siapa Elin monica?

1071 Kata
waktu terus berjalan... sudah seminggu Elin di rawat di rumah sakit yang sama dengan Bian. Arka pun sudah menjenguk Bian. kini Arka tau, kalau cinta Bian dan Alin tak dapat restu dari ayah. johan widjaya ayah Arka dan Alin. sudah seminggu Elin di rawat di rumah sakit. tapi... tidak ada tanda tanda yang mencari keberadaannya. itu membuat Arka semakin menjadi penasaran. bagaimana tidak penasaran, kalau ada gadis yang di rawat di rumah sakit. tapi tidak ada satu pun Keluarga Elin yang jenguk. Elin masih diam dengan pandangan mata nya mengarah ke jendela kamar perawatan. ia tidak tahu... kalau Arka sudah berada tepat di samping ranjang, di mana Elin berbaring sambil melamun... " ekhemmm... " Arka berdehem untuk membuat Elin menyadari keberadaan nya. Elin pun sontak menengok ke arah deheman tersebut. membuat Elin tersenyum malu malu... lalu, Elin menunduk dan memasang wajah sendunya. " Elin... gimana keadaan kamu? " tanya Arka basa basi untuk mengurai kecanggungan di antara mereka berdua. " Alhamdulillah kak, Elin udah mendingan... cuma tinggal pusing saja kepalanya. " jawab Elin " eh... kakak kok tau nama Elin? " Elin pun bertanya kepada Arka. " kakak di kasih tau sama dokter yang menangani kamu waktu abis kecelakaan itu... dokter melihat kartu kemahasiswaan kamu... makanya kakak tau? " ucap Arka dengan senyum ringan nya. lalu menarik kursi buat ia duduk di samping Elin. " boleh kakak tanya ngga El? " " boleh dong... emang kakak mau tanya apa? " jawab Elin sambil memicingkan matanya. " kamu hidup di kota besar ini sendirian...? apa ngga ada anggota keluarga yang bisa di hubungi...? " mendengar petanyaan Arka, Elin kembali mengingat masa masa sulit nya. di mana ia harus jadi pembantu di rumah orang tua angkat nya dulu... mata Elin berkaca kaca, beberapa detik kemudian. bulir air mata itu pun jatuh di kedua pipi Elin. " maaf El..., kalau pertanyaan kakak membuat Elin sedih... " Arka merasa bersalah telah membuat Elin sedih. Elin hanya menggelengkan kepalanya, ia pun tersenyum ramah sambil menyeka air mata yang tadi mengalir. " ngga apa apa kak, El mempunyai keluarga angkat yang entah mengapa. sepertinya mereka tidak suka dengan kehadiran Elin di rumah mereka... " Elin pun sedikit membuka hati untuk bercerita dengan Arka. entah mengapa... ada perasaan nyaman untuk mengutarakan isi hatinya yang selama ini ia pendam. " kasian kamu El, di saat kamu butuh keluarga... yang mampu membuat kamu hangat dan semangat. kamu malah seolah olah terbuang... " ucap Arka dalam hati. " terus... kamu selama ini tinggal sendiri...? " Arka pun kembali bertanya. Elin hanya menjawab dengan anggukan saja. ia tidak ingin kalau Arka mengasihani nya. " makasih ya kak... kalau ngga ada kakak. entah apa yang akan terjadi dengan ku... " " udah sewajar nya, manusia itu harus saling tolong menolong. kamu baru kuliah? " " iya kak, Elin kuliah sambil kerja. Elin ingin menuntut ilmu setinggi mungkin. karena Elin bukan dari kalangan yang mampu. maka Elin, harus bekerja keras untuk kelanjutan hidup Elin di tengah kota besar seperti ini... " ucap Elin menjelaskan sambil menunduk... " kamu anak yang kuat El, kamu yang sabar yah...kamu pasti bisa melewati semua ujian yang alloh berikan untuk mu... semangat... " Arka pun memberikan nasehat dan menguat kan Elin. " maaf El, kakak harus ke kantor. kakak tinggal dulu yah... nanti sore kakak balik lagi kemari... kalau ada apa apa, kamu bisa hubungi kakak di nomer ini..." ucap Arka sambil melihat jam tangan yang melingkar di lengan kiri nya. lalu memberikan kartu nama nya untuk Elin. " iya kak, kakak hati hati di jalan yah?" jawab Elin sambil menerima kartu yang di berikan Arka. Arka tersenyum dan mengangguk, ia pun berlalu meninggalkan Elin sendirian di kamar perawatan nya. Elin melambaikan tangan nya untuk Arka. sesaat Arka sudah berada di ambang pintu. Arka pun membalas lambian tangan Elin. ****** berbeda dengan Elin yang masih harus di rawat. Abian kini sudah kembali beraktifitas seperti biasanya. kini ia sudah kuliah sambil bekerja. sampai sekarang... Bian tidak tahu kalau Alin sudah tiada di dunia ini. Alin sudah pergi untuk selama lamanya. Bian hanya berpikir kalau Alin sedang melanjutkan kuliah ke luar negeri bersama kakak nya. karena, baik Arif ataupun papa Bian sekalipun belum mau memberi taukan kepada Bian. bahkan Arka pun tidak di perbolahkan untuk memberi tahukan tentang kenyataan nya. pak yanto hanya berpesan ' biarlah waktu yang memberi taukan kenyataan nya... ' demikian lah ucapan pak yanto yang kini di yakini teman teman Bian dan Arka. akan waktu yang menjawab nya... " hey... Bi, kamu mau kemana? " tanya Arif yang melihat Bian melangkah keluar kampus. " gue mau nyari kerja di depan kafe itu, sepertinya sedang butuh banyak karyawan... " jawab Bian menjelaskan. " oh... gue ikutan ah... sapa taukan bisa bareng loe kerjanya... " Arif pun berucap sambil menaik turunkan kedua alisnya. Bian hanya geleng geleng kepala saja sambil tersenyum. kala melihat tingkah Arif yang tidak berubah sama sekali. Arif masih sama seperti dulu, yang ingin selalu bersama Bian. dimana ada Bian, di situ udah pasti ada Arif. " eh... Bi, kayak nya gue kenal dengan cewek yang ada di antrian paling depan itu... " ucap Arif, sambil dagunya mengarah ke sosok gadis yang tinggi semampai dengan tubuh ramping nya itu sedang mengantri untuk wawancara. " emang loe kenal di mana rif...? kok gue ngga tau... ?" " gue baru inget, dia itu ponakan nya pak dadang kang kopi langganan kita itu loh...?" Arif pun memberi taukan nya dengan binar bahagia. kala melihat gadis yang ia suka itu. yah... dia riri ponakan pak dadang pedagang kopi. " oh... terus gue harus bilang WOW gitu..." canda Bian. " seperti nya loe mulai suka yah sama itu cewek..." Bian pun menggoda Arif yang di goda cuma bisa cengar cengir sambil menggaruk tengkuk nya yang tak gatal. Arif jadi salah tingkah mendengar penuturan Bian. yang bener banget seratus persen. " hehe... sejak petama kali ketemu waktu itu, gue jadi kepikiran terus sama riri tau Bi. apa mungkin ini yang di sebut cinta pada pandangan pertama... " Arif pun menjelaskan pertama kali ia merasa jatuh cinta dengan pandangan pertamanya. " pandangan pertama gundul mu, sok puitis loe. kalau emang merasa ia bisa buat loe nyaman. kejarlah dia, tapi sebalik nya. kalau sepertinya loe tidak nyaman, maka loe harus merelakan dia untuk pergi... " Bian pun memberikan sedikit masukan. entah mengapa, Bian merasa riri tidak menyukai Arif. hanya saja riri menutupi nya dengan sikap ramah nya. Bian tidak tau pasti apa tujuan riri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN