“AAAHH!!” Auryn menendang tembok berlumut di depannya. Dia sedang meluapkan emosi yang mulai menggerogotinya itu. Gimana nggak emosi, Yunda tadi memaki Auryn di hadapan siswa lainnya. Hilang sudah karkat dan martabat Auryn. Dia bukan mempermasalahkan itu saja, tapi dia sama sekali tak terima dituduh penyebab kekalahan tim basket sekolah. “HAAAAH!!” Gadis itu kembali berteriak hingga sekujur tubuhnya mulai terasa panas. Emosi membuatnya seperti ini, tapi beruntung Auryn bisa meluapkan emosinya. Seketika dia menoleh, menatap cowok yang tadi menolongnya itu. “Virgo,” panggil Auryn pelan. Virgo menoleh, melihat Auryn yang terlihat lebih baik dari sepuluh menit sebelumnya. Cowok itu mendekat dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku. “Udah?” Arah pandang Auryn tertuju ke wajah Virgo.

