Beberapa pekan berlalu.
Berbalut baju kebanggaan yang dihiasi manik-manik mutiara palsu, Miafa duduk sendiri di dalam kamar pengantin yang keseluruhan desainnya tampak biasa-biasa saja.
Matanya mengindahkan seluruh ruangan, menatapi setiap jengkal dekorasi itu dengan pikiran yang melayang tak karuan.
Siang tadi, Bima dan Mia resmi menjadi sepasang suami istri. Dengan mas kawin seperangkat skin care Ms, Glow dan uang tunai senilai dua puluh juta, Bima telah mengucapkan janji sucinya kepada Sang Pencipta di hadapan semua hadirin yang datang.
Setelah saling mengenal lebih dekat, ternyata Bima adalah seorang anak yatim piatu mapan dan tentunya memiliki paras cukup tampan. Itu sebabnya Mia mau menikah dengan Bima walau tanpa cinta.
Dengan bekal penerapan protokol kesehatan dan sosial distancing, acara pernikahan sederhana Mia dan Bima berakhir lancar tanpa adanya hambatan. Menutup kisah bahagia dan melanjutkannya pada acara malam mendebarkan yang akan segera berlangsung yaitu anu anu di kasur.
"Aku harus ngomong apa ya, nanti?"
Mulai bermonolog dengan diri sendiri, gadis lugu berusia sembilan belas tahun itu meremas jemarinya sedikit cemas. Pikirannya dipenuhi dengan perkataan orang-orang yang menggodanya tadi siang. Membuat Mia merasa ngeri dengan candaan manusia busuk tak bertanggung jawab itu.
‘Siap-siap menjerit ya, Mia!’
'Menjerit-jerit, tapi enak loh Mi!'
Begitulah salah seorang menggoda Mia sambil kedip-kedip mata. Kode alam yang Mia sendiri tidak tahu artinya apa.
‘Asik euy, akhirnya pisang ambon Mas Bima sold out,’ teriak salah seorang Lagi. Bahkan menggunakan mix penyanyi dangdut sampai beberapa hadirin yang mendengar ucapannya tergelak bersamaan.
Mia yang tidak paham perkode-an aneh orang dewasa memilih diam, bersembunyi di balik rasa malu dan pura-pura tidak tahu.
Menjelang malam, ternyata ketakutan Mia semakin mendarah daging. Ia terus memikirkan ucapan teman-teman Bima saat menghadiri resepsi pernikahan mereka tadi siang.
Ia penasaran, apa yang dimaksud dengan pisang dan menjerit. Apakah Bima akan bersikap kasar sampai ia menjerit ketakutan?
Atau jangan ....
Ah, entahlah! Ia juga bingung harus bersikap bagaimana saat menghadapi suaminya nanti. Apalagi pernikahan mereka tidak melalui proses jatuh cinta dulu seperti kebanyakan pasangan lain. Keduanya sama-sama mau menikah secara sukarela.
Bima bersedia menikahi Mia karena ia butuh pendamping agar hidupnya lebih terurus, dan ia menetapkan Mia sebagai tambatan hati dan kandidat paling tepat.
Sementara Mia, ia mau menikah dengan Bima karena pria itu baik dan rajin bekerja. Sudah punya motor dan rumah sendiri pula.
Kurang apalagi? Daripada jadi pengangguran yang menambah beban hidup keluarga, lebih baik Mia menikah dengan Bima. Dapat gaji dan tentunya tidak bobok sendiri lagi.
Di tengah-tengah suasana kebingungan, tiba-tiba Mia dikejutkan oleh suara pintu terbuka hingga ia menoleh dan terperangah.
"Astaga, Mas Bima!"
Pintu terbuka, suami Mia baru saja selesai membersihkan tubuhnya dari kamar mandi. Perjaka ting-ting yang baru menginjak usia dua puluh lima tahun itu hanya mengenakan handuk yang membalut pinggang, sementara bagian atasnya dibiarkan terbuka dan menodai mata suci Miafa.
Aroma sampo sachet-an menguar pekat begitu Bima mendekati gadis itu. Menggelitik bulu-bulu hidung yang masih normal dalam soal penciuman. Pria itu ikut duduk, terpaku menatapi sang istri yang menutupi wajahnya malu-malu.
"Kenapa, Mi? Tidak perlu grogi seperti itu. Sebentar lagi kita akan—"
"Mass!" Teriakkan Mia yang sedikit keras membuat Bima menghentikan ucapannya secara terpaksa. Gadis lugu itu mengintip dari balik tangannya.
"Mas Bima pakai baju dulu dong, aku belum terbiasa melihat yang seperti itu," sela Mia sambil memalingkan wajahnya ke mana pun. Asal tidak melihat tumpukan roti sobek yang membuat air liurnya menetes seperti bayi kelaparan yang belum genap enam bulan. Mau makan seblak tapi tidak bisa, begitulah kira-kira isi hati si bayi.
Bima tersenyum geli mendapati tingkah istrinya yang malu padahal penasaran ingin melihat.
"Ya sudah, aku pakai baju dulu ya, Mi!"
Pria itu berjalan ke arah lemari kayu di pojok kamar. Tangannya cekatan mengambil satu set pakaian kebanggaannya.
Bima memakai kaos partai bergambar wajah presiden yang sudah usang dan sarung motif kotak-kotak sebagai penutup bawahannya. Tidak ada kostum istimewa yang bisa Bima kenakan di malam pertama, ia tidak punya piama, hanya orang kampung biasa.
"Kamu nggak mau mandi, Mi? Emangnya nggak gerah abis nikahan langsung tidur gitu?" Pria itu berjalan kembali ke tempat Mia duduk.
Gadis itu menggeleng. "Enggak usah, Mas. Aku Nggak terbiasa mandi malam. Badanku juga sakit-sakit semua karena keberatan baju dan siger. Malam ini mau langsung tidur aja kalau bisa."
"Hah?" Bima menohok. Matanya serasa ditusuk paku transparan. Keterkejutan macam apa ini, batin Bima dalam hati.
"Kenapa, Mas?" tanya Mia dengan lugunya. Matanya yang bebinar polos menandakan bahwa gadis itu benar-benar tidak peka dengan yang Bima inginkan.
Ko malah tanya kenapa, aku ‘kan mau icikiwir dulu, batin Bima cengo.
Ia sedikit meringis. "Gak papa sih, kalau nggak biasa mandi malam nggak usah, nanti takutnya malah tambah sakit."
"Iya Mas, nanti kalau aku udah tidur jangan bangunin aku ya." Kode konfirmasi penolakan yang kedua kalinya melayang dari bibir Mia.
Perkataan gadis itu membuat Bima tambah melongo dipenuhi harapan adegan ranjang palsu.
Bonteng Cihuy yang sedari tadi bersiap-siap melepas pelurunya langsung luntur dan pingsan dadakan.
Kok mau langsung tidur sih? Hati Bima semakin jengkel.
Sepertinya malam ini bukan rejekiku ya. Mungkin anak perawan yang masih orisinal memang begini. Kamu harus sabar, Bim.
Lalu ia menjawab, "Ya sudah, ganti baju terus tidur. Aku mau ke depan dulu nemuin bapak dan ibu kamu di ruang tamu."
Pria jangkung bertubuh kekar itu keluar kamar demi menjaga Bonteng Cihuy peliharaannya agar tidak bertindak paksa pada gadis yang belum siap melaksanakan adegan icikiwir bersamanya.
Barangkali tengah malam berubah pikiran, siapa tahu 'kan?
Sambil mengacak-acak rambutnya, Bima berjalan ke belakang dan mengambil sesuatu dari lemari kaca yang terletak di ruang tengah.
"Ini teh serius Bonteng Cihuy gak boleh parkir di terminal kue apem? Terus mau ngetem di mana? Masa iya kamar mandi," gumam Bima frutrasi sendiri.
Pria itu kembali teringat akan hal itu. Pasti rasanya sangat tersiksa, bisa tidur dengan Mia tapi tidak bisa menyentuhnya. Bahkan baru membayangkannya saja sudah membuat anunya jadi tegang.
"Nak Bim!" Suara Ibu dari ruang tamu membuat Bima tersadar dari lamunan kasarnya.
"Sabodo teunglah! Nanti kalau gak mau paksa aja. Toh Mia adalah istriku!" Bima berjalan menuju ruang tamu untuk mengobrol dengan kedua orang tua Mia yang sejak tadi menunggu di sana.