bc

Tamat Sekolah Langsung Nikah

book_age18+
1.6K
IKUTI
7.2K
BACA
comedy
twisted
sweet
humorous
like
intro-logo
Uraian

Peringatan! Mengandung Unsur Astagfirullahallazim. Disarankan ke toilet dulu sebelum baca.

"Tuhan, kenapa sih nyari kerjaan susah banget? Kalau kaya gini caranya mending nikah muda aja sekalian!"

Berawal dari doa yang diucapkan secara asal, kehidupan baru Mia pun dimulai.

Hanya dalam hitungan detik gadis itu menuai hasilnya. Matanya seketika membola saat melihat sandal swallow warna hijau mencolok tergeletak di depan pintu rumahnya.

Gadis itu masuk! Dan mendapati calon suami sedang duduk bersama kedua orang tuanya.

Bagaimanakah kehidupan Mia selanjutnya? Apakah ia harus menerima lamaran pria bersandal swallow hijau tersebut? Sedangkan baju SMA saja baru resmi ditanggalkan beberapa Minggu lalu.

chap-preview
Pratinjau gratis
PROLOG (Jangan Sembarangan Berdoa)
Garut, 2020 Jangan sembarangan berdoa, dikabulkan baru tahu rasa! Inilah yang mungkin akan segera terjadi di kehidupan gadis yang akrab dipanggil Mia beberapa detik lagi. Dengan menenteng sepucuk surat lamaran kerja di tangan kirinya, gadis bernama lengkap Miafa itu menyeret langkah kaki malas menuju ambang pintu rumah. Seharian luntang-lantung melamar pekerjaan membuat tubuhnya letih. Jiwanya berduka setengah menyerah lantaran hampir semua tempat menolak surat lamaran kerja yang diajukan oleh Mia. Adapun yang mau menerima, paling-paling hanya ditimbun tanpa dihubungi kembali seperti cerita sedih yang sudah-sudah. Mia benar-benar merasakan betapa susahnya berjuang mendapat pekerjaan di tengah maraknya wabah korona yang mulai merajalela ke seluruh penjuru dunia. Padahal ia ingin menjadi anak berguna. Membantu pemasukan keluarga karena usaha warung mi ayam ayahnya nyaris gulung tikar. Penagih hutang yang setiap hari datang meminta setoran cicilan ke rumah membuat Mia tidak kuat jika hanya sekedar berdiam diri. Tak jarang mereka memaki atau meminta barang berharga apa pun yang ada di rumah. Virus Korona datang membawa banyak malapetaka dunia. Ibarat kata, hidup kita tinggal memasrahkan diri pada dua pilihan. Antara mati kelaparan atau mati kena korona. "Capek nyari kerjaan, pengin langsung nikah saja ya Allah! Kalau ada cowok baik soleh, punya motor, punya rumah aku mau. Wk. Wk." Mia bergumam dalam balutan tawanya. Langkah kaki itu terhenti saat melihat sepasang sandal swallow baru berwarna putih hijau yang tampak asing di mata. "Ada tamu rupanya," gumam anak itu lagi. Mia lantas menyembulkan kepalanya ke dalam. "Assalamualaikum," sapanya. "Waallaikumsalam," jawab semuanya kompak menoleh ke ambang pintu. "Sini masuk Teh, ada tamu yang mau ketemu kamu," ucap ibu seraya tersenyum. Pandangan gadis itu melirik ke arah pria kampung berparas oppa-oppa Korea yang tengah duduk mengenakan setelan kemeja baru berwarna biru. Seolah kemeja tersebut dibeli khusus untuk dipakai menemui dirinya. Pria itu terus memandang dengan tatapan tidak biasa seperti orang yang dipenuhi hasrat itu. Membuat Mia risi dan ingin segera masuk ke kamar saja. Namun, rasa rikuh yang melanda jiwa membuat ia terpaksa duduk di samping kedua orang tuanya. "Kenalan Teh, ini Nak Bima, dia datang ke sini dengan niat mulia. Katanya ingin menjalin hubungan serius dengan Teh Mia." Mia refleks menoleh ke arah bapak yang sedang bicara. "Hubungan serius naon, Pak? Iye teh, ayao naon?" "Nak Bima datang ke sini mau meminta izin untuk melamar kamu Mia! Katanya dia sudah sering memperhatikan kamu setiap berangkat sekolah melewati peternakan kampung sebelah—tempat kerjanya. Dan dia tertarik ingin menjalin hubungan serius sama kamu," sambung ibu menerangkan. Sontak Mia membola tak percaya. "Lamar apa ini, Bu? Nikah maksudnya?" "Iya, Nikah, jadi suaminya Nak Bima," jawab ibu lebih jelas. Kini wajahnya memancarkan rona merah dari hasil menahan marah. Mia tidak menyangka gumaman asal di depan pintu tadi berhasil menjadi doa yang langsung dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Nggak begini konsepnya ya, Allah. Kenapa langsungan? Tahu begini jadinya, lebih baik ia langsung masuk ke kamar saja. "Ibu apa-apaan, sih? Mia baru lulus sekolah. Yang Mia harus pikirin itu ngelamar kerja, bukan menikah!" Sepasang mata polos Mia nyaris menumpahkan cairan bening dari sang peraduan andai tidak ditahan-tahan. "Eleuh, belum juga dijelasin sudah marah-marah ini anak! Salaman dulu atuh sama Nak Bima. Kenalan!" ujar bapak menyergah. Tangan pria paruh baya itu menarik lengan Mia supaya terulur ke arah Bima. "Maklum nyah, anak perawan bapak galak. Sensitip!" Tersenyum santai, pria itu lekas menyambut uluran tangan setengah terpaksa dari gadis pujaannya, Mia. "Perkenalkan Neng, nama saya Bima. Karena saya asli orang Solo, saya tidak suka dipanggil Aa. Sebaiknya panggil mas Bima saja," ujar pria itu sok mengakrabi. "Kalau boleh, izinkan mas Bima kenal lebih dekat dulu dengan neng Mia. Tidak ada unsur jodoh-jodohan atau terpaksa menikah! Semisal neng Mia tidak suka tidak papa. Artinya kita bukan jodoh yang tertulis di Lauhul Mahfudz," ucapnya begitu lugas. Deg. Jantung Mia berdentam tanpa alasan. Ucapan pria itu ternyata tak seaneh pandangan mesumnya. "Dengar 'kan, Teh? Coba saling kenalan dulu. Siapa tahu cocok," timpal ibu mengompori. Mia terdiam kaku, ia benar-benar kesal pada kedua orang tuanya saat ini, tapi tak dipungkiri ia menyukai gaya bicara Bima yang santun dan selalu santai. Duh, bagaimana ini, masa tamat sekolah langsung nikah? Mia tertegun membayangkan nasibnya. Di saat teman-temannya meneruskan kuliah dan bekerja, ia malah dipaksa menikah oleh kedua orang tuanya. Aku tidak mau hidupku hanya di sumur, di dapur, dan di kasur. Pokoknya aku harus cari kerja, kalau perlu yang jauh sekalian biar Ayah dan Ibu gak jodoh-jodohin aku sama orang gak jelas kaya gini, batin Mia. *** Satu Minggu sudah berlalu sejak kedatangan Bima Sabtu kemarin. Pria berwajah jenaka itu belum pernah datang lagi ke rumah sejak acara kenalan pertama kali mereka berdua waktu itu. Mia juga memilih tidak peduli. Akhir-akhir ini gadis itu lebih gencar mencari pekerjaan agar bapak dan ibunya tidak jadi menikahkannya dengan Bima. "Ahk! Tolong …." Mia berlari sekuat tenaga tanpa mengenakan alaskan kaki. Keluar dari gedung tua mengerikan yang tembok luarnya nyaris diselimuti lumut. Tubuhnya terhuyung-huyung dengan tali bra melorot hingga turun ke bagian lengan. "Tolong!" Bugh! Sebuah d**a keras milik pria asing menghantam kepala Mia hingga tubuhnya nyaris terpental. Tanpa sadar gadis itu mencengkeram kaos milik pria itu sekuat tenaga lantaran tidak ada satu pun orang yang lewat lagi. "Tolong saya, Pak! Saya mau diperkosa sama orang jahat! Tolong Pak, tolong!" "Mia!" Eh, kok dia tau nama aku? "Kamu Mia, 'Kan?" Membuat gadis itu mundur dan menatap sepasang d**a yang terbalut kaos bertuliskan 'MY BONTENG IS ORIGINAL'. Mia mendongak setelahnya. "Kamu?" Pria asing bernama Bima itu muncul layaknya pangeran kuda putih yang menyelamatkan kehormatannya. Gadis itu membeku, otaknya setengah tidak percaya dengan pemandangan yang terjadi di depan mata. "Neng Mia kenapa bisa ada di tempat seperti ini?" Bukannya menjawab, gadis itu terisak seraya menutupi kemeja yang dua kancingnya sudah terbuka dengan tangannya. "Astagfirulahallazim! Ayo ikut ke mobil dulu." Bima yang baru tersadar merengkuh dua bahu bergetar gadis itu. Lantas membawanya ke dalam mobil box yang biasa dipakai untuk mengantarkan pasokan s**u sapi dari peternakan tempat kerjanya. Bima menjulurkan tangannya ke dalam dashboard untuk meraih sarung bau yang sudah lima minggu tidak dicuci. Sarung yang biasa Bima pakai untuk selimut tidur saat harus mengantar pasokan s**u sapi ke luar kota. Bima mengalungkan benda itu ke tubuh Mia untuk menutupi kemeja yang terkoyak-koyak. "Kamu sini dulu, aku mau masuk ke panti pijat itu untuk membuat perhitungan!" "Jangan, Mas! Kamu nggak boleh ke sana!" "Kenapa,?" "Pokoknya jangan!" teriaknya memelas. Mia melihat orang yang hendak memperkosanya tadi keluar dari gedung tua itu. "Mas, ayo jalan Mas! Orang yang nyariin udah keluar! " "Ya bagus kalau keluar!" Kepala Bima menoleh keluar jendela mobil. "Biar aku bisa hajar b*****t itu sampai sekarat!" Bima yang tampak emosi sekali sudah mendorong pintu dengan sigap. Segera Mia menarik lengan pria itu sekuat tenaga. "Jangan Mas, tolong … lebih baik kita pergi saja, nanti aku ceritain!" "Tapi dia—" "Aku belum diapa-apain sama dia, Mas! Sumpah Demi Allah!" potong gadis cepat. Melihat Bima enggan menjalankan mobilnya, Mia segera memutar kunci mobil itu secara asal. Membuat Bima terperanjat dengan aksi nekat gadis itu. "Ayo jalan Mas! Kali ini aja tolongin aku!" "Tapi beneran ya, kamu nggak diapa-apain sama dia?" "Engga Mas! Aku masih perawan! Kalo Mas mau bantu aku, nanti aku akan kasih buktinya saat itu juga. Yang penting kita jalan dulu!"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
194.2K
bc

TERNODA

read
202.0K
bc

Kali kedua

read
222.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.5K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
7.8K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook