Andara masuk ruangan bersamaan dengan Dominic. Bosnya itu terlihat masam seakan cuka bercampur aroma kopi sekaligus tembakau ketika menyeringi dengan tak ikhlas. Entah kenapa para pria begitu menikmati membakar duit, menelan asapnya hingga terbatuk-batuk. Padahal, setahu gadis itu, bosnya itu sempat berazzam berhenti merokok bila usianya mencecah empat puluh tahun.
Jadi, September tahun lalu, Dom genap berusia empat puluh tahun. Sempat berhenti, tetapi sekarang terlihat mulai melampiaskan kerinduan pada benda tak berguna itu. Rasanya sekitar dua minggu ini, Dom kembali beraroma tembakau. Memang seperti ungkapan bijak salah satu pemilik pabrik rokok; bahwa merokok adalah pilihan orang dewasa dari sekian banyak pilihan hidup yang pasti mendekat.
Dom pernah menjatuhkan pilihan merokok, kemudian berhenti lalu kembali merokok lagi. Semua itu pasti ada alasannya. Janji bosnya itu tidak merokok di ruangan kerja, atau siap-siap kehilangan pekerjaan.
“Dara! Comersial invoice, export declaration, sama semalam I minta apa, ya?”
Andara sedikit menyeringai. Rokok membunuh ingatanmu, Bos! “Packing list sama bill of landing. Sampai work week tiga, sudah saya pass, semalam.”
Dominic mengaruk kepala sendiri, membuat rambut ikalnya berantakan. Dia yang hampir duduk di belakang meja ketika Andara memukul lencananya ke arah pintu dropship, kembali berdiri tegak “Kenapa, awak senyum-senyum, Dara?”
“Tak adalah, Bos. Biasa saja. Habis dapat bonus, kenalah senyum.”
“Tak biasa. I tampak awak selalunya diam saja.”
Andara terkekeh geli dengan apa yang ada dalam alam pikirannya. “Saya pikir tadi, cepatnya lupa. Semalam baru saya bagi dokumen itu, sudah lupa. Ini mungkin karena sigaret itu, Bos.”
Dominic akhirnya ikut tergelak. “Awak betul, Dara. Padahal, masa I candle blow sampena birthday, I janji berhenti merokok. Banyak problem … macam mana, nih?”
“Namanya, hidup, Bos. If you don’t step forward, you’are always in the same place,” ujar Andara cangung. Seperti tidak yakin akan apa yang dia tuturkan, mengutip quotes Nora Robeth untuk menasehati bosnya. Apalagi ketika melihat Dominic melempar pandangan jauh, terapi terasa kosong.
“Yes, I agree, Dara. Masalah ini, kena I bicarakan dengan Chiristina.”
Apakah masalah ibunya? Dominic pernah bercerita sekilas. Rasanya saat lot sedang slow atau akhir tahun saat persiapan untuk shutdown tutup tahun. Ibunya menderita diabetes millitus tipe dua. Memilih tinggal di rumah kebajikan warga emas, semacam panti jompo. Mungkin tidak sehaluan dengan Christina, istri Dom. Selalu ada drama menantu, dan mertua. Tentu, Dominic khawatir akan kesehatan ibundanya.
Apakah Andara nanti akan seperti itu juga, berselisih dengan mak mertua?
Siapa pria baik-baik yang akan menerimanya, yang tak jelas nasabnya. Dia ingat beberapa teman ngajinya dahulu saat masih di kampus sudah membuat lakaran. Seperti apa ikhwan yang menjadi kriteria. Ada yang menginginkan memiliki suami seperti Zait bin Tsabit yang punya daya ingatan mumpuni. Seorang pemuda yang diamanahi mengumpulkan, dan menuliskan kembali Al Quran dalam satu mushaf.
Ada pula yang bolak-balik membaca biografi Amr bin Ash. Sang negosiator ulung penakluk Mesir. Bisa di tebak, temannya itu menginginkan politis yang sangat dibutuhkan ummat saat ini.
Andara sadar diri, masih banyak yang harus dipelajari. Terlalu fakir akan ilmu. Satu yang dia jadikan pegangan, sebagai satu nilai tawar. Seperti sebuah hadis Ahmad: Rabbmu kagum dengan pemuda yang tidak memiliki shobwah. Shobwah sebuah kecondongan untuk menyimpang dari kebenaran. Seperti halnya jodoh adalah sebuah cermin, bila menginginkan pemuda yang tidak memiliki shobwah, Andara harus senantiasa memelihara iffah-nya. Rasa malu sebagai benteng iman.
Meski lambat-laun, dirinya kini makin futur saja. Namun, doa-doa tetap harus dilangitkan. Karena drama hubungan buruk yang pernah Dom ceritakan bukan semata mengaibkan diri sendiri, dia sekadar berbagi. Karena ketidak serasian antar mertua dan menantu, sekali lagi bersifat universal.
Andara memandang Dom yang memang terlihat lelah dengan kantung mata menghitam. Pasti lelah ketika dalam tidur menimang dua perempuan terpenting dalam hidupnya.
“Semoga, semua baik, ya,” ucap Andara .
Dominic menganguk lagi. “Thanks, Dara. Bagi I semangat. Awak memang bijaklah.”
“Mestilah, bijak. Orang yang tengah fall in love. Kenalah menjadi bijak.” Priya tiba-tiba sudah mengacau dengan setumpuk invoice di tangannya. “Pandai, awak kutip quotes Nora Robeth. Sudah baca part itu. Hmmm? Jangan jadi nakal, ye!”
“Siapa yang tengah jatuh cinta? Andara? Siapa, hero yang berhasil taklukkan hati dia?” Dominic malah menanggapi apa yang Priya lontarkan, meski kebenaranya adalah nol persen.
“Woiiii … balik kejo! Bonus keluar, semua bermalas apa ini?” runtuk Andara sok bossy.
“Daniel Young. Bujang terakhir paling diminati di departmen test.” Priya terkikik melihat ekspresi Andara yang merah.
Dominic langsung menerawang. Daniel Young bisa dibilang salah satu pria yang sering menjadi pembicaraan kaum perempuan. “Betul, ke? Cocoklah kalian berdua. Match.”
Andara cepat meluru pada pintu dropship untuk menghindari pembicaran tak penting itu. Dari mana muncul andaian yang tak masuk di akal itu. Match dari Hongkong? Andara beristiqfar sendiri.
Dirinya sudah menulis kritera idaman, dalam laman hatinya. Meski tiada siapa yang tahu. Karena hal tersebut tidak harus diumbar. Jadi, bagian mana dari perkataan, perbuatan atau sekadar senyumanya yang bisa di kategorikan kalau dia meminati Dayong, atau sebaliknya, pria itu jatuh minat padanya. Jauh sekali panggang dari api. Terpadam oleh angin puyuh selatan.
Andara menepuk dahinya, memikirkan tingkah pria itu. Yang akhir-akhir ini begitu aneh. Sekembalinya dari tertangkap basah liburan ke Phuket, ada sesuatu yang tak beres.
Phuket itu masuk dalam gugusan Laut Andaman. Bukan Samudera Hindia, atau yang di Indonesia popular legenda Nyai Roro Kidul penguasa Laut Selatan. Jadi, mustahil Dayong terserempak dengan Nyai Roro Kidul, hingga menjadi linglung. Andara kembali memukul dahinya, kenapa tambah mengarut, memikirkan pria itu.
“Aku berjumpa Mustafa, dia memintaku menjaga, kamu! Lawakkan?” ujar Dayong tadi.
Mungkin tak banyak yang Mustafa ceritakan, tetapi mengenai keberadaanya di sini, itu bisa menjadi penyebab sikap pria itu berubah sedikit manis. Andara sendiri sedikit banyak mengetahui cerita pahit Dayong.
Apa mungkin, Dayong tahu hubungannya dengan Mustafa, lalu bersimpati padanya?
Seorang perempuan muda di belahan bumi manapun, memandang kharisma seorang pria, tolak ukurnya pasti ayah mereka masing-masing. Ayah, cinta pertama setiap gadis. Bagus Saptono, bukan hanya sekadar refleksi dari namanya yang bermakna tampan. Anak ketujuh dari tujuh bersaudara yang kesemuanya lelaki. Jadi, selama nama belakangnya masih Andara Putri binti Bagus Saptono, maka urusan memandang pria tidak jauh dari saudara mara ayahnya itu.
Perempuan idaman Dayong pasti tidak jauh dari sosok ibunya. Cinta pertama seorang anak lelaki.
Andara pernah mengambarkan Dayong sebagai pribadi dingin, sok kecakepan. Bagian kecakepan itu, memang benar. Wajahnya peranakan perpaduan China dan India. Jadi, ya itu dia menawan sudah pasti. Dingin, karena setahu Andara, bocoran dari A Bei, ayah pria itu meninggalkan ibunya saat Dayong masih berusia tiga tahun.
Setidaknya, Dayong pernah melihat mereka bersama. Hal yang bisa meyakinkan diri, bahwa dia bukan lahir dari batu terbelah, alih-alih memilih menjadi agnostik. Pilihan tidak percaya akan komitmen, bisa jadi karena kelakuan sang ayah. Mengingat usia pria itu lumayan matang, dan masih sendiri.
“Andara, bos sudah setuju, bila kamu dengan Daniel. Pasti anak kalian akan comel.”
Andara yang baru keluar dari dropship dengan membawa tumpukan invoice menghamburkan tawa hambar.
Awal dia datang menjadi bagian ‘Crew Notify Party’, sebenarnya julukan itu adalah akal-akalan saja. Notify Party adalah istilah dalam dunia eksport import. Orang ketiga dari shipper sebagai pengirim semua produk yang dikeluarkan syarikat, sekaligus consingnee sebagai pihak penerima. Baik produk keluar atau masuk pasti melewati notify party baru di agihkan pada para engineer.
Saat itu, Priya membrondong dengan pertanyaan yang bisa dibilang di bawah standar mutu ISO 9001. Entah di mana saat dia diperintahkan training. Satu poinnya, profitabilitas.
Pertanyaan, apakah Andara dulu satu line dengan Dayong? Andara hanya menjawab dengan anggukan. Tapi respon Priya luar biasa, seakan menemukan sebongkah emas. Padahal dilihat dari sisi manapun Dayong tidak mampu mendokrak profit. Hanya kehaluan para perempuan yang meleleh, dan histeris melihat dia bermain basket di seputaran area rekreasi yang berhampiran parkir bus dan kereta para pekerja.
Bagian histeris itu, andai kata Andara tidak menyaksikan langsung diapun tak akan percaya.
Awalnya, dengan percaya diri Andara bersedia menjadi mak comblang, bagi mereka, kalau Priya benar jatuh minat pada Dayong. Priya beragama kristian, jadi rasanya cocok saja. Toh, ada darah India pada diri Dayong. Ternyata, otak perempuan itu memang sedikit longar. Mungkin dua sekrupnya jatuh terlindas forklif saat dia memeriksa shipmen dari FG store. Ternyata dia sudah punya tunangan. Prinsip Priya, bekerja di satu syarikat yang sama dengan pasangan itu bukan stylenya.
“Harus ada pernikahan. To the poin sekali, tiba-tiba ada bayi lucu!” dengus Andara kesal.
“Dara. Relaks-lah. Meski Dayong kena convert bila berjodoh dengan, awak. I setuju,” ujar Dominic makin menjadi.
Priya terpingkal-pingkal memegangi perutnya. Melihat keseriusan Dominic yang ikut larut mengerjai Andara. Kapan lagi membuat Andara blingsatan tak tentu arah dengan muka merona. “Tak cukup convert lah, Bos. Kena upgread sekalianlah, itunya!”
“Balik kejo. Aish …!” bidas Andara hanya mampu menanggapi dengan ringisan.
Menyongsong hidayah. Hidayah itu milik Allah. Barang siapa yang Allah beri hidayah, tidak seorangpun dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang telah Allah sesatkan, tidak ada seorang pun yang mampu memberinya hidayah.
Apakah salah jika dia berharap orang-orang yang dikasihinya mampu merengkuh hidayah, suatu hari kelak? Apa Daniel Young itu termasuk orang yang dia kasihi?