Meskipun Eiji membuka lebar pintu pertemanan kepada Nicholas tetapi Kayshifa masih menganggap Nicholas hanya pengganggu dan lebih-lebih ia memiliki kepentingan hingga mau berteman dengan mereka. Padahal selama dua hari pertemanan mereka, Nicholas selalu membuktikan bahwa ia bisa berubah dari kelakuan masa lalunya sebagai hama atau pengganggu dan pantas menjadi teman mereka.
Di usia mereka yang masih terbilang remaja, Eiji, Kayshifa dan Nicholas akhirnya menjadi teman dekat. Mereka selalu bersama di lingkup kampus.
Hingga pada pagi, dimana jam sepuluh kebanyakan mahasiswa baru memenuhi kantin, tiga pria dan satu wanita datang berlagak sombong. Seakan tiga pria itu memperlihatkan diri pada mahasiswa baru tentang bagaimana caranya menghormati mahasiswa lama atau senior mereka.
Lalu salah satu pria berambut gondrong dari mereka berkata lantang, “Aku ingin mengajari kalian bagaimana melakukan ritual kekuasaan di sini, salah satu caranya mengusir seperti ini.” Kemudian kedua temannya bertindak, ia tendang meja dan bangku yang telah di duduki. Akhirnya tiga wanita yang di usir mereka itu pindah tanpa perlawanan. Dan keduanya duduk di meja itu. Sementara wanita bersama mereka itu hanya melihat menyaksikan tingkah temannya.
Pria gondrong berbicara melanjutkan, “Cara kedua memilih dari kalian.” Kemudian dia menoleh ke temannya, lalu mengucap siapa yang akan kalian pilih? Langsung kedua temannya mencari siapa yang akan mereka pilih. Satu dari mereka pria hitam berambut keriting menunjuk wanita dan satu berambut kuncir menunjuk pria.
“Bagi kalian yang di tunjuk, tolong datang kemari sebelum sesuatu buruk datang kepada kalian,” ucapnya dengan lantang. Wanita yang di tunjuk itu pun melangkah sambil menunduk kepada mereka namun pria yang di tunjuk tadi tidak memberikan aksi, ia tetap santai meneguk minumannya.
Kemudian pria gondrong itu menoleh pada kedua temannya lalu ia tersenyum kecil, itu tanda bahwa mereka bertiga akan datang menemui pria yang tak peduli dengan perintah mereka dan memberikannya pelajaran terbaik.
“Bung, apa kamu tidak memiliki telinga?” tanya pria hitam. Tetap saja ia tak memberi respons. Ketika tangan pria gondrong itu mulai menghantam ke pria yang entah tuli itu, Nicholas bertindak cepat. Seakan ia iba melihat ketiga pria itu mengganggu pria cukup yang menggunakan kacamata tebal dan besar itu. Lalu ia berkata “Tindakan kalian sangat memalukan kawan, singkirkan perkataan jelek dan tinju seperti itu pada teman kita ini.” Ia menatap tajam ke arah ketiga pria itu.
Pria gondrong bergerak merangkul Nicholas, ia berkata tepat di telinga kanannya “Aku takut hari ini menjadi hari buruk bagimu. Jangan salahkan aku.” lalu Nicholas di dekapnya keras hingga ia tidak bisa bergerak, dan seketika pukulan mendarat di pipi kanannya, lalu berganti di hantam di pipi bagian kiri oleh pria hitam berambut keriting. Tapi seakan Nicholas tak merasakan sakit oleh dua pukulan keras yang bertubi-tubi mengenainya itu.
Nicholas pun melawan, menghajar mereka satu persatu hingga mereka terpental ke meja kantin. Ketika ia di tendang oleh pria berambut kuncir, Nicholas memutar badannya lalu mendekap kaki panjangnya tanpa memasang wajah marah, Nicholas langsung menghantam pria itu di bagian dagunya. Ia langsung terpental ke meja satunya.
Ketiganya bercucuran darah lalu berlari teriak ke arah Nicholas secara bersama. Tendangan, pukulan yang datang dari depan, samping dan belakang, herannya tak membuat Nicholas bergerak sedikit pun. Bagai semua hantaman bertubi-tubi ketiga pria itu hanya gelitikan baginya.
Lalu ketika tangan kanannya ingin menghantam ketiga pria itu, tiba-tiba ia hentikan sebab teman wanita ketiga pria tadi berdiri membentang tangannya melindungi tepat di hadapan mereka. “Kalian bertiga keluar sekarang atau nyawa kalian melayang,” ucap Nicholas sambil mendongakkan kepalanya. Ketiga pria itu pun takut dan langsung mematuhi perintah Nicholas.
Seisi kantin langsung ramai oleh tepuk tangan dan menyoraki kepahlawanan Nicholas. Ada yang bersiul dan ada wanita yang mengedipkan mata padanya. Lalu ia membungkukkan badan layaknya seorang selesai melakukan pentas pertunjukan.
Ketika Nicholas membalikkan badan ke arah meja dan tempat duduk Eiji dan Kayshifa, wanita teman ketiga pria tadi keluar kantin sambil menunduk.
“Bagaimana kawan, kalian tidak bangga memiliki teman seperti ku?” tanyanya pada Eiji dan Kayshifa.
“Biasa saja,” Jawab Kayshifa sinis. Lain dengan Eiji, ia tersenyum dan mengatakan bangga memiliki teman seperti Nicholas.
Dan memberikan reaksi kekaguman pada Nicholas, seolah-olah kekaguman Eiji bagai menyaksikan pertunjukan bela diri di layar lebar. Ia tak menyangka pria yang di juluki pengganggu kini berubah menjadi pria penolong.
“Please ya, tidak usah berlebihan. Ketiga pria itu saja tendangan dan pukulannya lemah tapi aku yakin ketika orang lain menghantam pasti kamu tergeletak babak belur. Dan untungnya kamu menang, kalau kalah pasti ku soraki kamu, ku biarkan kamu di hajar hingga pingsan,” ucap Kayshifa jujur.
“Memang wanita berbibir merah seperti kamu bisa berkelahi?” ledek Nicholas.
Kayshifa pun menunjukkan tinjunya pada Nicholas, “Apa kamu mau mencoba pukulan ku?” ucap Kayshifa geram.
“Sudah-sudah, cobalah hargai teman kita ini,” ucap Eiji. Kayshifa pun menurunkan kepalan tinjunya.
“Kamu bisa bela diri kawan, coba ceritakan sedikit pada kami!” pinta Eiji. Tetapi Kayshifa malah melarang dan tidak mau mendengar cerita Nicholas.
“Kita berbicara waktu lampau kawan. Aku pernah di ajarkan kungfu oleh seorang postur dekat rumah ku. Ia keturunan mata sipit sama dengan kamu.
Selama lima bulan aku belajar tekun padanya, dari jurus dasar beladiri hingga seperti tadi yang kalian lihat, tidak mempan tendangan lemah seperti tadi itu. Aku pernah di hantam oleh kayu dan besi yang lebih keras dari pada hantaman tadi. Semua badan ku memar dan luka-luka hingga di malam harinya tidur ku tidak nyenyak bahkan mimpi buruk. Semua itu aku lakukan agar bisa menyerap ilmu beladiri darinya. Dan akhirnya lima bulan aku berhasil menguasai jurus-jurus yang di ajarkan oleh guru ku. Bagi ku itu sesuatu yang menakjubkan dalam diri ku. Satu-satunya perolehan yang aku banggakan yaitu menguasai ilmu beladiri ini.
Tetapi ada satu yang sampai sekarang tidak bisa aku lakukan, yaitu keseimbangan melompat dari satu kayu yang lembut ke kayu satunya” Jelas Nicholas
“Wow, luar biasa,” Sahut Eiji pelan. Tapi ada apa dengan Kayshifa? mendengar penjelasan dari Nicholas itu seakan ia ingin mual dan muntah. Ia yakin bahwa apa yang di ceritakan Nicholas itu semuanya cerita fiktif belaka.
Lalu suara lembut menyapa Nicholas dari belakangnya, yaitu wanita cantik yang di tunjuk tadi. Boleh aku meminta nomor ponsel mu?” tanyanya sambil membawa sepotong kertas dan pena. Nicholas menoleh dan langsung memberikan nomor ponselnya. Kemudian wanita itu pergi.