"Malam, Umi, Dek Kifa ...." sapaku ramah dengan tangan masih saling berpegangan. "Malam, Nduk." "Malam, Mbak cantik." Aku tersenyum mendengar jawaban mereka. Kemudian mengeser satu kursi untuk duduk. Azmi juga mengeser satu kursi untuknya tepat disebelahku. Aku langsung membalikan piring, kemudian mengambilkan Azmi satu centong nasi. "Makan yang banyak, Mas. Biar kuat!" ujarku dengan menatapnya nakal. Umi dan Dek Kifa hanya mesem. Aku ikut mesem seolah-olah malu karena ketahuan genit pada suami. "Ngga papa, wajar hal begitu!" Umi akhirnya menyeletuk saat aku salah tingkah. Entah apa expresi Azmi. "Maaf, Umi." aku menutup mulut. "Benar yang dikatakan Mbak Intan. Banyak makannya, biar tubuhnya berisi juga jangan kerempeng begitu. Ngga sedap di pandang istri!" celetuk Dek Kifa. Aku

