Gundah

1617 Kata
Setelah lagu Perfect rampung, yang kini mengalun adalah lagu yang senantiasa mengaduk-aduk sanubari Andara. Membuatnya menoleh ke kiri dan kanan. Siapakah manusia yang punya selera primitif seperti dirinya? Andara sering memutar ketika mendapat giliran shift malam. Dahulu. Terhanyut dengan lagu ini. Namun, siapa agaknya memutar lagu mellow di sore yang masih terasa bahang? I hear the ticking of the clock I am lying here the rooms pitch dark I wonder where you are tonight No answer on the telephone And the night goes by so very slow Oh ... I hope that it wont end though Alone .... Siapa gerangan yang punya selera sama seperti dirinya? Andara bukan orang yang suka menghambur duit syiling hanya untuk memutar lagu. Semakin sering dia memasukan duit ke dalam box warna hitam itu, lalu membelek koleksinya, bermakna dia sedang tidak baik-baik saja. Satu ringgit, untuk memilih dua lagu. Mubazir memang. Dia lebih memilih Bond atau Kitaro dari telepon bimbitnya. Yah, dirinya memang tidak bisa benar-benar lepas dari kecanduan musik. Meskipun ada yang pernah bilang, bahwa saat seseorang sedang tidak baik-baik saja, jangan sekali-kali menyumpal telinga dengan musik. Jiwa akan semakin kacau balau. Namun, apalah daya, manusia memang lemah, jangankan digoda harta, takhta dan pria. Suara Heart membuat air mata berhamburan. Bukan durjana. Itulah Andara dan sisi melankolisnya. Dia bahkan sering terisak-isak hanya karena rindu yang membelenggu. Kalau apa yang dikatakan Septian betul, soal ayah dan maminya sedia menerima apa jua yang sudah terlanjur terjadi, kenapa sampai setahun kemudian, tepatnya sampai detik ini mereka tidak pernah mencoba menghubungi Andara. Padahal dia tak pernah alpa mengirim kartu ucapan hari raya. Andara merasa terpuruk, ingin mundur saja dari pencarian tak berujung ini. Toh, tak ada gunanya. Ini sudah digariskan, bahwa dia terlahir dengan nasab kacau balau. Bahkan ketika dia menjumpai pria itu, yang menyebabkannya lahir ke dunia ini, sosok itu menjauh seakan dirinya adalah kuman. Berkali-kali dia mensugesti bahwa dirinya bukan kuman. Sejatianya, dia adalah nuthfah; setetes m**i yang mengauli sel telur. Menjadi alaqah; segumpal darah. Kemudian menjadi mudhgah; segumpal daging yang di sana ditiupkan ruh, serta empat perkara yang dituliskan: rezeki, ajal, amal dan celaka atau bahagianya. Nuthfah yang kini lengkap dengan tangan, kaki, juga akal. Haruskah menyerah karena keadaan? Sekali lagi, tanya itu mengemuka. Andai senantiasa bermunajat untuk perjumpaan itu, tetapi terselip jua kegamangan, andai penerimaan sosok itu nantinya, justru melukai egonya. Perempuan yang sempat melahirkannya tetapi tidak siap menjadi madrasatun ula. Sekolah utama, yang pertama bagi anaknya, sehingga melempar jauh tanggung jawab itu dengan semena-mena. "Kalau tak ada kami, mati kamu dirubung semut!" Suara Andriana berdesing seperti peluru. Andara harusnya membuka mata lebih lebar, agar pikirannya jernih. Dia sudah bahagia dalam kehangatan keluarga Bagus Saptono. Maminya yang luar biasa. Celakanya, dia memang pecundang jayus. Galur genetik tidak bisa bohong. Persis! Zura mengangusurkan tisu. Andara menepisnya. Merogoh sapu tangannya sendiri. Isakannya hanya akan jadi tontonan gratis. “Kamu tahu, apa itu go green?” “Ada orang kat belakang, tuh. Air mata ke, ingus ke, hapus!” Andara cepat-cepat mengesat galur basah di pipinya. Dia menoleh pada apa yang ditunjuk oleh Zura. “Hai, Rin. Assalamualaikum, baik, kamu?” Andara merekahkan bibir ketika wajah Kusrini menjengah. Meski masih pucat, tetapi terlihat lebih manusiawi. Di sampingnya gadis yang mengalami insiden terjepit jarum robotik mesin ismeca juga melempar senyum ramah padanya. “Waalaikumussalam. Kage, terima kasih, ya, bingkisannya.” “Iya. Nggak usah gitu banget, Rin. Eh, kamu yang kapan hari itu kena mesin ismeca, ya? Mana, sudah baikan jari kamu, Dek?” Andara mengalihkan pandangannya pada gadis itu. Dia membelek jari mungil itu. Ada bekas seakan sayatan dan keadaan jarinya tidak lurus sebagaimana mestinya. “Hati-hati, ya, kerja di produksi memang resikonya seperti itu. Asal kita fokus, in sya Allah selamat.” “Iya, Kak,” lirih gadis itu. “Aduh, jangan panggil, Kak. Panggil, Mbak saja!” Andara bergegas membereskan mangkuknya, milik Zura sekaligus ketika bel tanda berakhirnya masa rehat berbunyi. Membantu ibu hamil mendapat dua kebaikan, satu dari ibunya yang cerewet, satu lagi dari baby yang banyak maunya. “Terima kasih, Nenek.” “Sama-sama, Opah.” Andara terkekeh geli. Dia menepuk bahu Kusrini sambil lalu menuju singki bekas makan yang berada di ujung kantin. “Dahulu, satu line dengan, Andara?” tanya Zura pada kedua perempuan yang masih bergeming, sepertinya masih menunggu Andara dari mengembalikan mangkuk. Kusrini mengangguk. “Cik Zura mungkin lupa, saya yang dulu hostelnya, persis di atas warden. Yang dipulangkan pihak syarikat. Kage … maksud saya, Mbak Andara yang dapat tugas spot check waktu itu.” Azura sempat mengernyit. Dia meraih pouch miliknya dari atas meja kemudian mengiring kedua perempuan itu. “Nanti saya ingat-ingat. Maklum, ingatan saya sedikit teruk. Kena berbagi nutrisi dengan baby,” sengihnya. “Saya, tak mengurusi pekerja Indonesia, itulah tak ingat kamu.” “Iya.” Kusrini menganguk. “Saya tahu Cik Zura karena sering ke mana-mana berdua dengan, Kage … maksud saya, Mbak Andara.” “Eh, kenapa kamu selalu panggil Dara, ‘Kage’? Rasanya, bukan kamu seorang. Meski sekarang sudah semakin jarang yang panggil dia macam itu. Kenapa agaknya?” Kusrini mendorong pintu besar berwarna merah itu, mempersilahkan Zura keluar lebih dahulu. Andara sudahpun berada di luar sedang memeriksa telepon bimbitnya. “Ayo, jangan lambat!” arah Andara. “Ck. Kejap! Aku tengah interview, pasal, kenapa orang panggil kamu ‘Kage’. Macam Bahasa Jawa kuno?” kekeh Zura memerli. Andara hanya tersenyum dikulum. “Waktu itu, ada serombongan calon pekerja, mungkin berhajat ke Timur Tengah. Agen mereka tak sabaran, jadi memukul mereka para pekerja itu, Entah dengan apa, pemukulnya lumayan panjang. Ada juga yang dipukul dengan jaket. Mbak Andara lihat, ngamuk," ujar Kusrini. “Gaduh, pastinya. Airport?” “Iya di bandara. Nggak sampai gaduh,” ujar Andara lempeng. “Cuma dipisah saja sama, George, agen kita. Mungkin mereka takut liat George yang menyerupai gergasi.” “Jadi, Kage itu apa?” “Hokage.” “Jepun?” Zura justru keheranan bercampur takjub. “Hokage. Artinya bayangan api, gahar, ‘kan? Itu semacam gelar untuk pemimpin kampung atau shinobi terkuat. Itu, dalam cerita Naruto. Kau tak akan paham, Cik Zura. Yang kau tahu, K-Drama dan Bollywood saja.” Andara menyemburkan tawa. “Sudah kalian cepetan masuk, kasihan yang bantu jaga mesin.” “Sekarang kalau rehat, mesin kena pause.” Andara mengangguk maklum, sambil mengawasi langkah Zura yang sudahpun berbelok menuju lorong HRD. Meski itu akan memakan waktu yang lumayan. Dasar curi tulang, batin Andara melepas sahabatnya dengan senyuman. Andara menoleh ketika kedua orang yang mendatanginya hanya unuk mengucapkan terima kasih itu pamit naik ke lantai dua, di mana departemen test berada. Pandangannya langsung terhenti pada d**a Kusrini yang terlihat lebih gelap. “Rini. Kamu baik-baik saja?” “Baik, Kage. Alhamdulillah, baik.” “Itu …. ASInya, masih keluar itu,” tunjuk Andara ragu-ragu. Andara segera menurunkan tangannya, memasukkan dalam kantong jaket. “Kapan-kapan kalau ada waktu, aku antar check up.” Kusrini menunduk, kemudian menggeleng. “Nggak, usah, Kage. Sudah lumayan, kok. Tidak sederas awal datang kemarin.” “Kamu sudah nyapih anakmu, satu bulan lebih. Takut, ada apa-apa. Nggak usah takut ini hanya antara kita. Aku, kamu dan dokternya. Oh, ya, dek, stttt!” putusnya sambil mengerling ke arah gadis yang masih mengekori Kusrini. Dia memberi kode tutup mulut. “Aku doakan kamu sampai akhir kontrak. Dua tahun itu, lama, tapi kalau buat kerja, sebentar saja.” Saat masih di HRD, hal-hal seperti ini beberapa kali Andara lakukan. Asalkan itu bukan hal yang berbahaya, meski sedikit bertentangan dengan peraturan syarikat. Yang penting, bukan hukum kerajaan. Memasuki tahun ke tiga, biasanya medical hanya dengan pengukuran tekanan darah dan cek kehamilan. Pengecekan darah, ronsen ataupun x-ray tidak di berlakukan lagi, karena itu hanya untuk pekerja yang memasuki kontrak tahun pertama dan kedua. Ada suatu ketika seorang pekerja yang mengalami batuk berbulan-bulan. Sedangkan dia sudah memasuki kontrak berjalan, di tahun ke empat. Akhirnya memeriksakan diri secara persendirian di klinik. Hasilnya menjadi rahasia antara pasien dan dokter tersebut, juga Andara tetapi sebagai pribadi, bukan wakil dari HRD atau syarikat. Kalau hasilnya terlalu beresiko, akan ada bantuan untuk mencairkan haknya seperti bonus levy. Pemutusan kerja sepihak, meski itu karena penyakit, atau suatu hal sebelum masa kontrak berjalan akan menghanguskan semua bonus. Akan tetapi, bila ada rekomendasi dokter biasa sedikit membantu. Tidak semua pekerja berani menempuh resiko itu. Ada juga pekerja yang selalu didera selesma. Ternyata memiliki kista discus di lehernya. Akhirnya memilih operasi diam-diam. Meski ada sebagian syarikat yang menanggung. Akan tetepi, tidak dengan Neutech. Syarikat Jepang lebih royal untuk masalah kesehatan. Bekerja di negeri orang pada klaster rendah, memang tidak ada enaknya. Seperti memakai belengu. Andara mengepalkan tangannya memberi semangat pada dua perempuan itu. Terutama pada perempuan yang mengingatkan akan ibunya. Namun, Kusrini lebih baik, karena dia tidak membuang bayinya. Perempuan bertubuh ceking itu mengangguk juga akhirnya. Meraba rasa nyeri itu. Dia tidak ingin memperlihatkan semua. Cukup sudah dia harus menahan tangis bila menelpon ke kampung, menanyakan keadaan anak-anaknya. Semua untuk masa depan mereka. Tidak ada lagi hal bodoh yang akan mengungkungnya. Sendiri bukan bermakna harus tiarap. Biar saja lelaki perayu itu dengan dunianya. “You tengah bagi semangat, siapa? Harimau Malaya belum berlaga lagi.” Andara menoleh. Ada empat orang yang sedang memperhatikan tingkahnya tadi. Mereka tidak tahu cerita dari awal, pasti menganggapnya mengalami kelonggaran sekrup di kepala. Dia mengaruk kerudungnya, sekaligus memasang wajah pilon, bermaksud lari karena shipping dekat saja, sedangkan ke empat orang itu jelas orang-orang departemen test. “Dala, tak rindukan I, ke?” A Bei memasang tampang memelas. Yang membuat Jagesnathan, dan Dayong ikut tersengih. "Rindu yang terlarang ...." Gumam Andara. “Nih, ada adik awak. Pamuji.” “Oke … saya sudah lambat. Saya kena masuk … lepas dapat bonus, tak boleh curi tulang!” pamit Andara. Ketiganya mencebik mendengar respon Andara. Andara malas menanggapi mereka. Apalagi saat wajah Ayu menjengah dia antara kerumunan itu terlihat suram. Meski tadi, perempuan itu sempat memasang wajah seimut mungkin. Tentu saja itu tidak lepas dari pandangan Dayong. Ternyata dua perempuan yang terjerat pada kharisma Mustafa ini masih bersitegang. Persaingan perempuan, dengkusnya kesal. Dia pikir Andara bukan tipe seperti itu. Entahlah. Andara menoleh sekali lagi, ternyata, Pamuji Rahayu yang memutar lagu itu, batinnya tersenyum kecut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN