Meski kesal karena mendapat jawaban mengambang laksana tunggul kayu di tengah padang, Dayong mengekori juga langkah Andara keluar dari ruangan loker itu.
Andara merogoh saku jaketnya, menatap telepon bimbit yang sempat terbiar. Pasti Mr.VP mendengar apa yang tadi dia gaduhkan bersama Dayong. Meski Andara sendiri yang menutup panggilan itu secara sepihak. Jarinya kini lincah berlarian di atas touch screen, sekadar berpamitan dengan mengirim pesan singkat.
Andara menoleh ke belakang ketika berhasil mengirim pesan itu. Dayong masih mengikutinya. Kedua tangannya ada di saku. Memandang dengan tatapan yang, entah lapar karena siang tadi tidak sempat makan, atau lagi-lagi, ‘kita belum selesai’.
Mr. VP [Like Father, like Son]
Seketika dahi Andara berkerut ketika membaca pesan dari Mr. VP. Apa maksud pesan yang baru masuk? Siapa bapak, dan siapa anak?
Dia menghentikan langkah ketika berada pada persimpangan koridor. Ke kiri menuju developing engineer dan surau, lurus ke phase three, lalu ke kanan menuju tangga turun ke kantin II. Ada dua kantin, satu kantin lagi di area depan berhampiran dengan HRD.
Andara [Who?]
Mr.VP [Ingored, Dara]
[Mr. Yong, Alice and family waited you at Kenny Rogers Restorant at 8 PM]
[Dresscode, kembang-kembang]
Andara terkekeh geli, setelah membaca pesan Mr.VP. Bagian kembang-kembang. Yah, kebanyakan baju kurung memang bermotif bunga-bunga, dan pria itu antara orang yang sangat prihatin dengan kostumnya yang monoton warnanya. Warna tanah, atau apapun itu cenderung gelap. Seingatnya, beberapa kali mereka terserempak di koridor.
Andara meski secara personal mengenal David Young, namun sikapnya tidak berlebihan. Dia hanya menunduk sebagai bentuk rasa hormat sekaligus keramahan. Meski bila di luar, bersama Alice, mereka layaknya satu tim debat. Fakta yang selalu diungkit Alice, kenapa Andara tidak pernah memakai baju kurung bermotif bunga-bunga. Atau, yah, jubah bercorak floral, padahal itu juga tengan menjadi tren.
Andara sadar, dirinya tidak pernah memakai baju kurung sekalipun.
Malam Minggu nanti, sebelum Imlek, David Young sekeluarga mengundangnya makan, dan mengharuskan dirinya memakai baju kurung motif bunga, atau apapun, janji ada unsur kembangnya. Permintaan dadakan dari Alice. Dia membelek lencananya, di sana terdapat kalender kerja selama enam bulan.
Semua unek-unek yang sebentar tadi mendera, tiba-tiba berkecai karena tingkah tengil Daniel Young, yang tanpa permisi menarik satu lengan Andara yang masih menekuni telepon bimbit.
"Telepon bimbitku. Hai, please!"
“Yang, kamu sengih-sengih macam kerang busuk, ape?” Dayong menimang telepon bimbit milik Andara. Lock screen bergambar kupu-kupu berwarna biru dengan inisial J’74. “Who is that ? J’74!”
“Menyibuk, je.” Andara menjawab singkat. Menerima telepon miliknya.
‘Daniel Young dan David Young?’
Seketika napasnya menjadi sesak. Jangan-jangan mereka ada hubungan? Tapi, dia tidak pernah melihat gelagat itu. Lagi pula kalau mereka bersaudara atau punya hubungan, gosip itu pasti sudah merebak dari selasar Neutech hingga kantin.
Gosip siapa, dan dari mana Nazirah, istri Encik Muhammad Yusuf, warga British salah seorang pemegang share terbesar sekaligus CEO saja terbongkar. Meski mereka menikah dua tahun pasca Nazirah resign.
Personal asistan, dengan CEO. Yah, seperti roman picisan saja. Oke, Nazirah tujuh tahun lebih tua darinya, bermakna seumuran Septian. Encik Muhammad delapan belas tahun lebih tua dari istrinya. Muhammad Yusuf Alfred Wright. Nama Muhammad itu, setelah diskusi panjang dan talik ulur, soal yang paling prinsip tentunya.
Andara menerawang, seseorang memang tidak akan mampu menolak jodohnya. Teringat saat pertama kali berjumpa dengan sosok ‘Mat Salih’ bermata biru yang wicara bahasa asingnya terdengar gagap. Dia harus benar-benar mengernyit untuk paham. Yah, kemampuan Andara memang tidak mumpuni, tapi setidaknya dia mampu berkomunikasi baik dengan pelangan yang notabene dari USA.
Ketika tahun berganti, Andara baru sadar, hampir tidak percaya saat melihat pria itu naik podium memberi sambutan saat kampanye zero defect, untuk level staf dan executive, sekaligus memberi hadiah bagi para pemenang kampanye.
Termasuk Andara yang saat itu memenangkan lomba poster untuk kategori persendirian. Mendapat piala, pin, sagu hati juga bingkisan. Yang paling melambungkan tentu saja, poster miliknya menjadi salah satu yang dipajang di metting room utama dengan figura keemasan yang menawan.
Pria bermata biru, berbicara gagap, seorang CEO, dan yah, ternyata banyak juga fans garis kerasnya. Nazirah beruntung, dia cantik, pintar dan pandai menjaga diri. Meski tidak mengenal secara pribadi, kerena Andara hanya sesekali duduk satu meja ketika berada di kantin, saat masih menjadi bagian staf junior di HRD.
Satu pelajarannya, apapun yang sudah Andara lalui sampai kini, meski hasilnya memang tak sepadan dengan apa yang sudah dia korbankan, dia harus akur. Andara menepuk dadanya, mencoba ikhlas. Entah apa yang akan Alice sampaikan, semoga sebuah titik untuk maju. Keberadaan ibunya.
Ketika mereka berdua sampai di depan pintu kantin, Andara memberi tanda pada Dayong agar masuk lebih dahulu. Pria itu terkekeh, tanpa banyak mendebat masuk terlebih dahulu sesuai permintaan Andara.
Tinggal sepuluh menit. Semoga saja, masih ada laksa Pineng yang tersisa.
***
"Keri, Mbakyu?" Arman keluar dari dapur, menanyakan mengapa Andara terlambat.
"Iya ... ada halang rintang tadi." Andara tersengih pada Arman. Anak felda. Peneroka hutan, keturunan Jawa yang menjadi chef di kantin. Mungkin karena orang tuanya sering berucap dengan Bahasa Jawa, diapun menyapa dalam bahasa yang mendapat urutan ke dua belas paling banyak dituturkan penduduk bumi ini. Arman pikir, yang hitam manis atau kuning langsat, Jawa. Putih berahang tegas, Batak. Lalu yang putih lancip, bermata sipit Padang atau Palembang. “Laksa, dong!”
Andara melongok, mencari di mana gerangan Priya berada. Namun, dia tidak jua menemui sosok itu. Dari jauh, Zura, si ibu hamil malah melambaikan tangan padanya. Andara melabuhkan diri pada kursi yang berhampiran jendela. Di mana Zura juga sedang menikmati laksa. Tidak banyak yang makan pada rehat sesi ke tiga ini. Dia juga melihat beberapa orang yang hanya duduk-duduk di taman menyeruput kopi dengan muruku, camilan khas India dari tepung berbumbu jintan pekat sebagai temannya.
“Jauh nian, jalan yang kau tempuh?”
“Halah, lagu. Baby, nak laksa!” jawab Zura acuh. “Nih, bawang bombay untuk kamu.”
Salah satu kebiasaan Zura, dia akan melempar apa yang tidak disukai ke dalam piring atau mangkuk Andara. Tak sampai semenit, dia sudah memindahkan bunga lawang juga asam gelugur. Bukannya ikan, atau mentimun. Hampa.
“Aku tak larat, nak telan asam gelugur juga bunga lawang, nih. Ais …!” cibir Andara pura-pura kesal.
Mereka sudah berteman tujuh tahun. Sama-sama fresh graduate. Bedanya, Zura yang memiliki darah Jawa memang lahir dan besar di Malaysia. Tak jarang mereka mengunakan Bahasa Jawa, meski sebenarnya Andara juga tidak begitu fasih. Itu karena dia kuliah di Jogja saja. Rasanya berbeda bila bercakap dengan Zura, apalagi Andara pernah berhari raya di kampung halaman ibu muda itu, di Bagan Datoh
Azura berasal dari Bagan Datoh, sebuah kota kecil di barat daya Ipoh. Masyarakatnya banyak yang berhidup dari berkebun kelapa, namun sebagian sudah menggantinya dengan kelapa sawit karena lebih menjanjikan. Sebagian kecil lagi mencari ikan di sebanjang pantai berhampiran aliran Sungai Tiang dan Burong. Yang menakjubkan adalah saat pertama kali Andara ke sana naik bus dan kondekturnya mengunakan Bahasa Jawa.
Pulai - Gopeng - Air Kuning - Chenderong Balai - Teluk Intan - Bagan Dato. Meski waktu tempuh mengaspal tak selama mudik lebaran di Indonesia. Andara dibuat terpinga-pinga ketika memasuki Teluk Intan, beberapa masyarakat mulai bercakap Jawa.
“Kiri! Mudun-mudun!” Yang artinya, kiri turun-turun. Membuat Andara tergelak sepanjang jalan hingga melupakan kebosanannya.
Andara lebih melongo lagi, sesampainya di Bagan Dato, karena semua masyarakat di sana pun mengunakan Bahasa Jawa. Sesaat setelah salat Ied, seperti kelaziman mereka bersalaman dan saling berkunjung ke rumah sanak kerabat tetangga kiri kanan.
“Ngaturaken sembah pangabekti kawulo. Sepinten kalepatan kula ingkang boten angsal idining sarak, dalem nyuwun pangapunten. Mugi Allah nglebur dosa kulo lan panjenengan ing dinten riyaya puniko.” [ 1]
Nenek moyang mereka berasal dari Tegal, Wates dan Ponorogo, itulah kenapa dalam keseharian maupun pengajian mereka masih mengunakan Bahasa Jawa. Makanan pun gudeg, sayur kacang tolo, sop kikil, rempeyek juga tempe bacem. Masyarakat Bagan Datoh mengunakan Bahasa Melayu pada urusan kantor pemerintahan saja. Andara tiba-tiba saja sebak. Lintasan berhari raya di Bagan Datoh mengulit kenangan berhari raya bersama keluarganya di Cilegon.
“Kenapa, sunyi, je?” bisik Zura khawatir.
“Ingat rumah. Ingat, Mami.”
Zura meremas jari Andara. “Bukan nak usir kamu dari sini, tapi sayang masa terbuang. Percuma, mencari ibu kandung yang memang sedari awal dah buang kamu. Baliklah, Dara. Sampai bila-bilapun, Andara Putri adalah anak keluarga Pak Bagus. Jadi …. ”
Zura memang sedikit banyak tahu keadaanya. Dahulu sebelum menikah, perempuan itu adalah teman yang dia ajak ke sana-sini. Dia juga yang mencarikan rumah sewa, apabila Andara berubah statusnya menjadi kontrak persendirian, atau sejak dia bergabung dengan shipping.
Persendirian bermakna dia bertanggung jawab untuk mengurus tempat tinggal sekaligus visa kerjanya. Terkadang, meminta Zura sekalian untuk memperpanjang. Dia juga berhak memegang paspor, juga permitnya sendiri. Berbeda ketika kontrak syarikat, yang dia pegang hanya permit atau ijin tinggal sementara sebagai pekerja.
Dengan memegang paspor sendiri, Andara lebih leluasa menjelajah dalam mencari jejak ibunya.
Andara menghentikan kunyahan pada mentimun yang harusnya terasa segar ketika terjamah mulut. Namun, laksa Pineng hari ini terasa hambar. “Bila, kamu due? Nak, melahirkan di sini, atau kampung?”
“Lambat, lagi. Aku tahu kamu hindar diri dengan soalan keluarga tadi.”
“Tahun ini, bila tak ada progress yang baik, In sya Allah, aku akan pulang terus ke Indonesia.”
Azura menghentikan suapannya. Dia menjulurkan tangan, mengengam tangan Andara. “Do the best, buat kamu. Aku, dan semua yang kamu kenal kat sini, tumpang bahagia, berdoa sebaik-baiknya keputusan. Cobalah, akur dengan suratan dari Allah. Semua ikhtiar, sudahpun sampai hadnya, Dara.”
“Yes. Nuhun.”
“Nuhun?”
“Terima kasih.”
Zura tergelak keras, kali ini menepuk pipi Andara.
------------
1. Menghaturkan bakti. Seberapapun banyak dosa saya buat, mohon kemaafan. Semoga Allah melebur dosa saya dan kamu di hari raya ini.