Hatiku Ada di Sebelah Mana

1345 Kata
Ketika memulas lip tint warna coral pada bibirnya, Andara mengerjap memandang seraut wajah dalam cermin itu. Terlihat beda. Mungkin karena riasan, atau apa yang ia kenakan. Dia segera teringat perkataan A Cheng saat berpapasan dari surau, beberapa hari yang lalu. Huru-hara yang tak seberapa penting. “Pastinya, awak dari surau?” “KUA.” “Whats, Kei ju ei?” Begitulah pria itu mengejanya. KUA dalam spell of English ala A Cheng. Sambil satu tangan mengaruk kepala, satu lagi menarik tas slempang yang sudah pasti berisi uniform, sepatu ESD busuk dengan tambahan beberapa sekrup mesin. Dia tampak berpikir keras. Seperti saat merepair mesin saja. Andara hanya terkekeh geli ketika berhasil mengerjai A Cheng. Hanya basa-basi, karena setiap terserempak, pria itu akan bertanya hal yang sama. Seperti yang sudah-sudah, hanya sedikit bumbu yang berbeda, yaitu seringai. Seperti saat Andara keluar dari surau dengan tampang yang itu-itu saja. “I selalu nampak, banyak amoi sembahyang, begitu keluar surau dia punya wajah cantik, bibir merah. Tak macam awak, Dara?” Andara tahu ke mana maksud perkataan itu. Oke, dia bukan amoi cantik, tapi manis. “Tak ada duit lah. Nak beli bedak, lipstick, semua tu mahal.” “Iya, me? Gaji dia orang banyak yang lagi sikit dari pada awak.” A Cheng terlihat berpikir sejenak. Dia tidak yakin dengan jawaban asal Andara. “Macam mana nak dapat abang? Pagi, siang, petang, muka awak itu macam saja!” "Cincailah!" Andara terkekeh sambil berlalu pergi. Ketika Andara berhasil menyematkan pin pada tengah pasmina, dia terkekeh sendiri di depan cermin. Sesekali rapi, sedikit cantik tidak berdosa. Dia ingin tahu reaksi Alice dengan penampilannya. Gamis kembang-kembang berwarna dasar salem muda, dengan bunga kecil warna ungu. Jam 7.40 petang ketika klakson taxi berlatar jalur gemilang berbunyi, Andara menyambar tas slempang kecil bersamaan dia selesai mengirim pesan pada Priya yang sedari siang entah merayau ke mana. Rumah ini telah mereka tempati dua tahun lebih. Satu persatu keluar karena menikah. Zura, lalu entah siapa yang menyusul keluar lebih dahulu. Priya atau dirinya. Sebenarnya, mereka sepakat memasang iklan, bahwa ada satu kamar kosong, tetapi berkongsi rumah itu tidak mudah. Akhirnya ada satu kamar terbiar yang digunakan untuk menampung sesiapa saja. Asalkan itu perempuan. Semacam 'bilik berinai'. Hanya Zura dan Priya yang tahu secara pasti maknanya. “Ke mana, Dara?” “Ipoh Parade, Pakcik.” “Amboi, dating ya? Lawa nampak.” Andara hanya tergelak dengan godaan Pakcik Jamal, selanjutnya memilih bungkam, setelah bertanya kabar masing-masing. Taxi langganan selama hampir tujuh tahun ini, selalu bisa diandalkan. Tambang atau onkos taxinya lebih miring. Bahkan, nama Andara punya daya magnet untuk meraih diskon. Beberapa pekerja terkadang memakai jasa pria yang dulunya adalah seorang pegawai Maybank tersebut. Setelah bersara, duit pancen atau semacam pesangon, beliau labuhkan dengan membeli kereta baru. Dibantu satu lagi temannya untuk memandu, dengan sistem bagi hasil. Pakcik Jamal akan bertanya, sama ada pekerja tersebut mengenal Andara atau tidak. Sekadar kenal atau memang kenal baik. Dahulu, hampir semua pekerja migran mengenalnya, sekarang tersisa satu dua orang saja. Biasanya beberapa yang masih bertahan itu di lehernya telah mengantung satu atau dua loket. Lima tahun masa khitmad para pekerja berhak atas satu loket emas seberat 5 gram. Sepuluh tahun khidmat, dia mendapat 5 gram berikutnya. Perkenalan Andara dengan Pakcik Jamal terjadi sejak lama. Saat itu Andara mengantar salah satu warden asrama yang ingin pulang kampung ke Medan karena menikah. Pekerja itu berbelanja oleh-oleh sangat banyak. Mereka sudah terlampau lambat untuk meredah jalanan yang macet. Padahal, jam sudah menunjukkan pukul 6.40 petang. Andara belum salat Asar. Akhirnya, dia mengajak Pak Cik Jamal menepi di stasiun pengisian bahan bakar, dan berjanji membayar tambang dua kali lipat dari harga awal. Pucuk dicinta ulam tiba. Justru, pria paruh baya itu menolak uang yang disodorkan. Dia malah mengatakan baru sekali ini diingatkan untuk salat oleh penumpang. Dia bahkan mengadu, selalunya pekerja dari Indonesia berbaju seronok kurang bahan, dan sering mengecilkan dirinya yang hanya pemandu taxi. Andara hanya dapat menghaturkan beribu kemaafan sekaligus kesyukuran. Tentu tidak semua pekerja seperti itu. Banyak yang sopan, dan bertolak ansur. Bahwa setiap pekerja dari luar Malaysia adalah duta bagi negara masing-masing. Mereka pahlawan devisa. Hingga ke kini, silaturahmi antara dirinya juga keluarga Pakcik Jamal masih terjalin. Andara bahkan mengenal anak dan istri pemandu taxi yang sudah bergelar haji tersebut. Pelanggan Pakcik Jamal memang sedikit surut karena taxi daring, tetapi Andara masih merasa nyaman dengan khidmad orang tua itu. “Tak jadi dekat Ipoh Parade. Dataran Majelis Bandaraya Ipoh Food (MBI-Food).” Andara bergumam pada layar telepon bimbitnya. “Dekat saja. Kena banyak jalan, Dara,” ujar Pakcik Jamal tersengih. “Nak, jumpa sapa? Rasanya ada pagelaran muzik di dataran, tuh.” “Bos berserta family. Tadinya, ajak makan di Kenny Rogers, tak jadi pula. Konon, makanannya kurang variatif.” “Betulah. Kalau dekat MBI Food, nak apa saja mesti ada. Nasi kerabu ayam dara, pattaya banjir, sate kambing, char kuew teow, nasi itik, sup tulang, dan banyak lagi.” “Yalah.” Andara meringis. Makan di kawasan terbuka memang mengasikkan. Menatap langit berhias bintang, sambil melihat pagelaran musik. Nostalgia keluarga memang sering berdesakan memenuhi ronga d**a hingga rasa sesak dibuatnya. Sisa perjalanan diisi kesunyian. Hanya lagu Seroja mengalun mendayu. Ketika taxi itu berhenti berhampiran dataran yang tampak ramai selalu, helaan napas berulang kali dia embuskan keras-keras. “Nanti, bila nak balik, telepon saja, ya. Pakcik jemput.” Andara menganguk. Taxi milik Pakcik Jamal menderum menyisakan asap tipis. Kesunyian dalam keramaian, bisiknya pada diri sendiri. Sambil beberapa kali membetulkan tas selempang, satu tangan menahan telepon bimbit pada telinga, matanya meliau di antara banyaknya gerai makanan. Meski sedikit kecewa kerena Alice menukar tempat berjumpa, tetapi semua seakan tergantikan dengan bau-bauan sekaligus asap harum yang menyerbu. Aroma yang serta merta membangkitkan seleranya. Ketika berada di tengah-tengah keriuhan, seorang perempuan dengan baju kurung pesak buloh warna dasar abu berbunga merah melambai ke arahnya. Mereka sepertinya berlima sedia menunggu pesanan. Lima orang? Selalunya, kalau keluarga Makcik Zarina ikut serta, akan mengambil dua meja. Andara seketika melambatkan langkah. Mengira, siapa agaknya pria yang sedang asik berdebat dengan David Young? Pria itu beberapa kali mengusap rambut, sesekali mengangguk. Tinggal satu saja kerusi kosong berhampiran pria itu. Dua kursi di seberang meja di huni dua bocah, sedangkan Alice berada di ujung satu lagi. Ketika sampai, mau tak mau Andara melabuhkan diri persis di samping pria itu. “Good evening everybody! Whats surprise?” sengih Andara. “Wohaa. Trafic jam, ke? Lambat sangat?” “Lima belas menit pun, Encik David!” sanggah Andara. “Wah, lawa nampak malam ini.” Satu suara garau yang langsung membuat mata Andara membulat. Pria itu sampai bertopang dagu mengamatinya. Naik ke atas persis pada wajahnya, lalu turun kepada gamis warna salem miliknya, kembali pada wajahnya yang seperti kepiting rebus. “Kamu?” “Hari-hari, dia memang sudah lawa.” David Young tampak tertawa menaggapi Dayong yang masih saja ternganga. “Daniel! Cai cai, wo de xin zai na bian?” [1] “Zuobian!” [2] Saat mengatakan itu, Dayong masih menatap Andara hingga pipi perempuan itu memerah lagi dan lagi. Semakin merona karena ditimpa pendar lampu. Dia memalingkan wajah, sambil mengerucutkan bibir. Matanya melirik pada David Young lalu beralih pada Alice yang sibuk dengan buku menu, tetapi bibir mereka sedikit berkerut menahan tawa. Dua bocah berlari menjauh menuju dataran, mungkin akan kembali bila makanan sudah tersaji. Andara yang tadi berpaling kini memberanikan diri bertentang mata dengan Dayong. Tepat pada manik hitam itu. “Daniel, wah hebat, boleh cakap banyak bahasa.” Andara mencoba berbasa-basi. “Aku juga sedang menimbang untuk belajar Bahasa Jawa,” ujarnya sambil menaikan alis tebalnya. “Hah! Serius? Buat apa, coba?” "Mengorat ... eh, merayu minah Jawa lah. Apalagi!" Andara paham Daniel Yong memang punya wajah kacak, menjadi igauan banyak gadis. Minah China, Melayu, India, Indonesia atau Kamboja sekalipun. Laris manis semacam buah durian pada musimnya. "Saya kenal ke? b***k hostel mana?" tanya Andara sambil memainkan selemoang tas miliknya. "Kenal. Mestilah kenal. Dahulu kamu HRD, pasti kenal semua pekerja dari Indonesia." "Oh, tahniah Daniel." Andara justru mengucapkan selamat. Tentu saja tingkah Andara membuat Dayong sedikit kesal. "Kenapa ucap tahniah?" "Yalah ... awak dah laku juga akhirnya." Melihat Andara yang pendiam menggoda Dayong, baik David Young maupun Alice ikut tertawa terbahak-bahak. Betapa cocoknya kedua muda-mudi di hadapannya itu. "Best Couple konon!" bisik Alice pada suaminya. --------- 1. Coba tebak, hati kamu ada di sebelah mana? 2. Sebelah kirilah
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN