Beberapa orang mampu bertahan dalam suasana yang sama. Problem monoton, bergaul dengan orang yang itu-itu juga. Ada sesetengahnya mampu membaca peluang untuk menyelinap, mencari celah. Meski awalnya, dari sebuah ketidak sengajaan. Jika bertahan pada satu tempat yang sama, satu titik yang hanya bergeser dalam hitungan inchi, lama kelamaan pikiran akan menjadi pincang.
Tak sampai empat bulan pasca pemulangan paksa Kusrini karena pecah kontrak, Andara tidak lagi di HRD. Dia justru berada satu departemen, satu line, satu customer dengan Ayu. Tempat di mana dahulu Kusrini juga bekerja. Keberadaannya tentu saja langsung menyita perhatian.
Banyak kabar miring berembus. Seakan ongokaan sampah yang dikais segerombolan anjing kampung pencari sisa makanan. Kasak-kusuk yang mengatakan Andara terpelanting dari HRD kerena menyembunyikan beberapa kasus. Stempel sebagai orang buangan, melekat padanya. Bukan membungkam semua kabar miring tersebut, gadis itu justru disibukkan dengan bergerilya mencari setitik asa keberadaan ibunya.
Entah di mana, tetapi Andara parnah membacanya. Apakah manuskrip, hadis atau sekadar pemikiran bijak pandai.
‘Carilah bagian Anda dalam diam. Sebab orang diam selalu disegani. Orang yang tidak banyak bicara akan selalu dicintai, sedangkan bencana selalu lahir dari ucapan.’
Diam lebih baik. Mengunci mulut, tetapi terus bergerak.
Semua bermula dari pertemuan tak terduga dengan seseorang di salah satu pusat perbelanjaan. Andara memang sering mengunjungi tempat itu. Hampir setiap Ahad pagi. Setelah kelelahan bersukan atau olahraga di Padang Polo atau Sultan Abdul Aziz Recreation Park. Biasanya, ia akan jalan cepat sebanyak dua putaran. Sekitar 5,2 kilometer. Menikmati sarapan, kemudian pulang. Namun, bila sedang rajin, Andara dapat menambah kilometer berikutnya dengan berjalan santai sejauh 3,4 kilometer, menikmati sarapan sekaligus berburu beberapa bacaan. Di satu sudut Ipoh Parade.
Saat itu, Andara begitu menikmati kesunyian, juga bau khas air cond bercampur tumpukan buku loak. Sebuah sapaan salam menukil kesadarannya. Seorang perempuan paruh baya mendengungkan tentang kemiripannya dengan seseorang. Selalunya, wajah seorang anak perempuan itu cenderung mirip ayahnya. Beruntung, Andara adalah cetakan masa muda sang ibu.
Andara menoleh, ketika perempuan itu kembali bergumam di sampingnya. Bergumam sambil merenungnya, seakan bersua dengan orang yang sudah berabad tak dijumpai. Suasana masih lengang kala itu. Maklumlah, hari masih pagi, lumayan awal 9.00 pagi. Banyak kedai yang belum buka. Berbeda halnya dengan Novel Hunt. Kedai buku dan majalah bekas itu buka lebih awal. Semakin awal datang, apa yang dicari mungkin belum ada yang meminjam. Dia juga bisa membaca lebih leluasa.
“Saya, Kak?”
“Iya, kamu! Mirip bak pinang dibelah dua dengan kawan lama. Ck, payah panggil, Akak. Sudah tua berkedut ini. Panggil, Makcik!”
“Iya, saya,” ujar gadis itu sopan.
Andara tersenyum kikuk. Adalah satu kebiasaan masyarakat di sini, meski berumur, pantang dipanggil Makcik atau Pakcik. Mungkin sama tak manisnya seperti panggilan Tante dan Om, yang terdengar tua, sekaligus suram.
Awal datang dahulu di HRD, dia terbiasa memanggil seseorang dengan awalan Pak atau Ibu dan mereka hanya tersenyum. Orang Melayu lebih selesa dengan panggilan Abang atau Akak. Sedangkan orang India dan China lebih senang memanggil nama saja tanpa embel-embel kekerabatan. Akan tetapi, berbeda halnya kepada orang dengan jabatan tinggi. Mereka menyematkan Mr, Encik, Cik Puan agar lebih patut, tidak menimbulkan kecoh. Memanggil mereka dengan sebutan tersebut lebih bermartabat.
“Kamu, Indonesiakan? Makcik rasa, kamu mirip kawan lamaku. Hartanti. Harusnya, Tanti itu, setua diriku?”
“Iya, Makcik … emmm … Hartanti yang dari Klaten?”
“Kalau asal dia dari mana, lupalah. Dia hanya cakap, senang kalau mau berkelah ke Candi Borobudur atau Prambanan. Nak pergi Jogja, juga senang. Pasalnya, dekat dengan kampung dia.”
Andara langsung merogoh tas selempang, mengambil sekeping foto dari dompet. Foto yang senantiasa dia jadikan penyemangat. Satu masa, di mana dia akan berjumpa ibunya.
“Makcik …?”
“Zarina bt Md Nordin.”
“Andara Putri,” sahutnya sambil mencium tangan itu, lalu menyodorkan sekeping foto. “Ini, saya ada gambar beliau.” Andara mengangsurkan foto berwarna yang terlihat sudah kusam itu. “Benar, yang ini?”
Zarina membetulkan letak kaca matanya. Dia mengamati foto dengan watar mark: September 1996. “Nah, betulkan tebakan aku. Makcik berbagi katil, dan tilam dengan dia hampir tiga tahun,” ujarnya sambil terkekeh. “Kamu, anaknya Hartanti. Sudah besar panjang, ye.” Zarina menepuk bahu Andara dengan mesra. “Macam mana agaknya kabarnya?”
Andara terkedu. Akankah pupus harapan dia untuk mengetahui di mana gerangan ibunya berada?
“Justru itu, Makcik. Keluarga, tak dapat mengesan keberadaan ibu, sejak 1998.” Andara menghela napas. Tak ingin meluahkan kegundahan pada sosok yang baru dikenalnya. “Saya memang anak Hartanti. Namun, seumur hidup belum ada rejeki berjumpa dengan Ibu.”
Zarina tampak terkejut, menepuk bahu Andara pelan. “Kamu nak ambil buku? Beli, pinjam atau nak baca saja?”
“Ingatkan nak baca. Kalau ada yang bagus, beli juga boleh.” Andara memperlihatkan sebuah novel Pulang karya Abdul Rahim Awang dan sebuah novel terjemahan bertajuk Voss yang memenangkan Nobel Kesusastraan 1973, milik Patrick White.
Setelah melakukan pembayaran dua novel lawas itu, mereka menuju puja sera. Keadaan tentu saja masih sama, terlihat lengang. Hilir mudik hanya didominasi beberapa pemilik kedai makan yang memasukkan belanjaan, juga layanan kebersihan yang membersihkan lantai tempat itu.
Mereka duduk berhadap-hadapan di depan kedai makan India Mamak. Sejenak kebisuan itu membekap mereka berdua di depan kedai makan India Muslim tersebut. Zarina memesan teh tarik dengan roti canai isi pisang. Andara sendiri lebih memilih air mineral, juga roti canai kosong.
Zarina kemudian asik dengan telepon bimbit, sedangkan Andara membelek novel yang barusan dia beli. Niat awalnya hanya membaca, namun pertemuan dengan Zarina yang ternyata mengenali ibunya membuat keputusannya berubah. Lima belas ringgit untuk dua novel bekas yang masih terlihat bagus. Entah dengan isinya?
Andara tidak begitu mengetahuai kesusastraan Malaysia dan dunia. Biasanya dia membeli sebuah buku berdasarkan ulasan goodreads. Meskipun, itu sangat tidak bisa mewakili. Sudut pandang seseorang berbeda dalam menilai sebuah karya sastra. Ada yang menganggap novel metropop itu picisan, tak sedikit yang menganggapnya sebagai release tension. Ada yang merasa bangga membaca karya sastra berat seperti milik Pramoedia Ananta Toer. Berpulang kepada selera sebenarnya.
Andara sempat membaca rambang pada halaman awal, ternyata lumayan memikat, mungkin karena ada catatan; penulis novel konspirasi. Dia telah membaca tiga novel penulis tersebut. Novel terjemahan itu, tentu karena tertulis memenangi Nobel Kesusastraan, membuatnya ingin tahu, seperti apa isi novelnya.
“Makcik coba hubungi beberapa orang yang mungkin boleh tolong kamu.” Zarina berucap dengan sesekali memandangi layar telepon bimbitnya. “Mungkin dia tengah pergi, church?”
“Siapa, Makcik?”
“Alice. Dia dahulu supervisor kami. Tapi, resign karena ada panggilan kerja kerajaan. Peguam Negara. Agaknya, Hartanti dulu penah minta tolong kat dia. Tapi, entah, aku pun tak seberapa paham kes 3 apa itu.” Zarina coba sembunyikan sesuatu. Biarlah gadis di hadapannya ini tahu dari mulut Alice.
Andara mengangguk. Dia menunggu Zarina meneruskan cerita tentang ibunya.
“Kamu suka novel-novel ARA. Abdul Rahim Awang?”
Andara mengangguk. “Ceritanya lumayan bagus, sarat pesan moral.”
Alasannya bukan hanya itu. Andara ingat saat secara tak sengaja menemukan novel berjudul Legasi, Boneka dan Orang Ketiga dari perpustakaan asrama Neutech. Buku yang terakhir itu, bukan cerita pelakor yang dramatis, nan lebai, seperti saat ini, justru terkesan misterius dengan alur maju mundur.
Apa yang dialami tokoh utama, mantan istri, juga si orang ketiga. Semua pernah mengalami saat-saat dihujani cinta untuk kemudian mendapat tuba, ketika si pria akan berpaling pada kemolekan wajah yang lain. Bumbu permainan tebak judul film dan juga intrik pembunuhan seorang istri pada suaminya yang selalu melakukan kekerasan sekaual saat berhubungan intim. Cerita itu memukau. Mengingat umur novel itu hampir seumuran dengannya. Terbit sekitar tahun 1991.
Yang mengejutkan Andara tentu saja, sebuah catatan di halaman akhir. Bukan catatan si penulis, tapi seseorang.
‘Tiga ikang abener launnya ring loka, iwirnya, ikang iwah, ikang udwad, ikang janmasri, ye ketelu, wilud gatinya yadin pweka nang istri hana setya budhinya, dadi ikang tunjung tumuwuh ring cila’ 1
Andara tidak tahu apa arti tulisan aneh itu sampai dia mengintip mesin pencarian. Yah, sunguh mencengangkan bahwa seorang perempuan direndahkan sedemikian rupa.
Apakah itu isi hati ibunya?
Yang menjadi fokus berikutnya, lakaran setelah tulisan itu. Gambar kupu-kupu berwana biru, sepertinya digambar dengan bolpoin dengan tinta biru. Inisialnya J’74. Andara yakin itu milik ibunya. Karena dalam foto yang dia simpan, juga ada gambar kupu-kupu berwarna biru dengan tulisan J’74.
“Makcik, kena panggil kamu, apa? Andara atau Dara?”
“Mana yang selesa, Makcik. Dara atau Andara sama saja.”
“Begini, Dara,” ucap Zarina menghela napas sesaat. “Meski rasanya tak elok, mungkin juga akan membuka pekung di d**a. Tentang kamu anak Hartanti, betul?” Andara mengangguk, sedikit ragu. “Maaf sebelumnya, karena dengan kami di sini, Hartanti mengaku bujang. Emm, bila kamu lahir?”
“Tahun 1990.”
“Dia pernah cakap, sekitar tahun 1990 memang sudah pernah kerja kat sini. Rasanya, di Selangor. Tahun 1994. Nah, itu yang Makcik cakap, kami mulai kenal di sini. Kerja di Ipoh,” ucap Zarina sambil sesekali menepuk tangan Andara. “Kamu berkhidmat di kilang mana?”
“Dekat sini, Makcik. Neutech.”
Zarina sedikit terperanjat. “Subhanallah, bumi kecil saja, ye. Makcik pun sama, kerja Neutech. Quality control. Tepatnya bagian final test. Kamu, bagian apa? Tak pernah nampak. Tapi memang bukan tempat kecil macam puluhan tahun silam tempat kerja kita, ni. Phase one, phase two atau phase three? Makcik yakin, kamu bukan b***k test, ‘kan?”
“Saya, HRD.”
Zarina menganguk lagi. “Patut tak pernah ternampak muka kamu, kerja office. Kalaupun makan, lebih dekat ke kantin depan. Kantin I, ya?”
Dua minggu setelah pertemuan itu, Andara bertemu Alice. Atas sedikit kuasa suaminya yang seorang Vice President di final test, Andara mengajukan mutasi.
Meski sekilas nampak sama, tentu saja, ritme kerja di HRD berbeda dengan departemen test. Meskipun sama-sama mengutip data, solving problem. HRD hanya mengelola SDM, pekerja dan aktifitasnya, serta perekrutan. Sedangkan departemen baru, Andara dihadapakan benda mati yang terkadang dia tak tahu kenapa ada yang masuk binner satu, ada yang masuk binner tiga lalu sisanya masuk dalam sekumpulan reject.
Antara unit pass, maupun yang memiliki riwayat electrical reject yang tidak dapat dikesan langsung secara visual. Bila ada satu saja yang tercampur, dan sampai ke tangan pelangan, tamat riwayat. Langsung masuk daftar hitam.
Awal mutasi, Andara menerima banyak sekali masalah yang terkesan ditimpakan padanya. Entah keran kecemburuan atau apa. Untungnya, Ayu berbaik hati menunjukkan banyak hal. Konon sebagai permintaan maaf. Saat dia menampar Kusrini, namun tamparan itu justru mengenai dirinya. Seiring berjalannya waktu, ada satu hal yang Andara tahu tentang Ayu. Tidak ada hubungannya dengan kerja. Sebuah perbuatan jahat, yang dia simpan sampai hari ini.
Kini setelah empat tahun berlalu, nama Ayu kembali menyeruak. Kusrini mengatakan, dia terjumpa sosok itu di LCCT. Mereka berdua bertanya-tanya dalam hati, di kilang mana agaknya Ayu melabuhkan khidmatnya.
Hari ini, ketika dengan tergopoh-gopoh, Andara masuk bersama kotak pizza berukuran 40x40 cm, terpaksa menginjakkan kaki ke departemen test. Sebab pelangan yang cerewet, menginginkan penanganan khusus. Gadis yang beberapa kali memijiat pangkal hidungnya itu membatin, bahwa ada yag tak beres. Rasa panas di pangkal hidung itu datang bersama dengan apa yang dilihatnya dari jauh.
Di sana, dia melihat sosok itu. Pamuji Rahayu. Bukan pakaian putih polos layaknya operator. Andara sampai mengosok matanya berkali-kali. Mungkin saatnya dia memakai kaca mata. Namun, itu memang benar dia orangnya. Memakai uniform layaknya astronot, kerah bajunya berwarna biru. Yang artinya, dia seorang engineer.
Welcome back, Pamuji Rahayu!
-------
1.Tiga yang tidak benar jalannya di bumi yaitu sungai, tanaman melata, dan wanita. Ketiganya berjalan berbelit-belit. Jika ada wanita yang lurus budinya akan ada bunga tanjung tumbuh di batu. Di nukil dari Kitab Slokantara.