Kenangan yang Menggantung di Langit

1413 Kata
“Woi, Dara!” Bau wangi seakan parfum tumpah menyeruak. Meski tanpa menoleh, Andara tahu siapa pemilik langkah berdebuk yang berusaha mengikutinya. Menyusuri tangga menuju ground floor. Dia memang tidak berniat makan laksa, atau bihun sup seperti biasa. Jadi, cukup turun, pergi ke koperasi. Ya, koop, membeli roti basah lalu mencucuk kopi instan dari mesin kopi. “Nescafe atau Milo ais?” tawarnya pada pria yang mengekorinya seperti anak ayam. “Aku belanjalah.” Dayong merogoh kantongnya lalu memasukkan beberapa syiling—uang koin, sambil mengamati Andara yang asik dengan ponselnya. “Hot atau cool?” Andara mengangkat pandangannya sekilas, “Hot. Less cream, ya.” Gadis berkerudung warna cokelat tua itu melangkah meninggalkan Dayong menuju koop yang terlihat sepi. Meraih dua bungkus Gardenia rasa krim jagung. Mengangsurkan satu lembar uang lima ringgit, kemudian menerima kembalian ketika Dayong menjengah di depan pintu koop. “Harusnya, awak pilih perisa cokelat.” “Jangan mencela makanan. Tak baik, tau!” ujar Andara menyodorkan satu bungkus Gardenia rasa jagung itu. “Tau, arti brondong manis?” Dayong menggeleng cengo. “Eh, tadi siapa di samping awak? Bisik-bisik tadi. Itu, tentang aku, kan?” “Sudahlah, tak payah pikir. Jaga mata. Orang ingat, awak minat saya." Andara memutar bola matanya sedikit kesal. "Lagi pun, awak ni bujang, freeman, agnostic, jadi buat apa risau? Tak ada yang akan cakap buruk, untuk semua perbuatan tak senonoh ini itu. Except me, bolehlah, tertawa? Heee … love bite konon.” Dayong hanya tergelak, masih mengikuti Andara yang mendorong pintu menuju tama. Akan tetapi mereka berpisah menuju dua tempat berbeda. Gadis itu mencari tempat duduk di ujung taman berhadapan air mancur mini yang di bawahnya ada ikan koi berkejaran. Sedangkan Dayong memilih masuk ke smoking area, yang tembus ke recreation area. Adalah kelaziman bagi mereka, meskipun itu adalah pasangan, memang tidak diperkenankan berdua-duaan di tempat umum, bahkan taman sekalipun. Apalagi Andara dan Dayong yang bukan pasangan. Beda warna kulit, beda agama, beda kewarganegaraan. Yang pasti, bukan saja menimbukan fitnah, tapi juga gosip liar. Di luar semua itu, meski katanya kasta itu tidak ada, namun sejatinya dia tetaplah pendatang. Andara sadar itu. Banyak juga yang tidak ramah. Namun, secara bersamaan, ada pula orang yang terlampau baik padanya. Dahulu, jangan harap seorang Dayong akan membuka percakapan dengannya. Meskipun tahu kalau dia anak buah A Bei yang notabene sahabat baiknya. Dia buat bodoh. Biarpun isi ruangan hanya menyisakan mereka berdua, pantang dia bermanis-manis melakukan sesi tanya jawab. Konon sikap ketus itu disebabkan banyaknya pesan masuk, pada telefon bimbitnya. Kebanyakan adalah perempuan yang kegatelan. Menggelikan memang. Dia pukul rata semua pekerja asal Indonesia. Andara bahkan curiga, sebenarnya, bukan hanya orang Indonesia yang mengirim pesan berbau s****l itu. Bisa jadi berasal dari mana saja, yang jelas miskin pemahaman hubungan pria dan wanita itu ada aturan baku yang jelas. Sekarang, Dayong mulai jinak, sedikit memberi muka padanya ketika tanpa sengaja mereka saling jumpa di Arena of Stars, Resort World Genting Highland. Ya, Andara memang sudah menunggu momen itu. Menonton konser musisi idolanya, Kitaro. Konser dunia bertajuk: Konjiki and The Universe 2017. Bermakna, umur dirinya berbaik-baik dengan Dayong itu persis satu tahun. Yang menggelikan setahun kemudian, Andara bertemu lagi dengan pria itu di bandara. Andara tertawa sambil menghamburkan sedikit remahan roti pada ikan koi. Apakah dia harus berterima kasih pada Kitaro? Ya, mungkin juga. Andara terhibur mendapati raut wajah Dayong yang nampak sedikit polos itu ternganga. Dirinya yang dianggap hanya pekerja migran biasa, berada di konser prestise tersebut. Apalagi, melenggang dengan tiket VVIP. Sedangkan Dayong hanya mengantongi tiket PS3 seharga RM 268. Makan itu sombong, sok cakep dan sok yes, batin Andara waktu itu. Dia tidak sendiri. Sebenarnya, berdua dengan kakaknya yang tentu saja dilihat dari sudut manapun mampu mengintimidasi seorang Dayong. Kecuali, tinggi badannya. Ya, konser itu mempertemukan Andara dengan putra sulung keluarga angkatnya. Septian begitu mengenalinya. Setelah upaya mencari tahu keberadaan sang adik dari Om Jamil, pemilik Pusat Jasa Tenaga Kerja Indonedia_PJTKI dan menemui kegagalan, Septian seperti mendapat ilham untuk mengendus pengembaraan Andara. Septian sendiri yang mengenalkan Andara pada musik klasik. Entah, Kitaro, Richard Clayderman, Yanni, atau Vanessa Mae. Meski mereka berdua tak ada satupun yang mahir mengunakan salah satu alat musik, hanya penikmat sejati. Andara masih ingat, ketika itu dirinya masih kecil. Septian mengajaknya menonton konser Bond. Ya, hanya lewat home theater di rumah mereka, namun Mami melaung garang. “Tidak semestinya kamu mengajak bocah sepuluh tahun, melihat perempuan mengangkang tak senonoh dengan baju kurang bahan!” Andara mendongak, menatap langit yang memutih. Pias, seperti wajah maminya kala itu. Tujuh tahun sudah dia pergi. Dia tahu maminya sedih. Namun, hatinya lebih tercabik dari siapapun. Bukan tanpa tujuan berada di negara jiran. Dia bahkan sering menerima cibiran. Hatinya sudah tawar. “Awak, ni, pandai. Kenapa boleh terpelanting kat sini, jadi minah kilang?” Pertanyaan itu muncul dari Asok, seorang supervisor teknisi. Tentu dengan nada mencemooh. Lalu seorang kawannya masuk, ikut berbicara. “Tak cukup pintar, itulah kena cari makan kat sini! Hai, Dara, awak tuh masa sekolah kenalah rajin belajar. Bukan main cinta-cintaan.” Cinta-cintaan? Batin Andara ingin berontak. Itu adalah hal terakhir yang Andara pikirkan. Begitu mengetahui siapa gerangan dirinya di keluarga Bagus Saptono. Hakikatnya, hanya anak pungut. Meskipun fakta tentang dirinya ditimang tanpa cela. Septian dan Andriana menganggapnya sebagai bungsu tersayang. Namun, rasah sayang itu berkecai, ketika keinginan untuk mencari orang tuanya tiba-tiba muncul, menyelinap menguasai alam pikiran. Andara sudah mempersiapkan semua, sepanjang masa perkuliahan. Mencari tahu asal-usulnya. Di sinilah kini dia berada, negeri jiran. Tempat di mana ruhnya kali pertama ditiupkan. “Dara, kamu tahu itu tak penting. Kamu dibuang, dan sejatinya, orang tuamu adalah Ayah dan Mami kami!” Suara Andriana melengking saat mengetahui niatnya tujuh tahun lalu. Septian, si sulung hanya menghela napas beberapa kali. Sesekali dia berusaha mengelus kepala Andara. Tapi gadis itu terus menghindar. “Ana, cobalah tenang. Jangan main bentak saja. Kamu membuatnya tertekan.” “Mas tahu kelakuan adik kesayanganmu itu? Dia bahkan menolak bersalaman dengan ayah. Sekarang, dia pun tak sudi kamu sentuh, kan?” laung Andriana dengan tatapan mata tajam menusuk. Sakit, tapi tak berdarah. Rasanya, pandangan mata itu terlalu asing, dingin. “Mbak tanya, dapat ajaran sesat dari mana kamu, mengabaikan kami yang menjagamu dari bayi merah, hah? Tanpa Mami, dan Ayah, mati kamu dirubung semut!” “Ana!” “Dengar, Dara! Apa karena beliau sekarang jadi pesakitan, lantas kamu mau lari. Kamu malu punya ayah yang masuk penjara? Jawab pertanyaan, Mbak!” “Dara!” Andara menoleh mendengar ada yang melaungkan namanya. “Di sini rupanya.” “Hai, Priya. Apa hal?” “Dicari, Bos.” Andara mengerling pergelangan tangannya. Pukul 3.10 petang. Tea break sesi pertama hampir selesai. “Rehatlah. Memang ada apa lagi? Bos siapa, Dominic?” “Bos Dayong.” Priya terkekeh. “Woi, dia bukan bos akulah!” Andara teringat ketika tadi Dayong berlama-lama di aula tampak mengakrabkan diri dengan para top level. “Eh, memang Dayong dapat promosi?” “Husttt! Awak ni, macam hidup di ceruk goa. Dia promosi sudah dari dua bulan lampau. SHE.” Andara mengepalkan tangan, lalu meninju telapak tangannya sendiri. “Wah, kedekut betul. Promosi Section Head Engineer, dan dia hanya belanja aku segelas karton Nescafe cucuk seharga 1 ringgit 20 sen!” Priya menepuk bahu Andara sambil menahan tawa. “Wohaa, awak ada apa-apa dengan Abang Daniel? Dia semacam dingin dengan semua jenis perempuan. Tapi, huu … merapat, kat awak.” “Sttt, saya pegang rahasia dia. Big secret. Kena ada kompensasi,” luah Andara. Dia berpikir, mungkin uang Dayong habis untuk menghibur diri. Berlibur ke Phuket, dan menikmati pijatan, ah …. Andara segera menepis pikiran kotor itu. Tak baik bersuudzon. Dia maklum, pria matang tanpa pasangan yang terliat hanya mencurah perhatian pada kerja, dan kerja. Semua teman-temannya sudah beranak pinak. Pria kesepian lebih berbahaya, dari mercun! “Dia masih tunggu awak di pintu, tuh,” ujar Priya menunjuk pintu kaca. Andara melihat sosok Dayong yang memang masih berdiri berhampiran pintu, sedang melakukan panggilan telepon. “Saya tau. Aroma dia tercium dari radius satu kilometer. Entah parfum apa yang dia pakai. Ayo, kita potong jalan masuk smoking area, keluar lewat ruang rekreasi. Oke!” Priya hanya mengedikkan bahu, lalu mengekori Andara yang mengendap, menyusuri taman lalu masuk pada celah sempit berukuran sekitar 50 sentimeter. Namun sayang, ujung gamis Andara tersangkut pada besi bekas pondasi. Priya terkikik, sedangkan Andara memandangi gamisnya yang koyak. Segerombolan rona merah menyerbu wajahnya yang pias. Apalagi beberapa pria yang tadi asik terlena dengan nikotin kini ikut mendekati, tempatnya tersangkut. “Cik adik, ada apa hal?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN