.
Ketika akhirnya pintu terbuka dia segera menarik Sara masuk dan bahkan hampir menyeretnya. Saat sudah mengunci pintu dia membawa Sara ke kamarnya.
Sara bergegas menjauh dari Leon saat sudah tiba di kamar. Dia berdiri di depan meja rias memandangi pantulannya di kaca.
Mulai hari ini kebebasanku akan hilang.
Dari cermin ia menatap mata Leon yang berjalan mendekat padanya dan kemudian mencium bahunya dari belakang dan terus naik menuju telinganya. Dia kemudian membalikkan tubuh Sara menghadap padanya dan mencium bibirnya, menghisapnya perlahan dan membelainya dengan ujung lidahnya. Bagian belakang gaun Sara terbuka hingga pinggangnya dan Leon mengusap-usap punggung Sara yang kulitnya terasa begitu halus. Sara bisa merasakan jika seluruh tubuhnya meremang karena begitu mendambakan Leon tapi dia belum siap saat ini.
"Bolehkah aku mandi dulu?" pinta Sara.
Leon mengangkat kepalanya dan menatap kedua mata Sara.
"Baiklah."
"Terima kasih," ucap Sara lega karena bisa sedikit menunda semua itu.
Sara kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan membuka semua pakaiannya. Dia masuk ke dalam pancuran dan membasahi tubuhnya. Ia segera membalikkan badan saat mendengar pintu yang terbuka. Tadi ia memang tidak menguncinya karena tidak ada kunci di pintu itu.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Menemanimu tentu saja. Kamu tidak berpikir aku akan membiarkanmu mandi sendirian bukan?"
Ia terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa. Saat ini Leon juga sudah tidak berpakaian sama sepertinya dan ia hanya bisa mematung saat Leon tiba di sampingnya dan membasahi tubuhnya di bawah pancuran juga. Sebisa mungkin ia berdiri menjauh agar tidak bersentuhan dengan laki-laki itu.
Ia terus terdiam memandangi tubuh Leon dan juga bukti gairahnya yang sudah menegang. Tubuh Sara merasakan gairah yang sama saat tanpa sengaja kulit Leon bergesekan dengannya saat dia meraih sabun.
Dia mematikan air dan menyentuhkan sabun ke seluruh tubuhnya. Sara sangat ingin mengantikan tangan Leon saat ini. Dirinya berusaha menahan diri dengan mengigit bibirnya.
"Maaf bisakah kamu menyabuni punggungku Sara? Karena tanganku tidak sampai," ucap Leon dan memberikan sabun pada Sara.
"Ya, tentu," ujar Sara gugup dan menerima sabun yang Leon berikan padanya. Ia kemudian menggosok pelan punggung Leon dan dengan perlahan menelusuri jarinya di sana.
"Sekalian dadaku juga Sara jika kamu tidak keberatan."
"Ya," ucap Sara dan berpindah ke bagian depan tubuh Leon. Ia menelusuri jarinya di otot d**a Leon dan terus turun menuju perutnya dan Sara hanya bisa menatap ragu saat melihat bukti gairah Leon. Yang dari tadi terus menyenggolnya.
"Kamu bisa menyabuninya juga jika mau," ucap Leon serak.
Sara menatap kedua mata Leon dan kemudian menyentuh Leon di sana. Perlahan Sara menggosok tubuh Leon naik turun. Sara memainkan tangannya di sana hingga dirinya mendengar desahan keluar dari bibir Leon.
"Cukup!" ucap Leon terengah dan kemudian menyalakan air pancuran.
"Sekarang giliranku," sambung Leon.
"Tapi aku tidak membutuhkan bantuanmu."
"Aku suami yang adil Sara jadi aku akan melakukan hal yang sama untukmu seperti kamu melakukannya untukku."
Leon kemudian mengambil sabun dan membalikkan tubuh Sara untuk menyabuni punggungnya. Saat sudah menyabuni semuanya Leon membalik Sara kembali hingga menghadapnya dan menyabuni bagian depan tubuhnya. Dia menyabuni kedua p******a Sara dan merabanya dengan perlahan.
Dia tersenyum saat mendengar desahan yang lolos dari bibir Sara. Kemudian dia turun menelusuri perut Sara menuju area intimnya.
Seketika Sara merapatkan kakinya karena tidak ingin Leon menyentuhnya di sana.
Tapi dia melebarkan kaki Sara dan mulai menyabuninya di sana. Dia menggosok area intim Sara dengan seksama dan tanpa bisa Sara kendalikan dirinya kembali mendesah.
Perlahan gerakan Leon berubah menjadi gesekkan. Dia menggunakan jarinya dan menggesek bagian tengah area intim Sara hingga ia membuka lebar pahanya dan dia segera memasukkan jarinya di kehangatan Sara, keluar masuk di sana.
Sara mencengkeram pancuran agar dirinya tidak jatuh ke lantai dan berlutut di hadapan Leon.
Kemudian Leon berdiri dan membilas tubuh Sara. Setelah itu dia mengeringkan tubuhnya dan keluar dari kamar mandi meninggalkan Sara di sana sendirian.
Sesaat Sara masih linglung tidak mengerti apa yang terjadi. Hingga akhirnya ia sadar jika Leon pasti sengaja melakukan semua ini. Dirinya saat ini begitu tersiksa karena tidak mendapatkan pelepasannya. Ia menunggu lama di kamar mandi sebelum mengeringkan tubuhnya dan ikut keluar.
***