Bahasa Kalbu

1551 Kata
Gertak sambal. Semacam, amarah kakak pembina pada adik binaan yang nakal. Sejatinya, itu bisa disejajarkan dengan gertakan kasih sayang. Istilah itu, cocok untuk mengambarkan insiden lot terkendala, bercak darah yang berceceran, dan lain-lainnya. Karena, sejak kejadian itu, Andara tidak lagi berjumpa dengan Dayong. Juga tidak ada panggilan pelik, teguran berarti dari pihak bos. Yeah, warning letter, misalnya. Dahulu, bahkan dalam kurun sebulan, Andara bisa mengantongi dua lembar kertas warna merah itu. Bukan dirinya, tapi orang yang secara hierarki ada di bawahnya, yang mau tidak mau dia harus ikut masuk kandang. Maksudnya ruangan bos besar. Biasanya, sebelum masuk, dia akan menyusun sederet alasan, kekhilafan operator tersebut. Di sampingnya duduk A Bei, berikut oknum pelaku yang khilaf tersebut. A Bei akan berbisik, “Kenapa itu b***k, selalu panggil nama Tuhan bila buat silap?” “Tuhan adalah pemilik hati manusia. Bos adalah salah satu hamba Tuhan ….” Andara akan menjawab bahwa itu suara hati, penyesalan dari kalbu, sebuah doa untuk melunakkan hati bos. Sebenarnya, Andara sudah menyiapkan hal yang sama, sebuah hutang penjelasan yang dia tidak tahu kapan Dayong akan menagihnya. Dia cukup merangkai bahasa kalbu tersebut, bahwa dirinya sedang banyak masalah. Titik. Namun, dua minggu lebih, sosok Dayong tidak muncul. Waktu melompat dengan pantasnya, tahu-tahu sudah pekan pertama bulan Februari. Menjadi merah jambu kah hatinya? Tidak juga. Kecuali, ketika Sang Bos, Dominic mengetuk meja, menyerahkan dua payslip. Satu slip gaji, satu lagi bonus. Meski tidak banyak, kesyukuran harus senantiasa dipanjatkan, apalagi ketika tidak ada hal mendesak yang mengharusakan Andara pergi ke departemen test. Rasanya begitu bebas. Kemerdekaan adalah pilihan setiap pekerja. Sejalan dengan slogan Neutech, 'Employee’s Choice'. “Apahal, nih … Bonus 1,5. Gagal semua, plan.” Andara terkekeh, ketika Priya tampak hilir mudik sambil membelek payslip-nya. Itu dilakukannya berulang kali, seakan tak percaya dengan nominal yang tertera. Terdengar dengkusan keras, sebagai tanda protes. “Sejak awal lagi, aku tahu, kalau bonus memang 1,5.” “Bukan pasal itu, darling. Kereta kena servis, ada satu part kena tukar. Ish, geram betoi!” Andara mesem-mesem. Satu yang tidak pernah Andara otak-atik adalah uang bonus. Meski sedikit, bahkan saat ekonomi lesu, dia pernah menerima 0,75 poin. Lebih cocok dikatakan sagu hati dari pada bonus tahunan. “Mau, ke mana?” “Break-lah. Bonus katoi [1], awak langsung tak dengar suara tanda rehat, ya?” Andara menampar angin persis di depan Priya. “Aku, ke loker lama dulu, ya.” “FT? Serius. Nak jumpa, sape? Lagi lima menitlah. Telingaku masih oke, lagi!” Priya cemberut. Andara tergelak karena berhasil mengerjai Priya. Dia berpamitan, basa-basi dengan penghuni ruangan lainnya, melangkah mendahului Priya. Mereka tahu mesti berjumpa di mana apabila salah satu keluar menuju kantin terlebih dahulu. Loker miliknya masih seperti saat dia tinggalkan dua tahun lalu. Sudah lama juga Andara tidak membersihkan loker itu, yang hanya berisi: dua pasang kaos kaki cadangan, masker untuk menghalau dingin, stoples gula-gula fox, yang entah apakah masih bisa dimakan atau tidak. Juga setumpuk payslip. Meski tidak lagi dia gunakan, lokernya harus senantiasa bersih. Setahun lalu, ketika ada beberapa kasus pencurian, semua pemilik loker dipanggil untuk diperiksa. FOL[2], bagian wire bond, kehilangan bermeter benang emas. Bagian itu sebenarnya punya pengamanan ekstra ketat. Bahkan setiap sudut mesin ada cctv. Enam bulan kemudian terungkap sindikat itu dijalankan banyak pihak. Operator, teknisi sampai engineer terlibat. Lebih gila lagi, operator tersebut berasal dari Indonesia. Lamunan Andara akan peristiwa itu pecah bersamaan dengan hidungnya yang menghidu bau wangi. Meski tidak tahu parfum jenama apa, lebih tepatnya, tidak mengetahui sosok itu memakai apa. Andara tidak pernah memakai wewangian, karena memang tidak dianjurkan perempuan muslim menonjolkan keharuman tubuhnya. Bahkan ada sebuah hadis riwayat Ahmad; Perempuan manapun yang memakai parfum kemudian keluar ke masjid, maka salatnya tidak diterima sehingga dia mandi. Apalagi dirinya yang sekadar bekerja. Deodorant atau rool on adalah pilihannya. Murah, tidak berbau, dan ramah lingkungan. Jadi, wajar Andara tak tahu apa beda, eau de parfum ( EDP), eau de toilette (EDT), lalu eau de cologe (EDC), selain dari fakta, bahwa mereka bertiga semua wangi. Toh, dia bukan penjual minyak wangi. Andara tahu siapa yang sedang berdiri persis di sampingnya. Lebih tepat, samping lokernya. Sebenarnya dari jauh pun saat belum berpapasan dengan sosok itu, bau wangi sudah menyapa terlebih dahulu. Menurut Andara, aroma ini terlalu kuat, bisa membangkitkan, gairah … hidup. Mungkin, itulah kenapa iklan parfum cenderung m***m, seduces. Yah, manalah tidak, seorang perempuan terlihat berhasrat, mengendus bau sampai menerobos kerumunan orang dalam sebuah pesta topeng, lalu masuk ke kamar seorang pria, kemudian, terjadilah apa yang diinginkan. Otak Andara tiba-tiba memuai. Ketika pintu loker siap dia tutup, wajah itu menjengah, dengan senyum mengembang. Bukan bertampang masam seperti biasanya. Karena jarak mereka begitu dekat, dan intim. Entah perasaan apa ini, hal yang sedikit mengetarkan kalbu. Dayong menjulurkan lehernya, mengintip isi loker Andara. Gadis itu melirik sekilas rantai berwarna emas yang menyembul, karena pria itu membuka satu kancing kemejanya. Andara langsung mengucap, taawuz. Mengusir setan jahat yang mungkin menyelinap. Ingat, di ruangan itu hanya menyisakan mereka berdua. Berhentilah berdegub, wahai apa yang ada dalam rongga d**a kiriku! Desisinya lirih. "Tak ada terkejut, hah?" "Lumayan. Baru tahu kalau loker kamu, di sini juga." Andara hampa, pura-pura terkejut. "Mau pulang normal?" Andara mengerutkan dahi, meski akhirnya mengangguk. "Lambat lagi. Nak ke kantin dulu, teringin laksa." Dia ingin bergegas pergi, namun suara merdu untuk pergantian rehat belum berbunyi. Syukurlah, langkahnya terhenti ketika telepon bimbit dalam gengaman ikut bergetar. Mr.VP? "Free, apa hal?" Jawab Andara sekilas, sambil menghamburkan tawa. Dia merasa tak enak hati, karena bukannya pergi, Dayong tetap menatapnya lekat. "...." "Hmm, ini harus? In syaa Allah.” "...." "Hah, pakai itu? Ok. Saya cobalah." "...." "Ish ... mana ada. Tak de. Bukan sapapun. Ignored it." Andara mendelik ketika Dayong malah ikut bersandar di tepi loker. Bibirnya menjuih mengarah pada CCTV. Pria itu hanya tergelak, sebelum berlalu sambal menarik ujung kerudung Andara hingga gadis itu kehilangan fokus pandangannya. Apa-apaan ini, enapa jadi sok dekat begini? "Dara ... Dara!" laung Dayong berbalik. Berdiri antara pintu keluar, matanya meredup. Sejak dia pulang bercuti dari Phuket, kenapa kelakuannya aneh bin ajaib. Sebentar baik sebentar kalap. "Sebentar ... !" ujarnya pada seseorang di talian telepon. “Ya, ada apa?" Telapak tangan Andara langsung mendekap lubang kecil yang dapat membocorkan percakapannya dengan Dayong. Ah, Mr.VP baru saja mengacaukan pikiran. Andara masih mendengar tawa dari seberang talian. Apa yang pria tua itu tertawakan. Bisa-bisanya memakai kewenangan dengan mengamati pergerakan bawahannya lewat CCTV yang berada di sudut ruangan loker. "Kamu, kena marah Mr. Young?" Hah, dari mana cecunguk ini tahu. Jangan-jangan dia punya indra ke enam. Gawat, kalau dia punya telepati seperti Xavier, Professor X dalam X-men. Pikiran Andara mulai ngawur. "Beliau cakap, kita ada hubungan, kah? Mengada-ada saja! Lagian, Dan, ngapain kamu, nempel-nempel?" "Jealous kali, Pak tua itu.” Dayong memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Dia yang tadinya sudah di ambang pintu, malah kembali merapat ke dekat loker. "Seriosly? Kamu di mataku, dan banyak orang, tampak macam gadis baik-baik. A Bei, mati-matian bela kamu. Lalu, yang pakwe kamu di konser Kitaro itu, lantas Mustafa?" “Mustafa? Bilamasa kamu berjumpa, Abang Mus?” “Emm …. Abang Mus, ya.” Dayong jarang bersuara. Tapi sekali bibirnya terbuka isinya komplain, merepet persis emak-emak. Banyak sekali operator dibuatnya menangis kesal. Andara mengencangkan kepalan tangannya persis ke d**a Daniel yang dengan tak tahu malu, malahan merapatkan diri, menjeda jarak. "Jangan seenaknya mengata! Aku ….” "Aku tak cakap, pun! Aku cakap ... yang, aish!" Dayong sedikit terperanjat, teleponnya menyalak minta perhatian. Dahinya tiba-tiba berkerut, pandangan matanya pada Andara semakin menyipit. Wajah yang biasa masam itu kali ini merah padam. Terdengar u*****n dari bibir yang sedikit menyeringai. Sebelum pergi, tawa pria itu menghambur, dari sudut mata yang tidak terlalu sipit itu, Andara melihat kilat yang menyiratkan ejekan, ‘kita belum selesai’. “Semua juga tahu, saya ada di departemen test, karena Mr. Young. Jadi, tak payah buat gosip.” Kenapa Andara harus jatuh sedih dengan sebuah pembelaan? “Dara. Masa kita jumpa kat, LCCT. Oh, sorry, KLIA 2, setelahnya, aku terjumpa Mustafa dan istrinya. Mereka selepas bercuti ke Raja Ampat, dan yah, aku cakap yang berjumpa dengan kamu juga.” Dayong mangut-mangut, memberi laluan seorang yang ingin masuk, yang langsung menuju ke changing room. Lagi-lagi orang tersebut adalah A Cheng, yang tersenyum seperti matahari terbit, sambil menaikkan alisnya. Kenapa bukan Imran, Azlan, Sazali, atau Jagesnatan. Sebanyak itu orang final test yang Andara kenal. “Abang tak cakap apapun, ‘kan?” “Abang, ya? Ehm, Mustafa cakap, tolong jaga Andara. Aku, jaga kamu. Lawak, ‘kan?” “Abaikan saja!” “Kamu panggil, dia, Abang. Oke, banyak kat sini yang kamu panggil, Abang. Tapi, entah, ada satu hal yang kalian sembunyikan. Aku tak payah, nak ungkit apa yang terjadi saat Mustafa resign dari sini.” “Ayahnya tak suka, dia kerja kilang. Macam kamu tak tahu, yang kerja kilang ini tak keren. Orang tuanya pangkat Datuk. Punya syarikat impor suplemen obat harga selangit dan peralatan kesehatan. Bahkan ada launching buat produk sendiri,” luah Andara tergelak memakai istilah itu. Meski dia tahu karena apa Mustafa resign. Bahkan itu juga melibatkan dirinya dan Ayu. “Kes, dadah!” [3] Andara mematikan telepon bimbitnya, memasukkan dalam kantong jaket lalu memainkan reseleting. Dia pikir tak banyak orang tahu akan kes itu. “Karena kamu berteman baik dengan Abang, aku nak bagi tahu. Dia bukan pemakai. Dia, dijebak!” “Hubungan kalian, kamu dan Mustafa?” “Layaknya abang dan adiknya,” tegas Andara. “Jom, pergi kantin. Aku belanja laksa Pineng. Barusan dapat bonus, ‘kan?” "Gratuities?"Andara memutar bola matanya kesal. -------- 1.Tipu-tipu 2.Front of Line (first assambly line ) 3. Narkoba
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN