Dua Garis Merah

1449 Kata
Tanpa ba bi bu, Andara meraih tangan Priya segera berlalu dari celah tembok yang telah menghempaskannya pada rasa malu tak terhingga. Maksud hati menghindari Dayong, apalah daya apes yang dia dapat. Sebenarnya, semua sudah selesai. Toh, Andara tak akan membocorkan apa pun jua. Dia akan menyegel mulutnya. Entah kenapa, Dayong asik menguntitnya. Ini sudah dua minggu. Harusnya, segala sukacita, atau hang over liburan telah ditepis ke tepi, kembali pada rutinitas seperti sedia kala. Anehnya, hal mendesak apalagi yang ingin dibicarakan. Adakah  sesuatu yang patut dicurigai? Andara rimas, seakan dikuntit, Along. Iya, tukang tagih pinjaman berbunga. “Dara! Tengok, adik-adik awak, tu!” tunjuk Priya pada serombongan pekerja baru yang keluar dari ruang training. Priya akan  mengatakan itu apabila terserempak pekerja under training. Dia akan menebak dari mana asal mereka. Semakin lama, Priya semakin jeli, dan selalu benar dalam menebak. Andara melempar senyum. Mereka terlihat masih hijau dan polos. Mungkin, akan berubah seronok apabila sudah mengenggam gaji. Selalunya seperti itu. Penampilan, dan gaya hidup yang berubah drastis. Paling menyedihkan ketika mereka mulai larut dalam petualangan cinta  sesaat. “Kage!” laung seseorang yang menyeruak dari koloni kecil itu.  Andara menoleh. Suara itu, memanggil nama timangannya. Nama yang tak manis sama sekali. Terkesan garang.  “Kage, ingat saya lagi, tak?” Dia  memindai penampilan perempuan di depannya yang berusaha mengusir gundah. Tatapannya redup, sedikit salah tingkah, menyapu tingkap kaca yang dari sana pemandangan taman di lantai bawah tersaji. “Mbak, ini yang namanya borang?”  Seorang gadis berperawakan  mungil mengerjap mata berulang kali, menunggu jawaban Andara. Pertanyaan yang membuyarkan alam bawah sadarannya. Sesaat tadi, sempat mengendap seakan ampas kopi pahit dalam mug, yang airnya telah habis disesap. Ingatan akan rumah, peraduan hangat juga senda gurau terselip petuah Mami.  Untuk pertama kalinya, Andara mendapat tugas menjemput calon pekerja. Yang artinya, pulang ke Indonesia. Setahun masa berkhidmat di Neutech. Dia mengamati gadis itu sekilas. Terlihat sangat hijau. “Iya, itu borang,” tunjuknya pada kertas berjumlah tiga lembar yang baru saja di ulurkan oleh George, agen mereka. “Semacam formulir. Isi aja, kalau tak paham, nanti tanya saya.”  “Mbak, kenapa agen itu memanggil kami, ‘b***k’?" luah si gadis. Mulutnya mengkerut, ada nada tersinggung. Namun, tetap meneruskan kegiatan menulis, meski bersuluh lampu yang redup, juga guncangan bus yang terkadang sangat menganggu. “Hmm, ‘b***k’ itu seperti, apa, ya … anak-anak, walaupun tidak semua yang ada di sini adalah anak-anak. Bukan b***k dalam artian orang yang belum merdeka. Bukan!” Senyum Andara merekah, membuat gadis itu terlihat semakin bingung. “Misalnya nanti kamu masuk prodaction line, mereka akan tanya, kamu b***k mana? Indonesia, Melayu, India, Bangladesh, Philipina, atau Kamboja. Nah, seperti itu. Artinya, kamu anak mana?”  Andara membiarkan gadis itu mencerna terlebih dahulu. Memang terdengar kasar. Sebenarnya sudah ada kesepakatan antara ahli Bahasa dan Sastra tentang pelarangan penyebutan kata tersebut. Namun, sudah menjadi adat resam yang susah diubah. Setelah  tidak banyak  lagi yang ditanyakan, gadis itu akhirnya terkulai tidur.  Jam mengantung di atas dashbond bus menunjukan pukul 3.30 pagi. Sekitar satu setengah jam lagi akan sampai ke tujuan. Andara menghela napas, berusaha menahan matanya agar tidak berembun. Dia tak ingin menumpahkan basah. Perempuan di hadapannya, berubah begitu drastis. Kurus, dengan  tulang selangka yang menonjol, juga mata yang cekung. Tatapannya turun pada d**a yang terlihat membusung, disertai kesan basah. “Kusrini, kan?” Perempuan itu mengangguk, mengigit bibir, meremang oleh rasa nyeri.  Dadanya terasa penuh, bengkak pada payudaranya. Berulang kali dia menekan, bahkan sudah memerah sampai habis di toilet. Sudah dua minggu, harusnya air s**u itu sudah kering. Rasa sakit itu mekar, seakan ingin ikut keluar bersama luka hatinya. Semua demi malaikat-malaikatnya di rumah. Untung ada uluran tangan mamaknya. Selalu, hanya beban dan malu yang dia timpakan pada orang tua. Penghabisannya, mengadu nasib ke sini lagi, Bandar Bourganvilla. Julukan untuk kota Ipoh, Negeri bagian Perak. Di beberapa pingiran bandarnya, banyak berseliweran mobil dengan plat nomer Siam, terukir laksana aksara Jawa. Ah, kota yang menggiring Kusrini bertemu jodoh, yang mencintai sarat nafsu bergejolak diawal usia sembilan belas tahun, lima tahun lalu. Dia mengesat bulir air yang jatuh di sudut matanya. Peristiwa yang memaksanya pecah kontrak, hengkang lebih awal. Spot check, dengan sample random yang dilakukan oleh pihak HRD, setiap tiga bulan sekali. Apesnya, test pack itu menyatakan air seninya positif, dengan salam dua garis merah. Menghempaskannya pada palung derita. Sosok yang melakukan test itu, kini berdiri di hadapannya. Meski tidak memaki seperti yang lain, tapi mata Andara kala itu memerah, entah apa yang berkelidan dalam mindanya.  Andara memijat dahinya. Berzina. Hamil di luar nikah. Mungkinkah itu juga dirasakan, perempuan yang dahulu hamil dirinya. Seperti Kusrini yang pucat pasi.  Bagi Andara, menjadi yang termuda di HRD, dengan segudang masalah pelik pekerja migran yang berbeda latar belakang budaya, bangsa dan bahasanya. Benar-benar memusingkan. “Itu hukuman bagimu, berani b******a dengan jantan tak guna. Di sini,  tempat cari duit, bukan cari jantan!” sengit  Siti Zubaidah, warden asrama  bertubuh tambun itu. Suaranya berdesing bagai peluru, tajam mengoyak hati.  “Andara. Bantu b***k malang ini berkemas-kemas!” Siti Zubidah adalah satu dari sekian orang Indonesia yang sudah mendapat MyPR. Terlihat pongah, di mata Rini, tetapi tegas di mata Andara. Yah, kecuali Andara, semua orang memaki Kusrini waktu itu. Sayangnya, makian itu tidak pula menyurutkan langkahnya kembali ke sini, syarikat yang dulu mengusirnya. Andara yang bertugas melakukan spot check, hanya menumpahkan nasihat, sedikit pertanyaan dengan nada kasihan. “Kage, tolong Rini. Aku tak nak mau pulang awal. Bonus akan hangus, dan aku juga akan  dipulangkan dengan tongkang?” “Kamu berniat mengenyahkannya?” bisik Andara. “Seorang pembunuh,” imbuhnya lagi. “Ada yang bilang, setiap hari kamu mabuk sprite bercampur jus nanas. Rin, bayi itu, tak berdosa. Dia, sudahpun bernyawa. Kamu tak ingin jadi pengkapling … neraka, kan? Jadi, lupakan soal gaji dan bonus.”  Rini akhirnya pulang sendirian. Hanya berbekal sisa gaji bulan itu. Bukan dari bandara yang gemerlap, tapi dari pelabuhan Butterworth di Pulau Pineng menuju Belawan, Medan. Sisanya, dia harus meneruskan perjalanan ke Klaten dengan menaiki bus. Ongkos sendiri tentu saja. Ongkos yang diselipkan Andara lebih tepatnya. ‘Paku berkarat’ yang membuat tetanus perutnya, baru menyusul dua bulan kemudian, ketika perutnya sudah membuncit pada usia kehamilan enam bulan. “Kage tahu … aku, juga terjumpa dengan, Ayu. Dua minggu lalu. Di balai kedatangan antara bangsa. Sesaat setelah pesawat kami mendarat.” "Heh?"  Jelas ada riak terkejut dengan penuturan Kusrini. Namun, Andara berusaha menyembunyikannya. Dua minggu yang lalu di LCCT,  Kusrini terjumpa Pamuji Rahayu, di toilet bandara saat dia berusaha memompa ASInya yang terus keluar menderas. Kenapa harus berjumpa dengan Ayu? Ayu adalah sosok yang melaporkan kalau dirinya sering mengonsumsi sprite bercampur nanas.  “Ayu, ‘kan?” “Dunia memang benar cuma selebar daun kelor,” cetus Pamuji Rahayu. “Aku tidak suka kau panggil, Ayu!” “Kusrini melirik ke kiri dan kanan, ketika beberapa orang memperhatikan mereka. “Kamu tahu, Ayu, kelor dapat mengusir setan, lho!” “Kau setannya, Rin!” “Dahulu, kalau aku mau jahat,  bisa saja kujual cerita pada waden asrama. Ataupun, pada Mbak Andara. Kedudukan kita sama. Sama bejatnya, Pamuji Rahayu.” Ayu melayangkan tamparan keras. Sama kerasnya seperti lima tahun lalu. Yang berbeda hanyalah, tidak ada sosok Andara yang menjadi perisai. “Sorry, ya.” Andara meraih pergelangan tangan Kusrini yang bertengger di pipi. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan perempuan bertubuh kurus ringkih itu. Cengkraman pada pergelangan tangan itu menyadarkan Kusrini. “Rin, selamat bekerja, ya. Aku, tinggal dulu, masa rehat dah usai. Jaga diri baik-baik.” “Kage, tidak di HRD lagi?” Andara mengeleng. Dia mengangkat bagde yang tergantung pada dadanya. “Shipping department. Aku duluan. Kapan-kapan kita sambung, ya. Eh, ada nomer ponsel?" Kusrini cepat-cepat merogoh tasnya, mengambil nota lalu siap mencatat. "Sini, nomer Kage? "Kamu ... nggak ada, telepon bimbit?" tanya Andara memastikan lagi. Namun, tanpa menunggu jawaban yang tak perlu itu, dia segera menyalin nomer pada nota yang diberikan Kusrini. "Duluan, ya,” ujarnya sambil melafaz salam. Kusrini menjawab salam Andara lirih. “Kage!” laungnya lagi, ketika Andara baru melangkah beberapa meter. “Ya?” “Maaf.” Andara mengangguk, menerbitkan segaris senyuman. Meski tidak lupa, namun hal yang pahit sebaiknya dibuang saja. Ayu ada di Malaysia, entah bekerja di mana.  Dua minggu yang lalu, Andara juga berada di terminal kedatangan LCCT, bedanya dia berjumpa Dayong, sedang Kusrini berjumpa Ayu. Banyak hal dari mereka yang tak selesai dulu. Entahlah, suratan nasib apa yang sedang ditulis pemilik Arsy di atas sana. Semoga, semua tentang sesuatu yang baik. Dua garis merah bertemu lagi. Akankah ada perbalahan? Andara melangkah mendekati Priya yang saat ini sedang bercakap-cakap dengan, Dayong.  Serius pria itu bicara dengan orang? Selalunya hanya mengakarabkan diri dengan tester. Mau apa lagi, dia? Batin Andara kecut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN