Jodoh Gak Ke Mana

1417 Kata
Bima tertegun menelan saliva. Tanpa sadar, tangan dan kakinya mulai mengarahkan mobil yang terparkir di depan toko swalayan itu ke jalan raya. Pria itu sedikit melirik gedung maksiat tua bertuliskan; pijat dan relaksasi. Tempat di mana Mia keluar dan tak sengaja menabrak dirinya saat hendak masuk ke toko swalayan untuk membeli minuman dingin. Sekitar dua puluh menit kemudian, Bima menghentikan mobil box-nya di tepi jalan dekat taman yang ia rasa sudah cukup aman. Tangan pria itu mulai gemetar. Bima menoleh pada Mia yang tengah menunduk seraya mencengkeram sarung bau miliknya erat sekali. "Anu Neng Mia!" Panggil pria itu gugup. "Panggil Mia aja," jawabnya. "Makasih sudah mau nolongin aku, Mas! Kalau nggak ada kamu, mungkin aku sudah habis sama dia! "Iya, Mia! Sama-sama. Oh ya—" Setengah jiwa Bima terasa sangat membuncah. Tangannya menggaruk belakang kepala yang tak gatal sama sekali. "Ngomong-ngomong soal bukti yang kamu janjiin tadi, sebenarnya aku belum siap menerimanya, Mi. Aku takut kena azab! Tapi kalau ciuman dulu nggak apa sih, melanggar dikit aku berani," lanjutnya. Ia merasa apa yang akan diberikan Mia tidak setimpal dengan bantuannya yang tidak seberapa itu. . "Maksud Mas apa, ya? Ngapain tiba-tiba ngomongin ciuman?" Gadis itu mengernyitkan alis tidak paham. "Bukannya tadi kamu bilang mau buktiin kalo kamu masih perawan? Gara-gara kamu bilang gitu, sumber daya manusiaku langsung tegang semua! Takut bercampur pengin!" S ekujur tubuh Bima bahkan masih terasa bergetar saat mengucapkan itu. Darahnya mengalir deras hingga terasa mendidih di puncak ubun-ubun. "Maksud aku gimana kalo kita ciuman dulu, kalo langsung anu-anu terus terang aku nggak mampu! Aku takut dosa, kalau ciuman mungkin dosanya dikit," lirihnya di akhir kalimat. "Astagfirulahallazim, Mas!" Mia memekik sekuat tenaga. "Jadi itu yang kamu pikirin? Aku memang bilang mau membuktikan kalo aku masih perawan, tapi nggak gitu juga konsepnya!" Bima lantas mengulum senyumnya malu. "Terus gimana atuh, Mi? Kalo liat aja tanpa ngerasain mana aku tahu masih perawan atau enggaknya, aku 'kan bukan dokter!" Sorot mata Mia memandang Bima dengan muka sebal penuh kebencian. Tapi ia tidak bisa menyalahkan pria itu karena kalimat yang ia ucapkan tadi memang terkesan ambigu. Wajar jika otak hentai Bima bekerja semaksimal itu. "Aku mau buktiin ke Mas pakai ini!" Mia mengeluarkan ponsel mewah dari saku celananya. "Tadi pas aku masuk ke gedung itu, ada orang khusus yang ngerekam aku lewat hape ini. Kupikir kerjanya hanya pijat badan biasa, tapi pas aku dibawa ke dalem, ternyata aku diajakin praktik m***m bareng wanita-wanita seksi yang ada di situ. Aku gak suka, aku gak terima, aku langsung ngamuk sampai aku rebut hape itu dari tangan yang ngerekam. Aku dipegangin sama cewek-cewek itu sampe kancing bajuku pada copot! Bajuku robek! Sepatuku lepas! Tasku ketinggalan!" "Jadi itu punya si bangcat itu?" "Iya, ini punya dia! Nanti aku mau jual buat ongkos pulang." "Walaah!" Bima mendesahkan napasnya malu. "Kamu bikin otak aku keliling kecamatan aja! Mana Videonya? Aku mau lihat, Mi!" Gadis itu menyodorkan ponselnya ke tangan Bima. Bima menerimanya dengan sedikit melirik pipi mulus Mia yang aduhai. Ada ratusan video yang sudah bisa Bima tebak isinya apa saat membuka galeri tersebut. Ia hanya terfokus pada video terbaru yang menampilkan sosok Mia tengah berjalan ke dalam sebuah ruangan. Tempat itu sangat mewah, jauh sekali dengan penampilan depannya yang burik dan lumutan. Ternyata, video berdurasi 4 menit 15 detik itu sangat kacau. Bima sampai menggeleng berkali-kali melihat gadis kecil itu berani melawan banyak orang dengan tubuh kecilnya. Dan saat Bima menoleh, gadis itu sudah berderai air mata dengan wajah tertunduk. "Mas, tolong jangan kasih tahu ibu bapak aku soal kejadian ini, ya. Mereka pasti bakalan marahin aku kalau sampai tahu aku begini." Bima memandang gadis itu penuh iba. Ingin memeluk untuk menenangkan, tapi Malaikat baik berkata jangan. Ia tidak berani meski setan berkata ‘ayo lakukan’. "Tenang aja! Aku nggak akan bilang ke siapa pun. Lain kali hati-hati ya. Di daerah sini emang banyak tempat aneh-aneh gitu. Aku aja kaget liat kamu nyari kerjaan sampai sejauh ini." "Makasih, Mas! Tadinya aku pikir ini kerjaan halal. Dapet loker dari f*******:, makannya aku samperin. Kirain cuma dijadiin terapis biasa, ternyata tempat pijatnya yang kayak gitu!" "Ya udah, nggak usah dipikirin, nggak usah nangis juga, yang penting kamu udah aman sama aku! Oh ya, hapenya dibuang aja ya, takutnya dibeli pakai uang haram." Tanpa basa-basi Bima langsung membuang ponsel itu ke selokan lewat jendela mobil. "Yah, Mas! Tapi tas sama uangku ketinggalan di sana. Kalau hapenya kamu buang, aku gantiinya gimana? Ibu bisa curiga kalau pulang dalam keadaan seperti ini." Seulas senyum menghiasi wajah Bima yang manis. "Nanti aku beliin tas, baju, sama sandal biar orang tua kamu nggak curiga. Uangnya juga aku ganti. Kamu tenang aja!" "Tapi—" "Udah gak usah sungkan! Aku 'kan memang lagi usaha dapetin kamu," sela Bima blak-blakan. Gadis itu mulai berhenti menangis mendengar kalimat Bima yang terucap dengan tutur jenaka. Tangannya perlahan turun ke pangkuan, meremas jari-jemari yang saling bertaut. "Memangnya kamu beneran mau serius sama aku ya, Mas?" "Iyalah! Ngapain aku nekat ke rumah kamu kalau hanya main-main?" "Alasannya apa? Kita belum kenal satu sama lain loh, Mas!" "Panggilnya Mas Bima aja. Dari tadi ngomongnya mas mas mulu, berasa tukang ojek aku!" selorohnya tak suka. "Aku serius suka sama kamu dari satu tahun yang lalu. Setiap kamu pulang dan berangkat sekolah, aku sering ngintipin kamu diam-diam gitu. Awalnya sih cuma penasaran liat gadis cantik selalu pulang pergi sendirian, lama-lama aku jadi suka!" tukas Bima. Dari pada dia berfantasi liar atau membayangkan yang aneh-aneh, Bima lebih suka datang langsung menemui orang tuanya. Syukur mendapatkan hasil baik, kalau tidak artinya belum rejeki. Toh jodoh tidak akan tertukar ini. "Udah lama juga ya, sukanya!" Kini Mia memberanikan diri memandang Bima. Sarung bau itu masih terjaga membalut tubuh sepenuhnya. "Aku memang nggak punya banyak temen. Lebih suka sendiri juga!" "Ya lama Mi, makannya aku ke rumahmu daripada deketin di luar. Bahaya! Eh, tapi aku aneh, biasanya gadis cantik selalu populer di sekolah. Apalagi anak SMA, pasti dikerubuti temen-temen cewek!" "Mungkin mereka nggak suka aku!" "Nggak suka kenapa?" Bima mengernyit. Mencoba memasuki ruang hati Mia untuk sedikit mendapat tempat. Setidaknya menjadi teman dulu. Dan benar saja, gadis itu mulai membuka hati untuk bercerita. "Banyak cowok-cowok deketin aku di sekolah, bahkan ada yang udah punya pacar, tapi masih suka genit sama aku, terus temen perempuanku jadi pada nggak suka gitu sama aku." "Wah, ngeri juga ya, anak SMA! Untung kamu udah lulus Mi." Gadis itu mengangguk dengan senyum tipis. "Gara-gara kamu ngomong gitu, tiba-tiba aku jadi nggak percaya diri nih! Ternyata aku punya banyak saingan kalau mau deketin kamu." "Nggak ada kok! Mas Bima nggak punya saingan." Gadis itu menggelengkan kepalanya, yakin. Membuat otak Bima berputar keras mencerna omongannya. Belum sempat Bima bertanya, Mia bertanya kembali. "Semisal aku mau menikah dengan Mas Bima, tapi minta uang maharnya sepuluh juta, mas Bima masih mau nikah sama aku nggak?" Sontak pria itu tercekat. Jantungnya berdentam hebat dengan bola mata penuh setengah membulat. Melihat Bima seperti itu membuat Mia melempar tatapan tidak enak hati. "Nggak mau ya, Mas? Maaf banget ya, bukannya maksud matre sama kamu! Sebenarnya aku udah nyerah nyari kerjaan di tengah pandemi korona gini. Rasanya pengin nikah aja, tapi aku pengin ngasih sedikit bantuan ke orang tua buat meringankan cicilan utang keluarga. Mas Bima tahulah, aku baru tamat SMA. Belum bisa bales budi kebaikan orang tua secuil pun!" Setelah Mia selesai bicara, Bima masih tampak tidak bergeming. "Mas!" Mia memanggil ketika melihat pria itu terbengong-bengong seperti tidak sedang menjejak pada bumi. "Mas Bima nggak mau, ya?" ulangnya sekali lagi. Pria itu terlonjak saat tepukan Mia mendarat pelan di bahunya. "Mau Mi … Mau banget!" "Eh, seriusan? Memangnya Mas Bima nggak keberatan? Sepuluh juta, loh!" "Engga sama sekali!" Wajahnya serius saat mantap. "Bahkan ibu kamu sudah minta mahar dua puluh juta, dan Mas Bima sanggup!" "Hah?" Sekarang giliran gadis itu yang melongo tidak percaya. "Serius ibu ngomong, gitu?" "Iya, tapi aku nggak keberatan. Dua puluh juta nggak seberapa, aku mau kasih mahar yang layak, dan pastinya tidak memberatkan aku secara pribadi karena uangnya sudah ada." Ibu ya, ampun …. malu-maluin aku banget! Entah disebut definisi apa. Di saat Mia sudah merasa menjadi gadis paling matre. Ibunya jauh lebih keterlaluan. "Jadi kamu beneran mau nikah sama aku, Mi?" Memastikan sekali lagi, kini wajah pria itu berbinar penuh kebahagiaan. "Iya mau, Mas! Tapi kita penyesuaian dulu ya. Mia mau mengenal Mas Bima sedikit sebelum menikah." "Masya Allah, gaskeunlah!" Bima meng-Aminkan semuanya dalam hati. Berkali-kali ia bersyukur. Memang segala usaha yang diniati dengan baik, pasti akan menghasilankan sesuatu yang baik juga. Dan kisah mereka pun dimulai ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN